BERITA TERKINI
DPRD Jateng Dorong Kolaborasi Rebana dan Musik Modern agar Tetap Diminati Generasi Muda

DPRD Jateng Dorong Kolaborasi Rebana dan Musik Modern agar Tetap Diminati Generasi Muda

Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi PKB, Sumarwati, mendorong kolaborasi seni rebana dengan musik modern sebagai upaya pelestarian seni tradisional agar tetap relevan di tengah perubahan selera generasi muda.

Gagasan tersebut disampaikan dalam talkshow media tradisional yang digelar bertepatan dengan peringatan Harlah ke-80 Muslimat NU, halalbihalal, dan Hari Kartini di Aula Gedung PCNU Kabupaten Pekalongan, Sabtu, 18 April 2026. Forum itu disebut menjadi ruang strategis untuk membahas peran budaya dalam mendukung kebijakan publik berbasis kearifan lokal.

Menurut Sumarwati, rebana tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya dan religiositas masyarakat, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama. Karena itu, ia menilai pelestarian rebana tidak cukup dilakukan secara seremonial, melainkan perlu adaptif mengikuti perkembangan zaman.

Ia juga menyebut kegiatan tersebut disinergikan dengan momentum harlah Muslimat NU dan halalbihalal, sekaligus sebagai upaya peningkatan kualitas kebijakan publik melalui media tradisional.

Sumarwati menyoroti kekuatan Muslimat NU di Kabupaten Pekalongan yang dinilai memiliki jaringan akar rumput luas. Ia menyebut terdapat sekitar 330 ranting yang tersebar di 19 kecamatan. Jaringan ini, menurutnya, turut menjadi penggerak tradisi, termasuk rebana yang rutin ditampilkan dalam pertemuan organisasi.

“Setiap kali ada pertemuan, mereka selalu tampil dengan rebananya. Ini sudah menjadi tradisi yang harus kita rawat dan kembangkan,” kata Sumarwati.

Namun, ia menilai arus modernisasi menghadirkan tantangan dalam hal regenerasi minat. Tanpa inovasi, rebana berpotensi ditinggalkan generasi muda. Karena itu, ia mendorong langkah konkret berupa kolaborasi rebana dengan alat musik modern yang digemari anak muda, tanpa menghilangkan nilai religius yang melekat.

Selain itu, ia menyampaikan rencana menggelar lomba rebana antar PAC sebagai bentuk penguatan. Agenda tersebut diharapkan dapat memicu kreativitas sekaligus memperluas ruang ekspresi bagi pelaku seni di tingkat lokal.

Di sisi lain, Sumarwati mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dinilai konsisten menjaga keberlanjutan budaya tradisional melalui berbagai kebijakan. Meski demikian, ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, termasuk komunitas dan generasi muda, agar upaya pelestarian berjalan efektif.

Tingginya animo peserta talkshow, menurutnya, menjadi sinyal bahwa isu pelestarian rebana mendapat perhatian besar. Diskusi berlangsung dinamis hingga waktu yang tersedia tidak mampu menampung seluruh pertanyaan peserta.

Sejalan dengan itu, Dosen UIN KH Abdurrahman Wahid, Siti Qomariyah, menilai forum semacam ini perlu digelar berkelanjutan dengan menghadirkan narasumber yang beragam agar perspektif masyarakat semakin kaya. Ia menegaskan pelestarian rebana bukan sekadar menjaga tradisi, melainkan memastikan warisan budaya tetap hidup dan dicintai lintas generasi.

“Seni rebana jangan sampai hilang. Justru harus kita tanamkan agar menjadi warisan generasi muda dan semakin dicintai,” ujar Siti Qomariyah.