Penyanyi sekaligus penulis lagu Bernadya merilis album penuh keduanya bertajuk Semoga Hanya Di Mimpi melalui JUNI Records pada Rabu, 24 Juni 2026. Dalam album ini, solois asal Surabaya tersebut menuangkan berbagai kegelisahan dan ketakutan yang selama ini menghantuinya, terutama terkait rasa bahagia dan ketenangan dalam hidup.
Dalam sesi jumpa pers album dan showcase Semoga Hanya Di Mimpi di kawasan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Jumat, 26 Juni 2026, Bernadya menjelaskan alasan di balik pemilihan judul album. Menurut penyanyi berusia 22 tahun itu, frasa tersebut merupakan harapan agar ketakutan yang ia tuangkan dalam lagu-lagunya tidak benar-benar terjadi di kehidupan nyata.
“Karena itu ada di salah satu lirik di trek satu, dan itu adalah harapanku karena trek-treknya adalah isi ketakutanku yang aku harap itu cuma ada di mimpi. Mudah-mudahan nggak beneran. ‘Semoga Hanya Di Mimpi’ ketakutanku,” tutur Bernadya.
Selain sisi musikal, Bernadya juga menaruh perhatian pada konsep visual album. Bersama JUNI Records, ia memilih Pantai Kamakura, Jepang, sebagai lokasi pemotretan artwork. Namun, ia menegaskan bahwa tujuannya bukan untuk menonjolkan identitas Jepang secara eksplisit, melainkan mengejar nuansa visual era 2000-an yang menurutnya sulit ditemukan di tempat lain.
“Keseluruhan visualnya, sebenarnya kita tuh plan-nya nggak mau ngejar Jepang-nya banget sih sebenarnya. Cuma ada beberapa warna-warna yang cuma ada di Jepang gitu lho. Kayak hijaunya Jepang beda, birunya Jepang beda,” ujarnya. Bernadya menambahkan, “Kita nggak mau sebenarnya orang ngerasain itu Jepang juga. Kita punya aim-nya adalah 2000-an gitu warnanya. Cuma entah kenapa warna-warna itu bisa didapatkannya di sana.”
Dari sisi musikalitas, album Semoga Hanya Di Mimpi menghadirkan warna berbeda dibanding karya-karya Bernadya sebelumnya. Album ini dipengaruhi pop Indonesia awal 2000-an, dengan dominasi instrumen organik yang dipadukan sentuhan elektronik secara subtil. Salah satu referensi yang ia sebut adalah karya-karya Audy pada era awal 2000-an.
“Jadi aku berangkatnya karena aku lagi emang tuh sering dengerin musik kak Audy Item yang 2004. Terus aku juga merasa waktu itu trek terakhir di album yang sebelumnya, ‘Untungnya, Hidup Harus Tetap Berjalan’, orang banyak bilang ini terdengar nostalgia terus orang jadinya somehow terbawa ke masa itu 2000-an,” kata Bernadya.
Untuk menerjemahkan semangat musik era tersebut, Bernadya mengajak sejumlah produser dengan latar belakang musikal berbeda. Ia menyebut pendekatan ini membuat hasil album menjadi beragam, tetapi tetap menangkap maksud yang ingin ia sampaikan.
“Mungkin 2000-an itu luas banget ya ternyata. Jadi makanya aku mengajak banyak produser untuk mengumpulkan 2000-an berdasarkan perspektif produser macam-macam masing-masing produser semuanya. Ya nggak apa-apa ternyata hasilnya warna-warni tapi ini kayak surprisingly orang menangkap maksudku,” lanjutnya.
Meski lahir dari banyak perspektif, Bernadya menilai album ini tetap terdengar jujur dan memiliki identitas yang utuh. “Yang aku suka tuh rasanya semuanya tuh nggak terlalu ‘Katro in a good way’ gitu. Kayak semua orang tuh mencoba-coba, semua orang mencoba-coba tapi somehow it feels honest,” tutupnya.
Album Semoga Hanya Di Mimpi kini telah tersedia di berbagai platform musik digital.