BandungBergerak.id mengumumkan Esai Terpilih Januari 2025 dari rangkaian tulisan yang tayang sepanjang 1–31 Januari 2025. Dalam periode tersebut, BandungBergerak menayangkan 35 esai kiriman Kawan Bergerak, dengan 22 di antaranya merupakan tulisan mahasiswa dalam tajuk Mahasiswa Bersuara. Selain itu, terdapat 11 karya jurnalistik dari Kawan Bergerak serta 32 kolom dari para kolumnis BandungBergerak.
Redaksi menyampaikan apresiasi kepada para penulis yang mempercayakan karyanya untuk dimuat. Menurut BandungBergerak, ragam tema, gaya penulisan, sudut pandang, dan argumentasi dari tulisan yang masuk turut memperkaya khasanah literasi maupun pengetahuan dari pengalaman personal para penulis.
Seperti bulan-bulan sebelumnya, pengumuman Esai Terpilih ditegaskan bukan sebagai ajang pemilihan esai terbaik yang menafikan tulisan lain. BandungBergerak menilai setiap tulisan memiliki kelebihan masing-masing.
Untuk Januari 2025, terdapat tiga Esai Terpilih yang masing-masing mewakili kategori esai opini, esai narasi, dan esai Mahasiswa Bersuara. Tiga tulisan tersebut mengangkat isu yang berbeda, mulai dari dinamika startup, jejak historis pelarangan rambut gondrong, hingga kebijakan kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN).
Esai opini berjudul Mengapa Banyak Startup di Indonesia Tutup dan tak Bisa Bersaing? ditulis Heny Hendrayati, dosen Program Studi Manajemen Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Ia menyoroti perkembangan usaha rintisan teknologi yang mengalami pasang surut, dengan sebagian menjadi unicorn sementara yang lain gulung tikar. Heny menyarankan pemerintah sebagai regulator menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan startup melalui insentif pajak, penyederhanaan regulasi, akses pendanaan lokal, serta pembangunan infrastruktur digital yang merata.
Menurut Heny, edukasi kewirausahaan dan kemitraan dengan korporasi besar juga perlu didorong untuk memacu inovasi, memperluas pasar, dan menjaga keberlanjutan startup di berbagai daerah. Ia juga menekankan perlunya regulasi antimonopoli yang tegas guna mencegah dominasi pasar oleh raksasa teknologi agar startup kecil tetap memiliki peluang bersaing.
Dalam kategori Mahasiswa Bersuara, esai berjudul Melacak Akar Historis Pelarangan Rambut Gondrong ditulis Herlambang, mahasiswa Ilmu Hukum UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung. Ia mengkritisi kebijakan pemerintah pada era Orde Baru terkait rambut gondrong, yang berangkat dari pengalamannya ditegur dosen karena berambut gondrong. Herlambang merujuk buku Yang Kelewat di Buku Sejarah karya Fadlia Hana dkk. dan menyimpulkan bahwa pelarangan rambut gondrong tidak semata persoalan estetika, melainkan bagian dari kontrol sosial dan politik pada masa itu.
Adapun esai narasi berjudul Pemerintah Perlu Belajar Sejarah Sebelum Menaikkan PPN ditulis Naufal Tri Hutama, mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam di UIN SGD Bandung. Dalam tulisannya, Naufal menilai pemerintah perlu belajar dari sejarah agar kebijakan pajak, termasuk kenaikan PPN, tidak memicu ketidakpuasan publik. Ia menekankan bahwa salah satu penyebab utama ketidakpuasan rakyat terhadap pajak adalah ketidakpercayaan terhadap pengelolaannya.
BandungBergerak menilai esai- esai kiriman para penulis menunjukkan tulisan masih menjadi medium penting untuk menyampaikan gagasan maupun kritik. Bagi BandungBergerak, kontribusi para penulis turut mendukung keberlangsungan demokrasi, kebebasan berekspresi dan beropini, serta penyampaian pandangan kritis ke hadapan publik.
Komunitas BandungBergerak, KawanBergerak, disebut akan menghubungi para penulis Esai Terpilih untuk mengatur pengiriman sertifikat dan kenang-kenangan, dengan biaya pengiriman ditanggung BandungBergerak. Para penulis juga dapat menghubungi akun Instagram KawanBergerak atau nomor telepon 082119425310. BandungBergerak turut membuka kesempatan pengiriman esai melalui surel bandungbergerak.id@gmail.com.

