BERITA TERKINI
Buku “Elucidating Essay Poetry” Merekam Pro dan Kontra Puisi Esai Sejak 2012

Buku “Elucidating Essay Poetry” Merekam Pro dan Kontra Puisi Esai Sejak 2012

Buku Elucidating Essay Poetry (terbit Juli 2020) merangkum perdebatan sekaligus perkembangan “puisi esai”, sebuah genre penulisan puisi yang dipopulerkan Denny JA sejak 2012 melalui buku Atas Nama Cinta yang memuat lima kisah diskriminasi di Indonesia. Buku ini disebut merekam kontroversi yang menyertai kemunculan puisi esai, termasuk respons dari berbagai kalangan yang mendukung maupun menolak.

Dalam ringkasan buku yang ditulis Anick HT, puisi esai digambarkan sebagai eksperimen yang terus berlanjut dan meluas, tidak hanya di berbagai daerah di Indonesia tetapi juga disebut merambah ke beberapa negara di Asia Tenggara. Dampak lain yang dicatat adalah lahirnya adaptasi dan turunan karya berbasis puisi esai, seperti teater, komik, dan film.

Memuat 44 tulisan dari beragam tokoh

Buku ini memuat 44 tulisan. Isinya mencakup paparan gagasan, proses kreatif, serta pembelaan dari Denny JA, disertai analisis para pakar dan tokoh sastra, serta ulasan terhadap pemenang lomba puisi esai yang pernah diadakan oleh Jurnal Sajak.

Sejumlah nama yang disebut terkait buku ini antara lain Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachry, Ignas Kleden, Ashadi Siregar, Leon Agusta, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, Datuk Jasni Matlani, Dr. Paosan Jehwae, Berthold Damshouser, dan lainnya.

Lima gagasan utama yang disorot

  • Kegelisahan yang menciptakan kebaruan
  • Puisi esai berkontribusi pada gerakan sosial baru
  • Puisi esai melahirkan dimensi baru pada puisi Indonesia modern
  • Babak baru: terangkatnya tema yang tak biasa dari 34 provinsi
  • Melihat Denny JA sebagai seorang pemikir

Dari kegelisahan atas puisi yang kian sulit dipahami

Ringkasan buku menyebut puisi esai berangkat dari kegelisahan terhadap kritik John Barr bahwa puisi masa kini sulit dipahami publik dan kian berjarak dari pembaca luas. Denny JA disebut melakukan riset mengenai kecenderungan pemahaman publik terhadap puisi dan menyimpulkan bahwa publik semakin tidak memahami pesan puisi secara umum, termasuk mereka yang berpendidikan tinggi.

Berangkat dari temuan itu, ia merumuskan medium yang dinilai lebih mudah dipahami tanpa kehilangan unsur fiksi, dramatisasi, dan kedalaman emosi. Dari situ lahir puisi esai, yang digambarkan memiliki ciri sebagai puisi panjang dan berbabak. Buku Atas Nama Cinta disebut menjadi contoh konkret, termasuk kerja sama dengan Hanung Bramantyo untuk memfilmkan lima kisah dalam buku tersebut.

Aspek lain yang ikut dibahas adalah soal pemasaran. Ringkasan itu menyebut Denny JA memandang “gerakan harus dimarketingkan”, sekaligus menanggapi kritik bahwa puisi esai tidak tumbuh alami melainkan direkayasa dan dipromosikan. Ia menilai pemasaran penting di era sekarang, seiring pentingnya proses berkarya.

Perdebatan akademik dan konteks sosial

Bagian penting buku ini, menurut ringkasan, ialah opini dari intelektual dan pakar sastra. Datuk Jasni Matlani—penerima SEA Award dari Malaysia—disebut membandingkan karya Hamzah Fansuri dengan karya Denny JA dari sisi bahasa dan isu. Ia menilai puisi esai di tangan Denny JA memiliki makna yang jelas, menumbuhkan kesadaran sosial, serta sesuai dengan tuntutan zaman.

Sementara itu, Ignas Kleden disebut melihatnya dari konteks sosial. Ia memandang percobaan Denny JA sebagai langkah mengintegrasikan puisi dalam gerakan sosial baru di Indonesia, sekaligus mengintegrasikan gerakan sosial ke dalam puisi. Langkah tersebut, menurut ringkasan, dilakukan dengan kesadaran atas risiko yang mungkin timbul dalam pertimbangan kritik sastra.

“Yang bukan penyair boleh ikut ambil bagian” dan perluasan tema

Ringkasan juga menyorot strategi pemopuleran puisi esai melalui tagline “Yang bukan penyair boleh ikut ambil bagian”, yang disebut sebagai upaya mengembalikan puisi ke tengah publik. Dari sana, lomba puisi esai oleh Jurnal Sajak disebut menghasilkan pengayaan perspektif.

Agus R. Sarjono, dalam ringkasan itu, disebut menyambut salah satu pemenang lomba berjudul “Mata Luka Sengkon Karta” yang menggali kasus hukum yang sempat menghebohkan pada masa Orde Baru. Ia menilai bentuk puisi esai memberi ruang demokratisasi dalam dunia puisi Indonesia, sehingga keragaman tema terbuka lebih lebar.

Jamal D. Rahman juga disebut menilai tema puisi esai bukan hanya beragam, tetapi menghadirkan dimensi baru dalam puisi Indonesia modern, bahkan memunculkan tema-tema yang jarang atau tak pernah hadir dalam tradisi puisi sebelumnya.

Gerakan 34 provinsi dan penekanan pada tema lokal

Perkembangan berikutnya digambarkan sebagai gerakan baru yang menghadirkan cerita berbasis lokalitas dari 34 provinsi di Indonesia. Ringkasan menyebut adanya 176 puisi esai dari para pengarang di 34 provinsi, dan disebut tidak ada yang mengangkat tema di luar urusan krusial daerah masing-masing.

Dalam ulasannya, Agus R. Sarjono disebut menekankan pentingnya tema: sekalipun puisi liris maupun puisi esai dapat saja gagal secara estetika, puisi esai dinilai setidaknya masih meninggalkan sesuatu yang bernilai, yakni tema yang diangkat. Ringkasan itu juga menilai tema-tema dalam khasanah perpuisian Indonesia selama ini cenderung terbatas, sementara keragaman tema dari gerakan ini bermuara pada kepedulian dan kegelisahan yang sama: kerinduan akan Indonesia yang lebih baik.

Membaca Denny JA sebagai pemikir

Bagian akhir buku disebut memuat analisis Narudin yang membedah pemikiran Denny JA dan pengaruhnya terhadap proses kreatif. Narudin menilai Denny JA sebagai pemikir postmodern; secara estetik, puisi esai disebut berbentuk “chaotic” dan karenanya dekat dengan selera posmodern.

Narudin juga menyebut Denny JA sebagai pemikir sosio-dialektis, dengan pola pikir yang menggugat tesis yang ada untuk mencapai sintesis berupa argumentasi sekaligus solusi atas problem sosial. Selain itu, Denny JA disebut sebagai pemikir pluralis, dengan penekanan pada kata-kata petunjuk (indeksikal) seperti “INTI”, “menyelam”, dan “jawaban”.

Kontroversi sebagai bagian dari perjalanan

Di bagian refleksi, ringkasan menyebut puisi esai sulit dilepaskan dari kontroversi. Kontroversi itu justru dinilai sebagai salah satu keberhasilan karena mampu memecah kebekuan perbincangan sastra, membuat sastra dan perpuisian menjadi perbincangan publik yang hangat, bahkan panas.

Ringkasan tersebut juga menilai Denny JA tetap teguh pada gagasan yang diyakininya dan menunjukkan konsistensi. Puisi esai disebut telah melangkah keluar dari ruang privat, mengembara, dan menularkan pengaruhnya, sekaligus menstimulasi kemunculan tema-tema yang dianggap tak biasa dan sulit muncul dalam karya sastra arus utama sebelumnya.

Buku Elucidating Essay Poetry disebut dapat dibaca, diunduh, dan dicetak melalui tautan yang dibagikan di Facebook.