Universitas Mataram (Unram) mengundang seluruh guru besar untuk menghadiri pertemuan bertajuk “Profesor Berdampak” yang dijadwalkan pada 9 April 2026 di Hotel Prime Park, Mataram. Undangan tersebut tertuang dalam surat Rektor Universitas Mataram Nomor 5125 Tahun 2026.
Pertemuan ini digambarkan bukan sebagai seminar biasa maupun rapat koordinasi rutin, melainkan ajakan untuk melakukan refleksi mengenai kontribusi nyata para profesor. Inti pertanyaan yang hendak diangkat adalah sejauh mana guru besar Unram telah memberi dampak yang berarti.
Dalam narasi yang menyertai undangan itu, penulis mengisahkan pengalaman membimbing seorang mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Mahasiswa tersebut dinilai memiliki kemampuan akademik, namun menghadapi beban hidup yang memengaruhi keyakinannya. Penulis kemudian memilih pendekatan bimbingan yang dianggap realistis, yakni merancang judul skripsi yang sederhana tetapi tetap ilmiah, tidak membutuhkan biaya penelitian besar, dan tetap kuat secara metodologis.
Mahasiswa itu juga dibimbing menulis skripsi dalam bahasa Inggris, sesuatu yang awalnya dianggap sulit. Hasilnya, mahasiswa tersebut disebut lulus tepat waktu. Pengalaman itu dipandang sebagai contoh dampak yang tidak semata-mata tercermin dalam angka laporan kinerja dosen, melainkan perubahan arah hidup mahasiswa karena kehadiran dan pendampingan profesor.
Konsep “Profesor Berdampak” dalam tulisan tersebut dinilai bukan sekadar wacana. Namun, di sisi lain diakui bahwa mewujudkan dampak nyata tidak mudah, mengingat besarnya jumlah mahasiswa dan berbagai tantangan di lingkungan kampus, seperti keterbatasan laboratorium, minimnya dana penelitian mandiri, serta kondisi banyak mahasiswa yang merupakan generasi pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi.
Penulis juga menyinggung adanya godaan untuk menjalankan rutinitas pengajaran semata, memenuhi beban SKS, lalu menunggu masa pensiun. Dalam konteks itulah, pertemuan yang digagas rektor dinilai memiliki urgensi sebagai ruang untuk mendorong refleksi dan aksi.
Selain itu, disebutkan bahwa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah lama mendorong perguruan tinggi melalui kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Dorongan kebijakan tersebut menjadi salah satu latar yang menguatkan pentingnya pembahasan mengenai peran dan dampak guru besar di lingkungan perguruan tinggi.