BERITA TERKINI
Cakatinding dan Labuan Bajo: Ketika Pariwisata Mencari Jiwa dari Bambu Manggarai

Cakatinding dan Labuan Bajo: Ketika Pariwisata Mencari Jiwa dari Bambu Manggarai

Nama Cakatinding mendadak ramai dicari. Di tengah percakapan tentang Labuan Bajo, publik menemukan kabar lain yang terasa lebih sunyi, namun menyentuh: upaya menjadikan musik bambu itu ikon budaya NTT.

Tren ini bukan sekadar soal alat musik. Ia menyentuh kegelisahan yang lebih besar, yakni bagaimana pariwisata tumbuh cepat tanpa mengikis identitas lokal yang menjadi akar kehidupan masyarakat.

Ketika Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menyatakan siap menggalakkan Cakatinding, banyak orang menangkap pesan tersirat. Ada tekad untuk menjaga “jiwa” daerah di tengah industri wisata yang kian padat.

-000-

Mengapa Cakatinding Menjadi Tren

Ada tiga alasan mengapa isu ini melompat ke ruang publik. Pertama, Labuan Bajo sudah lama jadi etalase pariwisata nasional. Apa pun yang terkait identitasnya mudah memantik perhatian.

Kedua, kabar ini datang bersama narasi pelestarian. Publik Indonesia belakangan sensitif pada isu punahnya tradisi, terutama saat budaya lokal berhadapan dengan modernisasi yang serba cepat.

Ketiga, ada unsur kebanggaan kolektif. Cakatinding telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional pada 21 Oktober 2022.

Status itu membuat orang merasa sedang menyaksikan sesuatu yang “resmi penting”. Ketika pemerintah daerah menyusun langkah lanjutan, publik melihatnya sebagai bab baru, bukan sekadar seremoni.

-000-

Dari Ladang ke Panggung: Jejak Historis yang Menghidupkan

Kisah Cakatinding bermula dari ruang yang jauh dari panggung. Para petani Manggarai dulu memainkannya di ladang dan sawah, untuk melepas penat dan mengusir hewan pengganggu.

Ada kera dan babi hutan yang mengancam tanaman. Di situ, bunyi bambu bukan hiburan mewah. Ia adalah teman kerja, penanda ritme hidup, dan cara bertahan.

Waktu mengubah fungsi, tetapi tidak menghapus makna. Cakatinding bertransformasi dari tradisi agraris menjadi seni pertunjukan yang adaptif.

Maestro musik tradisional Manggarai, Felix Edon, menyambut hangat langkah pemerintah daerah. Ia menyebutnya upaya baik untuk menghidupkan kembali identitas lokal di tengah pariwisata yang pesat.

Felix juga menjelaskan daya lentur Cakatinding. Ia bisa tampil mandiri, namun juga dapat berkolaborasi dengan suling, juk, gendang, gong, biola, hingga instrumen modern.

Dalam penjelasan Felix, Cakatinding bahkan bisa dipadukan dengan bass gitar, gitar akustik, dan kajon. Ini menegaskan satu hal: tradisi tidak selalu rapuh, bila diberi ruang berkembang.

-000-

Identitas di Tengah Ledakan Wisata Labuan Bajo

Labuan Bajo bukan lagi sekadar pintu ke Komodo. Ia juga simbol pertumbuhan industri pariwisata. Pertumbuhan itu membawa peluang, namun sekaligus tekanan pada kebudayaan setempat.

Di titik ini, pernyataan pemerintah daerah menjadi penting. Pengembangan Cakatinding diposisikan bukan nostalgia, melainkan strategi menghadirkan pengalaman budaya otentik bagi pelancong.

Kepala Bidang Budaya Disparekrafbud Manggarai Barat, Fransiskus Selmas, menekankan wisatawan tidak hanya mengejar alam. Mereka juga ingin merasakan pengalaman budaya yang khas.

Fransiskus menyebut musik bambu Manggarai sebagai aset yang bisa ditawarkan. Ia mengaitkannya dengan keberlanjutan industri pariwisata daerah.

Kalimatnya terdengar tegas dan filosofis. Membangun pariwisata tanpa budaya disebutnya sebagai industri tanpa jiwa.

Di balik frasa itu, ada pertanyaan yang menghantui banyak destinasi. Apakah sebuah tempat masih menjadi “rumah” bagi warganya, ketika ia berubah menjadi “produk” bagi pengunjung?

-000-

Pelatihan untuk Siswa: Regenerasi sebagai Titik Balik

Rencana tidak berhenti pada wacana. Pemkab Manggarai Barat menggelar pelatihan Cakatinding bagi perwakilan siswa SMA se-kabupaten.

Langkah ini penting karena pelestarian kerap gagal di titik regenerasi. Tradisi bisa diakui, tetapi tidak dimainkan. Bisa dipamerkan, tetapi tidak dihidupi.

Dalam pelatihan, siswa dibekali teknik pembuatan Cakatinding. Mulai dari pemilahan bambu Pering tua, pemotongan pada fase bulan mati, hingga penyetelan nada pentatonik khas Manggarai.

Nada itu disebut do, re, mi, sol, la. Detail semacam ini menunjukkan bahwa kebudayaan bukan hanya pertunjukan, melainkan pengetahuan teknis yang diwariskan dengan disiplin.

Targetnya jelas. Cakatinding diharapkan kelak rutin mengisi ruang publik, kawasan destinasi wisata, dan menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tambah.

Di sini, kebudayaan dipandang sebagai penggerak ekonomi lokal. Namun taruhannya tetap sama: bagaimana memastikan nilai budaya tidak tereduksi menjadi dekorasi semata.

-000-

Isu Besar Indonesia: Pariwisata, Keadilan, dan Ketahanan Budaya

Isu Cakatinding terhubung dengan perdebatan besar di Indonesia. Negara sedang mendorong pariwisata sebagai mesin pertumbuhan ekonomi, sekaligus menciptakan lapangan kerja.

Namun, pertumbuhan yang cepat sering menimbulkan pertanyaan keadilan. Siapa yang paling diuntungkan, dan siapa yang menanggung biaya sosialnya.

Dalam konteks Manggarai Barat, penguatan identitas budaya dapat menjadi penyeimbang. Ia membantu masyarakat lokal tetap menjadi subjek, bukan sekadar latar belakang bagi industri.

Isu ini juga terkait ketahanan budaya. Ketika arus globalisasi datang melalui investasi, konten digital, dan selera pasar, tradisi sering dipaksa menyesuaikan diri agar “laku”.

Di sinilah pentingnya strategi yang tidak semata mengejar keramaian, tetapi juga menjaga martabat. Budaya perlu ruang tumbuh yang tidak selalu diukur dari tiket terjual.

-000-

Kerangka Konseptual: Mengapa Budaya Menentukan Daya Tahan Destinasi

Dalam kajian pariwisata, ada konsep yang kerap dibahas: pariwisata budaya dan keberlanjutan. Gagasannya sederhana, destinasi yang berumur panjang biasanya punya identitas yang dirawat.

Identitas membuat pengalaman wisata tidak mudah ditiru. Alam bisa difoto dan disalin dalam brosur, tetapi makna dan praktik budaya hanya hidup di komunitas yang menjaganya.

Riset dan laporan kebijakan internasional sering menekankan peran warisan budaya takbenda. Warisan semacam musik tradisional dipandang sebagai modal sosial yang memperkuat kohesi komunitas.

Ketika kohesi kuat, masyarakat lebih siap menghadapi perubahan. Mereka punya alasan untuk tetap tinggal, berkarya, dan menegosiasikan arah pembangunan.

Namun ada sisi lain yang perlu diingat. Warisan budaya takbenda rentan menjadi komoditas bila hanya diposisikan sebagai atraksi. Karena itu, pelatihan dan regenerasi menjadi kunci etis.

Di titik ini, langkah mengajarkan pembuatan Cakatinding, memilih bambu, dan menyetel nada, terasa lebih penting daripada sekadar membuat pertunjukan untuk kamera.

-000-

Pelajaran dari Luar Negeri: Ketegangan antara Otentisitas dan Komersialisasi

Perdebatan serupa pernah muncul di berbagai negara. Banyak warisan budaya takbenda yang populer justru menghadapi dilema setelah menjadi magnet wisata.

Di Spanyol, misalnya, flamenco berkembang sebagai seni yang kuat, namun juga berhadapan dengan komersialisasi di kawasan wisata. Diskusi tentang otentisitas menjadi tema yang terus berulang.

Di Jepang, sejumlah praktik seni pertunjukan tradisional dipelihara lewat sistem pewarisan dan pendidikan. Pada saat yang sama, pertunjukan untuk turis menuntut format yang lebih singkat.

Di Korea Selatan, popularitas budaya juga mendorong upaya pelestarian tradisi. Tetapi tekanan pasar sering mengubah cara tradisi dikemas, agar cocok dengan panggung modern.

Rujukan luar negeri ini tidak identik dengan Cakatinding, namun memperlihatkan pola umum. Ketika seni tradisi masuk industri, pertanyaan tentang kendali komunitas selalu muncul.

Karena itu, keberhasilan bukan hanya soal viralitas. Ia ditentukan oleh tata kelola, pendidikan, dan kesediaan memberi ruang bagi komunitas untuk menentukan bentuk representasinya.

-000-

Analisis: Cakatinding sebagai Penanda Arah Baru

Cakatinding memiliki modal naratif yang kuat. Ia lahir dari kehidupan agraris, lalu beradaptasi menjadi seni pertunjukan. Ia juga terbukti bisa berkolaborasi dengan instrumen modern.

Modal ini membuat Cakatinding relevan bagi generasi muda. Tradisi tidak diposisikan sebagai benda museum, melainkan sebagai bahasa musik yang dapat berdialog dengan zaman.

Pengalaman masa lalu juga memberi legitimasi. Jejak panggung Cakatinding disebut bermula dari Sanggar Lawe Lenggong pada dekade 1990-an.

Puncak yang dikenang adalah pagelaran 646 siswa se-Kecamatan Langke Rembong pada HUT RI 2004. Ada ingatan kolektif yang bisa dirawat kembali.

Setelah tampil di Festival Musik Bambu se-NTT 2013, Cakatinding kemudian ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional pada 2022. Rangkaian ini membentuk kontinuitas.

Kontinuitas penting karena publik sering lelah pada program yang musiman. Ketika ada jejak panjang, orang percaya bahwa tradisi ini benar-benar hidup, bukan baru dibuat demi tren.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, penguatan Cakatinding perlu menempatkan komunitas sebagai pusat. Pemerintah dapat memfasilitasi, namun kurasi, bentuk pertunjukan, dan nilai harus berpijak pada pelaku budaya.

Kedua, pelatihan siswa perlu dibuat berkelanjutan. Bukan satu kali kegiatan, melainkan jalur pembinaan yang rutin, dengan ruang tampil yang konsisten di ruang publik.

Ketiga, kolaborasi dengan musik modern sebaiknya diarahkan sebagai dialog, bukan penggantian. Cakatinding harus tetap dikenali karakternya, agar tidak larut menjadi sekadar efek bunyi.

Keempat, pariwisata budaya perlu diikat pada etika. Jika Cakatinding tampil di destinasi wisata, pelaku harus mendapat penghargaan yang layak dan kesempatan berkembang.

Kelima, publik dapat berperan dengan cara yang sederhana. Menonton dengan hormat, belajar konteksnya, dan memberi ruang bagi tradisi untuk tampil tanpa harus selalu dipaksa viral.

-000-

Penutup: Bunyi yang Mengingatkan Kita pada Akar

Di tengah gempita Labuan Bajo, Cakatinding mengingatkan bahwa sebuah tempat bukan hanya pemandangan. Ia adalah ingatan, kerja, dan suara yang lahir dari ladang.

Ketika pemerintah daerah ingin menjadikannya ikon, pertaruhannya bukan sekadar promosi. Pertaruhannya adalah memastikan kemajuan tidak memutus hubungan warga dengan akar.

Pada akhirnya, pariwisata yang kuat bukan yang paling ramai. Melainkan yang paling mampu menjaga martabat manusia dan kebudayaan yang membuat sebuah daerah bernama.

Seperti peringatan yang sering diulang dalam berbagai bentuk, kita bisa membangun apa pun setinggi mungkin. Tetapi kita tetap perlu menoleh ke asal, agar tidak kehilangan diri.

“Melestarikan budaya bukan soal menjaga masa lalu, tapi soal mempersiapkan identitas di masa yang akan datang.”