Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, menyimpan potensi kelautan dan perikanan yang selama ini menjadi salah satu penopang perekonomian daerah. Dengan karakter wilayah yang kuat sebagai kawasan pesisir, pemerintah daerah menempatkan sektor ini sebagai salah satu arah pembangunan untuk memperkuat kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada laut.
Data Barru Regency in Figures 2026 mencatat sekitar 50,91 persen desa dan kelurahan di Barru berada di tepi laut. Kondisi geografis tersebut dinilai menjadi modal utama bagi berkembangnya perikanan tangkap maupun budidaya, sekaligus membuka ruang penguatan agenda ekonomi biru yang berkelanjutan.
Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari menyampaikan bahwa potensi kelautan dan perikanan tidak hanya dipandang sebagai sektor ekonomi tradisional, tetapi juga sebagai mesin pertumbuhan daerah ke depan. Dalam pertemuan pada 12 Juni 2026 di kediaman Bupati Barru, ia menekankan pentingnya dukungan infrastruktur dan penguatan rantai nilai perikanan dari hulu hingga hilir.
“Besarnya produksi perikanan tangkap, berkembangnya budidaya udang vaname dan rumput laut, serta hadirnya infrastruktur strategis seperti Kampung Nelayan Merah Putih menjadi modal penting untuk mengakselerasi kesejahteraan masyarakat pesisir,” kata Andi Ina.
Menurutnya, laut perlu diposisikan sebagai ruang produktif yang dapat menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan, dan mendorong lahirnya pelaku usaha baru berbasis ekonomi maritim. Karena itu, agenda pembangunan diarahkan tidak semata pada peningkatan volume produksi, melainkan juga pada penguatan fasilitas penunjang seperti pembenihan, pabrik es, cold storage, industri pengolahan, hingga Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Tanete Rilau.
Pada 2024, produksi perikanan laut Kabupaten Barru tercatat mencapai 20.413,80 ton. Kecamatan Tanete Rilau menjadi penyumbang terbesar dengan produksi 7.271,80 ton, disusul Kecamatan Mallusetasi sebesar 5.627,30 ton. Aktivitas perikanan di Tanete Rilau menjadikan wilayah ini sebagai salah satu pusat ekonomi pesisir yang dinamis, dengan komoditas utama antara lain ikan pelagis seperti cakalang, kembung, dan teri.
Dari sisi armada, Kecamatan Mallusetasi tercatat memiliki jumlah kapal dan perahu terbanyak, yakni 727 unit, yang didominasi perahu motor tempel. Kondisi tersebut menggambarkan kapasitas produksi penangkapan yang terus tumbuh di sepanjang pesisir Barru.
Selain perikanan tangkap, sektor budidaya juga menunjukkan perkembangan. Udang vaname menjadi komoditas unggulan dengan produksi 4.377 ton pada 2024. Sementara itu, budidaya rumput laut menghasilkan 1.198 ton dan diproyeksikan memiliki prospek seiring tingginya permintaan pasar.
Ketersediaan sarana pembenihan disebut menjadi salah satu faktor pendukung. Kecamatan Balusu memiliki 35 Unit Pembenihan Rakyat (UPR) dan satu hatchery. Adapun Kecamatan Mallusetasi memiliki 29 UPR dan delapan hatchery, jumlah terbanyak di Kabupaten Barru. Keberadaan fasilitas tersebut menempatkan Balusu dan Mallusetasi sebagai wilayah strategis dalam mendukung ketersediaan benih serta produktivitas usaha perikanan.
Ekosistem perikanan Barru juga ditopang fasilitas pendukung yang tersebar di beberapa kecamatan. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) tersedia di Kecamatan Tanete Rilau, Barru, Soppeng Riaja, dan Balusu. Fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) berada di Kecamatan Barru dan Mallusetasi, sementara pabrik es beroperasi di Balusu dan Mallusetasi untuk menjaga mutu hasil tangkapan.
Di sektor hilir, terdapat 12 unit industri penggaraman dan pengeringan ikan yang menyerap puluhan tenaga kerja. Selain itu, industri pengolahan surimi juga disebut memberikan nilai tambah bagi hasil laut lokal.
Di tengah potensi tersebut, program Kampung Nelayan Merah Putih mulai dibangun sebagai fondasi transformasi kawasan pesisir. Lokasi KNMP Barru berada di Lingkungan Matene, Kelurahan Tanete, Kecamatan Tanete Rilau—wilayah yang tercatat sebagai sentra produksi perikanan tangkap terbesar di kabupaten ini. Pemilihan lokasi itu didasarkan pada posisi Tanete Rilau sebagai pusat aktivitas nelayan yang dinilai memiliki peluang berkembang menjadi kawasan perikanan terpadu.
Program yang didukung anggaran sekitar Rp22 miliar ini dirancang tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membentuk pusat pertumbuhan ekonomi pesisir yang terintegrasi. Sejumlah fasilitas yang direncanakan meliputi sentra pendaratan ikan, pabrik es, shelter cool box, bengkel nelayan, docking kapal, sentra kuliner, balai pertemuan, serta fasilitas pendukung lainnya.
Pemerintah berharap fasilitas tersebut dapat menjawab persoalan yang kerap dihadapi nelayan, mulai dari keterbatasan penyimpanan hasil tangkapan, rendahnya nilai tambah produk, hingga akses pemasaran yang belum optimal.
Dalam peta perikanan Barru saat ini, Tanete Rilau disebut sebagai pusat produksi perikanan tangkap, sementara Mallusetasi dan Balusu berkembang sebagai sentra budidaya dan pengolahan. Pembangunan KNMP di Matene diproyeksikan menjadi penghubung antarpotensi tersebut, sekaligus memperkuat Tanete Rilau sebagai pusat pendaratan, pengolahan, dan distribusi hasil perikanan.
Andi Ina juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, nelayan, pembudidaya, pelaku usaha, dan masyarakat pesisir agar Barru dapat berkembang sebagai salah satu pusat ekonomi biru unggulan di Sulawesi Selatan. Ia menyebut, kemajuan daerah diharapkan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Di tingkat daerah, arah pembangunan tersebut ditempatkan dalam visi “Barru Maju Bersama” di bawah kepemimpinan Bupati Andi Ina Kartika Sari dan Wakil Bupati Abustan A. Bintang. Visi itu menegaskan komitmen pembangunan inklusif, termasuk pada sektor kelautan dan perikanan, dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat sebagai mitra pembangunan.
Dengan sumber daya laut yang besar, dukungan infrastruktur, dan rencana investasi seperti KNMP, Barru diproyeksikan memperkuat transformasi ekonomi pesisir yang lebih modern dan berkelanjutan. Pemerintah daerah menilai, laut tidak hanya menjadi sumber tangkapan, tetapi juga jalur peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir dan penguatan ekonomi daerah.