Festival Puisi Esai ASEAN ke-4 pada Juni 2025 di Malaysia menghadirkan 10 puisi esai pemenang yang menyoroti beragam persoalan kemanusiaan di Asia Tenggara. Dari hampir 1.000 karya yang masuk dari berbagai negara, puisi-puisi terpilih itu merangkai fakta sosial dalam bentuk puitis dan dokumentatif.
Salah satu karya yang menonjol adalah Antara Wajah dan Wibawa karya Beathres Petrus, yang meraih Hadiah Utama 1 dalam Sayembara Puisi Esai Antarabangsa Kota Kinabalu 2025. Puisi ini mengambil sudut pandang petugas garis depan di perbatasan, menggambarkan pergulatan batin saat berhadapan dengan migran tak berdokumen yang tiba di wilayah Sabah, khususnya di Semporna dan Sandakan.
Dalam narasi yang dibangun, perahu-perahu kecil datang nyaris tanpa suara dari perairan Laut Sulu, membawa orang-orang yang disebut tak lagi memiliki tanah, dokumen, bahkan kadang nama yang sah secara negara—di antaranya ibu dengan bayi, laki-laki tanpa paspor, dan anak-anak yang belum pernah mengenyam sekolah.
Data yang dikutip dalam tulisan menyebutkan bahwa menurut UNHCR dan Kementerian Dalam Negeri Malaysia, hingga 2023 terdapat lebih dari 800.000 migran tak berdokumen di Malaysia, dengan sebagian besar menetap di Sabah. Mereka digambarkan melarikan diri dari kemiskinan di Mindanao, Sulawesi, atau Kalimantan. Namun, ketika memasuki negara lain, mereka berhadapan dengan hukum yang harus ditegakkan petugas, meski petugas itu tidak menulis aturan tersebut.
Puisi Antara Wajah dan Wibawa menempatkan konflik itu sebagai inti: antara wibawa negara dan wajah manusia. Dalam salah satu kutipannya, penyair menulis, “Aku tidak mahu undang-undang dilonggarkan / tapi aku mahu undang-undang / ditulis dengan tangan yang tahu apa itu pengampunan.”
Selain karya Beathres Petrus, sembilan puisi esai pemenang lainnya juga mengangkat tema-tema yang disebut sebagai “mosaik luka sosial” kawasan. Isbedy Stiawan ZS menulis tentang konflik agraria warga Wadas yang menolak tambang andesit demi menjaga mata air leluhur. Jaya Ramba melalui Datin Seri yang Hilang di Tengah Kota Raya merekam misteri hilangnya Pamela Ling, aktivis anti-korupsi yang disebut lenyap dalam kabut kekuasaan.
Kemalawati menghadirkan Khaliza, kisah pengungsi Rohingya di Laut Andaman. Ririe Aiko menulis Mata Kecil yang Menangis, yang mengisahkan Engeline, seorang gadis delapan tahun yang dibunuh ibu angkatnya. Sasjira melalui Filmorita menuturkan kisah diaspora dan seorang ibu yang terpisah 27 tahun dari anak kandungnya.
Puisi Pemergian Tanpa Amaran mengangkat rasa bersalah seorang ibu setelah anaknya bunuh diri. Hamri Manoppo menyoroti ketidakadilan terkait tambang emas rakyat. Nur Hafizah Hasrin mengangkat kesunyian lansia yang dilupakan. Amirah Abdullah menulis tentang penghormatan kepada jururawat COVID-19. Hanom Ibrahim menziarahi luka lama tragedi Memali.
Rangkaian tema tersebut menempatkan puisi esai sebagai medium yang tidak hanya menonjolkan ekspresi, tetapi juga merekam realitas sosial. Dalam tulisan itu, puisi esai disebut sebagai jembatan antara fakta dan emosi, antara sejarah dan dramatisasi, sekaligus instrumen dokumentasi sosial yang mengajak pembaca memahami konteks luka—mengapa terjadi, di mana berlangsung, dan apa yang bisa dipikirkan agar penderitaan serupa tidak berulang.
Melalui 10 karya pemenang ini, Festival Puisi Esai ASEAN ke-4 digambarkan menghadirkan suara kelompok-kelompok yang kerap terpinggirkan—anak-anak, lansia, migran, rakyat miskin, hingga petugas garis depan—ke dalam ruang sastra Asia Tenggara.

