BERITA TERKINI
Bijak Memakai AI: Dari Tugas Kuliah hingga Ancaman Video Rekayasa

Bijak Memakai AI: Dari Tugas Kuliah hingga Ancaman Video Rekayasa

Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kian akrab dengan kehidupan mahasiswa. Salah satu yang paling dikenal adalah ChatGPT, yang kerap digunakan untuk membantu menyelesaikan tugas, menulis esai, hingga mencari inspirasi di tengah tekanan tenggat waktu. Namun, kemudahan ini juga memunculkan pertanyaan: apakah penggunaan AI yang terus-menerus berisiko membuat penggunanya bergantung?

Seorang mahasiswa, Reyditha Amelia, menilai ada sisi lain dari kebiasaan mengandalkan AI. Ia mengakui kerap memanfaatkan AI untuk membantu penulisan dan pencarian referensi. Meski praktis, ia menilai ketergantungan dapat membuat kemampuan berpikir kritis melemah karena pengguna menjadi terbiasa menerima hasil instan tanpa memahami proses analisis dan pengolahan informasi.

Integritas akademik dan batas tipis pemanfaatan

Selain soal kemampuan berpikir, penggunaan AI juga bersinggungan dengan integritas. Dunia kampus menuntut kejujuran dan orisinalitas dalam tugas maupun karya ilmiah. Reyditha mempertanyakan orisinalitas sebuah karya apabila ide dan isi tugas sepenuhnya bergantung pada keluaran ChatGPT.

Menurutnya, terdapat garis tipis antara memanfaatkan teknologi dan mengandalkannya. Jika tidak hati-hati, AI bisa menjerumuskan mahasiswa ke zona nyaman yang membuat malas belajar dan mengabaikan tanggung jawab pribadi.

Ia mendorong mahasiswa tetap mengerjakan tugas dan riset dengan kemampuan sendiri, berdiskusi dengan teman, serta membiasakan menulis gagasan tanpa bantuan teknologi. AI dinilai sebaiknya diposisikan sebagai mitra, bukan pengambil alih proses belajar.

Video rekayasa AI dan dampaknya bagi masyarakat

Di luar lingkungan kampus, perkembangan AI juga memunculkan persoalan lain, terutama terkait informasi yang beredar di ruang publik. Beberapa waktu lalu, sempat ramai beredar video yang diklaim menunjukkan persilangan sapi dan babi dan menimbulkan keresahan. Setelah ditelusuri, video tersebut dinilai kemungkinan merupakan hasil ciptaan AI, meski pembuatnya tidak diketahui dan tujuannya belum jelas.

Persilangan antarhewan memang dapat terjadi, umumnya pada hewan yang masih satu famili. Namun, konten video yang dibuat melalui AI dapat memunculkan kebingungan dan memantik reaksi cepat di masyarakat, terlebih jika menyentuh isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Contohnya, video tentang penyakit zoonosis seperti rabies yang menampilkan gambaran ekstrem—misalnya anjing digambarkan sangat ganas melalui rekayasa AI—dapat menambah ketakutan. Demikian pula informasi terkait penyakit yang dikaitkan dengan produk hewan seperti daging, susu, dan telur berpotensi memicu keresahan dan kepanikan dalam konsumsi.

Kebutuhan pengawasan dan penggunaan seperlunya

Perkembangan AI yang semakin pesat membuat tantangan pengawasan kian berat. Disebutkan perlunya perhatian khusus dari instansi yang berfungsi mengawasi peredaran video, termasuk memantau laporan konten yang dicurigai buatan AI dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Di tengah kemajuan teknologi informasi yang cepat dan mudah diakses, pesan utamanya tetap sama: AI dapat membantu banyak hal, tetapi perlu digunakan seperlunya. Baik di ranah akademik maupun ruang publik, pemanfaatan AI yang bijak dinilai penting agar teknologi ini mendukung pembelajaran dan kebaikan, bukan merusak integritas atau menimbulkan keresahan.

  • Mahasiswa diingatkan menjaga proses belajar dengan tetap melatih analisis dan berpikir kritis.
  • Integritas akademik menjadi perhatian ketika AI digunakan untuk menghasilkan ide dan isi tugas.
  • Di masyarakat, video rekayasa AI berpotensi memicu kebingungan dan kepanikan, terutama terkait isu kesehatan hewan dan pangan.
  • Pengawasan konten yang diduga hasil AI disebut penting untuk mencegah penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.