BERITA TERKINI
Alergi Protein Susu Sapi Berisiko Ganggu Tumbuh Kembang, Sarihusada Perkuat Edukasi SADAR Alergi

Alergi Protein Susu Sapi Berisiko Ganggu Tumbuh Kembang, Sarihusada Perkuat Edukasi SADAR Alergi

Alergi protein susu sapi (APSS) menjadi salah satu kondisi alergi yang cukup sering dialami anak dan perlu dikenali sejak dini. Data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menunjukkan prevalensi APSS di Indonesia dapat mencapai 7,5 persen, sejalan dengan berbagai studi internasional yang memperkirakan angka kejadian antara 2 hingga 7,5 persen.

APSS menjadi perhatian terutama pada anak usia dini yang berada dalam masa tumbuh kembang. Namun, gejalanya kerap menyerupai keluhan umum lain, seperti ruam kulit, gangguan pencernaan, atau perubahan perilaku setelah mengonsumsi susu. Kondisi ini membuat APSS berisiko tidak terdeteksi sejak awal, padahal anak tetap membutuhkan penanganan dan dukungan nutrisi yang tepat agar tumbuh kembangnya optimal.

Dalam rangka menyambut World Allergy Week 2026 yang diinisiasi World Allergy Organization dengan tema “Allergy Care is Essential Care”, Sarihusada memperkuat inisiatif SADAR Alergi (Skrining Awal dan Asupan Rekomendasi Alergi). Program ini ditujukan untuk meningkatkan edukasi mengenai APSS, mendorong orang tua berkonsultasi dengan dokter spesialis anak, serta memperkuat pemahaman tentang pentingnya dukungan nutrisi yang sesuai bagi anak dengan kondisi tersebut.

Healthcare Nutrition Director Sarihusada, Vera Saw, mengatakan inisiatif ini diharapkan dapat membantu orang tua memperoleh akses informasi yang kredibel dan relevan. Dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (11/06/2026), Vera menilai APSS masih menjadi tantangan yang banyak dihadapi orang tua karena gejalanya sering disalahartikan sebagai kondisi umum, sehingga penanganan dapat terlambat dan berdampak pada kenyamanan serta tumbuh kembang anak.

Vera juga menyoroti masih maraknya orang tua yang melakukan diagnosis mandiri tanpa konsultasi medis. Menurutnya, kolaborasi orang tua, tenaga kesehatan, dan edukasi berbasis sains diperlukan agar kebutuhan nutrisi dan tumbuh kembang anak tetap terjaga.

Dari sisi klinis, tingkat keparahan APSS dapat berbeda pada setiap anak, mulai dari ringan hingga berat. Kondisi ini dapat memengaruhi kenyamanan anak, kualitas tidur, hingga asupan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang. Jika tidak terdiagnosis dan ditangani secara tepat, APSS berpotensi menghambat perkembangan anak dalam jangka panjang.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Alergi Imunologi, dr. Molly Dumakuri Oktarina, Sp.A, Subsp.A.I(K), menegaskan penanganan APSS harus dilakukan secara terarah berdasarkan evaluasi medis. Ia menyampaikan bahwa setiap anak memiliki kondisi berbeda sehingga pendekatan penanganannya tidak dapat disamaratakan.

Dr. Molly menekankan ASI tetap merupakan nutrisi terbaik bagi anak, termasuk bagi anak dengan alergi protein susu sapi. Namun, sebagai bagian dari penanganan, ibu perlu menghindari konsumsi susu sapi dan produk turunannya. Untuk anak yang membutuhkan asupan tambahan karena indikasi medis tertentu, pemilihan nutrisi disebut perlu disesuaikan dengan rekomendasi dokter anak.

Menurut dr. Molly, formula terhidrolisis ekstensif (Extensively Hydrolyzed Formula/EHF) direkomendasikan untuk alergi ringan hingga sedang, sedangkan Amino Acid Formula (AAF) digunakan pada kondisi yang lebih berat atau ketika EHF tidak memberikan hasil optimal. Formula berbasis soya disebut dapat menjadi alternatif pada kasus ringan hingga sedang apabila terdapat kendala biaya atau ketersediaan EHF.

Ia menambahkan, susu terhidrolisat parsial (Partially Hydrolyzed Formula/PHF) bukan pilihan terapi untuk alergi susu sapi. Karena tidak semua formula cocok untuk setiap anak, proses diagnosis dan pemilihan nutrisi perlu dilakukan di bawah pengawasan dokter.

Dalam pemaparan yang sama, disebutkan sejumlah studi menunjukkan formula terhidrolisis ekstensif berbasis whey memiliki tingkat toleransi tinggi dan rasa yang lebih dapat diterima anak sehingga mendukung kepatuhan konsumsi. Sementara itu, formula berbasis asam amino dinilai dapat membantu meredakan gejala alergi dengan cepat serta memiliki risiko reaksi alergi yang sangat minimal.

Selain aspek medis, penanganan APSS kerap menjadi tantangan emosional bagi orang tua, mulai dari mengenali gejala, mencari informasi akurat, hingga memastikan kebutuhan nutrisi anak tetap terpenuhi. Pengalaman ini disampaikan Sandra Devita, kreator konten parenting sekaligus ibu dari anak dengan alergi susu sapi.

Sandra mengaku sempat khawatir dan bingung ketika anak menunjukkan reaksi tertentu setelah mengonsumsi susu sapi. Karena gejalanya tidak kunjung membaik, ia harus bolak-balik ke dokter anak, yang menurutnya menguras waktu, biaya, dan pikiran. Dari pengalaman itu, Sandra menilai orang tua perlu mengambil langkah nyata dengan berkonsultasi kepada dokter spesialis anak untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Medical and Scientific Affairs Director Sarihusada, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, menyoroti dampak jangka panjang apabila APSS tidak ditangani secara tepat. Ia menyampaikan tata laksana alergi susu sapi yang tidak tepat dapat memengaruhi kecukupan asupan nutrisi untuk tumbuh kembang optimal dan dalam jangka panjang dapat berujung pada stunting. Dr. Ray juga menyebut sejumlah penelitian menunjukkan risiko stunting pada anak dengan APSS dapat meningkat apabila kondisi tersebut tidak ditangani secara optimal.

Menurutnya, dampak APSS tidak hanya dirasakan pada aspek fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas hidup anak secara keseluruhan, termasuk aspek psikologis, sosial, dan finansial keluarga.

Melalui inisiatif SADAR Alergi, Sarihusada menyatakan menghadirkan edukasi berbasis sains melalui kanal digital dan komunitas, serta menyediakan berbagai pilihan nutrisi bagi anak dengan APSS yang penggunaannya disesuaikan dengan rekomendasi tenaga kesehatan. Perusahaan juga menyebut tengah mengembangkan alat bantu digital bersama para ahli untuk membantu tenaga kesehatan mendeteksi gejala APSS lebih dini dan tepat.

Dalam rangka World Allergy Week 2026, Sarihusada juga berkolaborasi dengan Alodokter untuk menghadirkan layanan konsultasi gratis dengan dokter anak. Melalui layanan tersebut, orang tua diharapkan dapat memperoleh informasi dan arahan terkait APSS sejak dini agar dapat mengambil langkah penanganan yang sesuai bagi anak.