BERITA TERKINI
Deretan Rilisan Baru: RINNI, Seringai, Elephant Kind, hingga Strange Fruit Hadirkan Fase Musik Terbaru

Deretan Rilisan Baru: RINNI, Seringai, Elephant Kind, hingga Strange Fruit Hadirkan Fase Musik Terbaru

Sejumlah musisi dari berbagai spektrum genre merilis karya terbaru yang menandai fase baru dalam perjalanan bermusik mereka. Mulai dari EP bernuansa R&B modern milik RINNI, album penuh terbaru Seringai, eksplorasi lintas-genre Elephant Kind, hingga EP eksperimental Strange Fruit, masing-masing menawarkan arah artistik yang berbeda namun sama-sama berangkat dari proses personal dan pencarian bentuk.

RINNI resmi merilis EP terbarunya bertajuk Superstar di bawah label Gunfingerz. Album mini ini merangkum perjalanan personal tentang mengenali diri, menetapkan batasan, hingga berani memilih diri sendiri. Terdiri dari empat lagu dengan warna R&B modern yang konsisten, EP ini memuat “Superstar Energy”, “I Don’t Wanna Fall In Love With You”, “Satellites”, dan “Mulai”.

“Superstar Energy” dipilih sebagai focus track dan diposisikan sebagai afirmasi kepercayaan diri. Lagu ini digarap bersama Jevin Julian, Teza Sumendra, dan Annisya, dengan pesan tentang keberanian untuk tetap autentik tanpa harus mengecilkan diri demi orang lain. Sementara itu, “Satellites” menjadi salah satu sorotan lain lewat pendekatan yang lebih intim dan reflektif. Lagu tersebut ditulis sebagai penghormatan untuk orang-orang terdekat dan komunitas yang terus mendukung RINNI, sekaligus menggambarkan relasi timbal balik antara musisi dan lingkaran terdekat, terutama saat berada di titik paling rapuh dalam perjalanan karier. Seluruh proses produksi EP dilakukan secara intensif di SURE Studio, dengan Jevin Julian sebagai produser sekaligus arranger yang membentuk arah musikalnya.

Dari ranah musik keras, band heavy metal Seringai merilis album penuh keempat berjudul IV: Anastasis secara digital pada 16 April 2026, disusul versi fisik pada 23 April 2026. Album ini berisi 12 lagu yang mempertahankan karakter agresif, memadukan elemen metal, rock, hingga hardcore, dengan eksplorasi yang disebut lebih berani.

Secara lirik, IV: Anastasis menghadirkan emosi yang lebih intens, memuat kemarahan sekaligus refleksi terhadap situasi sosial dan politik saat ini. Album ini juga menjadi karya pertama setelah kepergian gitaris Ricky Siahaan yang meninggal pada 2025. Meski demikian, jejak musikalnya disebut masih terasa kuat, mulai dari penggunaan instrumen hingga karakter riff yang dipertahankan dalam proses produksi yang dipimpin Sammy Bramantyo. Dalam proses rekaman, Seringai melibatkan gitaris Angga Kusuma, serta menghadirkan formasi live terbaru bersama Darma Respati. Beberapa lagu seperti “Sejati” dan “Senarai Feses” telah lebih dulu dirilis sebagai penanda kembalinya mereka ke skena musik keras. Secara keseluruhan, album ini diposisikan sebagai fase baru bagi Seringai dengan pendekatan yang lebih gelap, emosional, dan tetap menghantam.

Sementara itu, trio pop-alternatif Elephant Kind merilis album ketiga berjudul More Time lewat Alcopop! Records. Album ini disebut menjadi salah satu karya mereka yang paling personal sekaligus ekspansif, mengangkat tema transformasi, kerinduan, hingga pencarian makna di tengah dunia yang bergerak cepat. Pengerjaan album berlangsung dalam rentang 2023 hingga 2025, lahir dari fase perubahan besar dalam perjalanan mereka.

Proses penulisan dilakukan di antara dinamika Jakarta dan suasana reflektif di London, menghasilkan karya yang disebut lebih matang dan terarah. Dalam proyek ini, Elephant Kind juga terlibat langsung sebagai produser, mempertegas perkembangan mereka sebagai unit yang semakin solid. Single utama “More Time” menjadi sorotan dengan nuansa late-night yang hipnotis, memadukan vokal berlapis reverb dan lirik introspektif. Secara musikal, album bergerak melintasi berbagai genre—dari hip-hop, house, rock, hingga elemen dance—tanpa meninggalkan akar alternatif. Album ini diproduseri oleh Bam Mastro bersama Iain Berryman, melalui proses mixing oleh Adam Stevenson dan mastering di Abbey Road Studios.

Dari jalur eksperimental, Strange Fruit memperkenalkan EP Drips sebagai titik temu dari eksplorasi musik mereka selama lebih dari satu dekade. Alih-alih diposisikan sebagai simbol kebangkitan, EP ini digambarkan sebagai fase ketika mereka menemukan formula yang menyatukan berbagai eksperimen sonik sejak EP Dolphin Leap (2015). Dalam empat komposisi, Strange Fruit meramu elemen noise pop, krautrock, shoegaze, hingga electronic leftfield menjadi karya yang terdengar tidak konvensional.

Pendekatan tersebut diperkuat lewat penggunaan instrumen elektronik dan analog secara bersamaan, terutama pada ritme yang digerakkan drum machine dan synthesizer, membentuk lanskap suara yang luas dan imersif. Single utama “Iridescent” disebut mewakili arah musikal EP ini, dengan beat minimalis yang perlahan membangun atmosfer hipnotik. Perpaduan bass yang dalam, gitar atmosferik, serta lapisan synthesizer menghadirkan nuansa kosmik yang reflektif sekaligus emosional, sementara vokal Baldi Calvianca digambarkan mengalir di antara dimensi. Secara konsep, “Iridescent” dimaknai sebagai pertemuan berbagai spektrum warna, menjadi simbol pencarian cahaya di tengah kegelapan. Produksi EP ini turut melibatkan Bernardus Fritz yang membantu mengembangkan struktur lagu hingga menghasilkan komposisi elektronik yang lebih matang.

Keempat rilisan tersebut memperlihatkan ragam cara musisi memaknai perubahan—baik melalui penguatan identitas, respons emosional terhadap situasi sekitar, maupun eksplorasi sonik yang kian berani—dalam format EP maupun album penuh.