BERITA TERKINI
Direktur Musik Konser “Youth” Cerita Proses Kreatif: Utamakan Kedekatan, Bukan Kemewahan

Direktur Musik Konser “Youth” Cerita Proses Kreatif: Utamakan Kedekatan, Bukan Kemewahan

Direktur Musik konser “Youth”, Nguyễn Hoàng Anh Minh, mengungkapkan bahwa prinsip utama yang ia pegang bersama tim sejak awal adalah tidak memaksakan pertunjukan menjadi terlalu mewah. Bagi mereka, tujuan terpenting adalah menghadirkan konser yang membuat penonton merasa berada di tengah-tengah pengalaman itu.

Beberapa hari setelah konser usai dan aktivitas berangsur kembali normal, Minh mengatakan momen pertama yang terlintas dalam benaknya bukanlah perasaan “berhasil”, melainkan kelegaan sederhana: akhirnya bisa tidur. Di balik candaan itu, ia menyebut ada berbulan-bulan masa persiapan ketika seluruh tim nyaris tidak memiliki hari libur.

Minh menggambarkan emosi yang ia rasakan setelah acara sebagai campuran bangga, syukur, dan terharu. Ia bangga karena tim menuntaskan tanggung jawab setelah menerima kepercayaan penuh dari penyelenggara konser “Pemuda”. Ia juga bersyukur kepada para kolaborator yang bekerja intens sambil menjaga semangat positif. Sementara rasa terharu muncul karena, pada beberapa bagian pertunjukan, ia mengaku sempat lupa perannya sebagai Direktur Musik dan merasa seperti kembali menjadi anak muda bersama puluhan ribu penonton.

Menurut Minh, pekerjaan menyusun konser tidak dimulai dari daftar lagu atau artis. Pertanyaan pertama yang ia ajukan bersama tim adalah: apa yang dimaksud dengan “kaum muda” hari ini. Ia menilai tidak ada jawaban tunggal, karena pengalaman masa muda seseorang di usia dua puluhan tidak sama dengan mereka yang sudah melewati fase itu bertahun-tahun. Karena itu, musik yang dipilih harus cukup luas agar setiap penonton dapat menemukan bagian dari kenangan atau masa kini mereka sendiri.

Dari gagasan tersebut, tim menyepakati satu prinsip: tidak mengejar kesan spektakuler, melainkan membangun kedekatan. Minh menyebut rangkaian program selama hampir dua jam disusun bukan sebagai deretan penampilan yang berdiri sendiri, tetapi sebagai alur yang saling menyambung. Setiap lagu ditempatkan untuk melanjutkan cerita sebelumnya, sementara tiap penampil menambahkan kepingan emosi agar penonton dipandu dari suasana gembira, menuju refleksi yang tenang, lalu kembali meledak dalam nyanyian bersama.

Ia mengaku dapat menilai struktur program berhasil ketika respons penonton—tertawa, ikut bernyanyi, terdiam, lalu kembali bersorak—muncul sesuai yang diharapkan. Salah satu pujian yang diterimanya adalah kemampuan konser menghubungkan nilai tradisional dengan semangat generasi masa kini. Namun, Minh menyebut aspek ini juga menjadi tantangan tersulit.

Menurutnya, tantangan utama bukan menciptakan aransemen baru, melainkan menjaga agar lagu-lagu yang telah beresonansi lintas generasi tetap mempertahankan semangat aslinya, sambil tetap relevan dan menarik bagi penonton muda. Ia menegaskan tim tidak ingin penonton muda merasa sedang “dididik” tentang sejarah musik. Targetnya, penonton bisa jatuh cinta secara alami karena lagu-lagu tersebut dinilai cukup bagus, indah, dan mudah dipahami.

Minh juga menilai tradisi dan modernitas tidak perlu dipertentangkan. Yang penting, kata dia, adalah menceritakan kisah lama dengan bahasa masa kini. Ia menyebut beruntung memiliki tim yang sudah lama bekerja bersama sehingga saling memahami, menghindari perdebatan berlebihan, namun tetap menemukan titik temu dalam setiap pengaturan dan penampilan.

Ia menceritakan, selama proses persiapan, penyelenggara sempat merasa cemas karena tim produksi cenderung “pendiam”. Minh mengatakan gaya komunikasi timnya adalah bekerja keras tanpa banyak janji, lalu membiarkan hasil berbicara. Setelah konser, baginya, senyum yang saling terlempar di antara semua pihak menjadi jawaban yang cukup.

Kesuksesan konser juga memunculkan harapan dari penonton agar “Youth” dapat menjadi merek musik tahunan. Menanggapi hal itu, Minh menekankan bahwa yang paling penting bukan panggung yang lebih besar, teknologi yang lebih modern, atau perubahan tren musik. Menurutnya, hal yang harus dipertahankan adalah alasan mengapa pertunjukan itu dibuat.

Minh menyebut masa muda milik mereka yang sedang menjalaninya maupun yang telah melewatinya. Ia menilai, jika pada musim-musim berikutnya penonton tetap merasakan seolah kembali ke bagian terindah dalam hidup mereka saat memasuki konser, maka pertunjukan akan terus memiliki vitalitas.

Di akhir, ia menegaskan nilai terbesar dari konser yang dihadiri lebih dari 20.000 orang itu bukan terletak pada angka-angka atau pujian yang sifatnya sementara, melainkan pada rasa bahwa ia dan tim telah menciptakan program yang dapat dibanggakan banyak orang. Baginya, keberhasilan terbesar seorang musisi adalah ketika beberapa tahun kemudian masih ada yang mengingat dan berkata, “Itu adalah malam yang indah di Thanh Xuan.”

Nguyễn Hoàng Anh Minh memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun sebagai musisi, pengarah musik, dan penata musik. Ia bekerja di Departemen Produksi Program Hiburan VTV3, serta menjadi dosen dan pendiri Sekolah Musik StarLab. Ia juga memproduseri musik untuk sejumlah artis dan menjadi pengarah musik berbagai program televisi, serta terlibat dalam sejumlah program seni berskala nasional.