BERITA TERKINI
BandungBergerak.id Pilih Dua Esai Terbaik Mei 2023: Bahas Golput dan Evaluasi 25 Tahun Reformasi

BandungBergerak.id Pilih Dua Esai Terbaik Mei 2023: Bahas Golput dan Evaluasi 25 Tahun Reformasi

Redaksi BandungBergerak.id memilih dua “Esai Terpilih” untuk edisi Mei 2023 dari sedikitnya 15 esai yang tayang di kanal Opini sepanjang bulan tersebut. Pengumuman dilakukan pada Selasa, 6 Juni 2023, sebagai bagian dari tradisi pemilihan esai yang dilakukan sebulan sekali.

Redaksi menyebut pemilihan tidak mudah karena seluruh esai yang masuk dan kemudian disunting untuk ditayangkan memiliki kelebihan masing-masing, baik dari segi isu maupun gaya penulisan.

Dua esai yang terpilih adalah “Dilema Golput” karya Indra Prayana dan “Catatan Seperempat Abad Reformasi” karya Adrian Aulia Rahman. Keduanya dinilai relevan dengan momentum bulan Mei: menghangatnya tahun politik menjelang Pemilu 2024 serta peringatan Reformasi 1998.

Dalam esainya, Indra Prayana mengangkat fenomena golput (golongan putih) yang kerap menjadi isu penting dalam setiap pemilu. Ia menelusuri kemunculan istilah golput dalam sejarah demokrasi Indonesia, yang disebut berawal dari artikel Imam Walujo Sumali di Harian KAMI edisi 12 Mei 1971 berjudul “Partai ke Sebelas untuk Generasi Muda”, lalu disusul pertemuan eksponen pemuda pada awal Juni 1971 di Balai Budaya Jakarta yang mendeklarasikan Golongan Putih. Sejumlah nama yang disebut hadir antara lain Arief Budiman, Adnan Buyung Nasution, Marsilam Simandjuntak, Imam Walujo S, dan Julius Usman.

Indra juga mencatat bahwa pilihan untuk memilih atau tidak memilih kerap didikotomikan dan dibawa ke wilayah transendental, termasuk munculnya fatwa haram golput dari sebagian ulama atau organisasi keagamaan. Namun, ia menekankan pemilu sebagai hak, bukan kewajiban, sehingga penggunaan hak tersebut—diambil atau tidak—dipandangnya konstitusional dan bukan wilayah pidana.

Menurut Indra, inti persoalan bukan semata perdebatan halal-haram golput, melainkan faktor yang mendorong munculnya golput, yakni sejauh mana partai politik melakukan kaderisasi dan menghadirkan calon pemimpin yang layak dipilih. Ia menilai golput muncul ketika pemilih merasa tidak tersedia figur yang pantas menjadi pilihan.

“Klaim pemilu sebagai jaminan untuk menghasilkan pemimpin yang mempunyai rekam jejak mumpuni dari segi manajerial maupun spiritual tidak sepenuhnya tepat, karena kita tidak mempunyai banyak pilihan terhadap figur-figur yang telah disediakan oleh partai politik,” tulis Indra dalam esainya.

Sementara itu, Adrian Aulia Rahman dalam “Catatan Seperempat Abad Reformasi” menelaah secara kritis peristiwa Reformasi 1998 dari sudut pandang generasi muda yang tidak mengalami langsung masa Orde Baru. Adrian, yang disebut sebagai mahasiswa Unpad, mempertanyakan narasi tentang kelamnya Orde Baru, sembari menyinggung perbandingan dengan tokoh Winston Smith yang hidup dalam kediktatoran dalam novel Nineteen Eighty-Four karya George Orwell.

Adrian juga menyoroti munculnya seruan nostalgia terhadap Orde Baru melalui jargon “enak zamanku to?” yang disertai foto Suharto. Ia mengakui Suharto yang memimpin selama 32 tahun memiliki jasa, namun memilih menempatkannya sebagai politikus yang dapat berperilaku baik maupun buruk.

“Dengan memandang figur Suharto sebagai politikus, maka tidak akan ada kecintaan ataupun kebencian yang berlebih kepada mantan presiden kedua Republik Indonesia tersebut,” tulis Adrian. Ia mengutip pernyataan Presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa Suharto berjasa besar bagi Indonesia, tetapi dosanya juga besar.

Dalam catatannya tentang kondisi demokrasi setelah 25 tahun Reformasi, Adrian menilai demokrasi Indonesia kini cenderung elitis, di mana peranan elite lebih menentukan dibanding suara dan peranan rakyat. Ia mengkritik partisipasi rakyat yang, menurutnya, sering kali berhenti di bilik suara setiap lima tahun sekali.

“Seperempat abad reformasi, Indonesia masih terjerat oleh sistem demokrasi yang elitis, entah sampai kapan,” tulis Adrian.

Redaksi BandungBergerak.id menyatakan akan menghubungi kedua penulis untuk pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan, dengan biaya pengiriman ditanggung oleh BB. Penulis juga dapat berinisiatif menghubungi akun Instagram KawanBergerak atau nomor telepon 082119425310.