Sebuah buku kumpulan esai berjudul Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya karya Dea Anugrah (Buku Mojok, 2019; vi + 181 halaman) dibaca sebagai rangkaian tulisan yang kerap mengarah pada suasana melankolis. Dalam ulasan ini, pembaca menilai sebagian besar dari 20 esai di dalamnya ditulis dengan gaya yang memikat: sesekali mengundang tawa lewat humor tajam, namun lebih sering membuat dada bergetar dan mata basah.
Sejumlah esai disebut menyuguhkan kisah-kisah yang berat, mulai dari bayangan Facebook sebagai “pemakaman massal”, cerita tentang seorang penulis yang menembak keningnya sendiri karena merasa tak lagi memiliki apa-apa, hingga anak-anak yang terbunuh akibat perang. Menurut ulasan tersebut, tema-tema semacam itu membuat kesedihan menjadi emosi yang sulit dihindari saat membaca.
Humor gelap dan saling cemooh antarpenulis
Di tengah dominasi nada sedih, buku ini juga memuat esai yang mengangkat humor gelap. Salah satunya, Di Mana Ada Penulis, di Situ Ada Cemooh, yang memuat deretan aksi saling sindir antarpenulis dari berbagai masa. Ulasan itu mencontohkan kutipan sindiran Mark Twain terhadap karya Jane Austen: “Setiap kali membaca Pride and Prejudice, aku ingin menggali kuburan Austen dan menggetok kepalanya dengan tulang keringnya sendiri.”
Cemoohan tersebut dinilai terdengar seperti humor, namun dengan karakter yang keras dan gelap.
Tema sepele yang jarang ditulis
Ulasan itu juga menyoroti keberanian Dea mengangkat tema-tema yang dianggap sepele dan jarang ditulis. Dua judul yang disebut menonjol adalah Ada Apa dengan Pisang? dan Mengutuk dan Merayakan Masturbasi. Yang pertama membahas pisang—secara spesifik disebut tentang pabrik pisang yang menguasai dunia—sementara yang kedua mengangkat masturbasi, topik yang bahkan untuk diucapkan pun masih dianggap tabu oleh sebagian orang.
Selain itu, ada pula esai tentang sebuah barbershop di Jakarta yang hanya mau mencukur pelanggan dengan caranya sendiri. Dalam esai berjudul Kebebasan dan Keberanian, detail dan cara bertutur Dea disebut menyenangkan, serta dinilai sebagai model penulisan yang belum banyak dilakukan penulis Indonesia.
Kesedihan sebagai benang merah
Meski ada komedi dan bahasan remeh-temeh, ulasan menyimpulkan kesedihan tetap menjadi warna dominan. Hal itu ditunjukkan antara lain melalui dua esai yang memakai kata “kesedihan” dan “sedih” pada judulnya: Kesedihan yang Menguatkan dan Kisah Sedih, Perang, dan Musuh yang Diciptakan.
Dalam Kesedihan yang Menguatkan, Dea membahas istilah khusus untuk melankolia kolektif dalam bahasa Portugis dan Turki, yakni saudade dan huzun. Esai itu ditutup dengan pernyataan bahwa bahasa Indonesia tidak memiliki istilah khusus untuk melankolia kolektif, dan mengaitkannya dengan ketidakmampuan mengenal kesedihan bersama meskipun sejarah dipenuhi kekalahan, penderitaan, dan tragedi.
Sementara itu, Kisah Sedih, Perang, dan Musuh yang Diciptakan menjabarkan dampak buruk permusuhan, perang, serta penderitaan yang mengikutinya.
Tidak perlu dibaca berurutan, tetapi sulit menghindar
Ulasan menekankan bahwa kumpulan esai ini tidak dibangun dari satu tema tunggal dan tidak harus dibaca berurutan dari awal hingga akhir. Secara teori, pembaca bisa memilih esai yang menghibur lebih dulu dan menyisakan yang lain. Namun, menurut penulis ulasan, hal itu sulit dilakukan karena sejak esai pembuka—yang mengisahkan perjalanan di Pulau Biawak—nuansa melankolis sudah terasa. Meski bercerita tentang perjalanan yang lazimnya menyenangkan, cara bertutur dan deskripsi yang ritmis disebut menghadirkan kesyahduan yang menyentuh emosi.
Gaya prosa yang disebut segar
Secara keseluruhan, esai-esai dalam buku ini disebut mengingatkan pada Catatan Pinggir karya Goenawan Mohamad, namun dengan wujud yang dinilai lebih segar dan asyik. Latar belakang Dea sebagai penyair dan penulis cerpen dianggap menjelaskan mengapa esai-esai tersebut terasa nikmat dibaca, karena hadir sebagai penuturan khas prosa, bukan sekadar rangkaian data dan kata-kata yang membosankan.
Penulis ulasan menyebut kerap berhenti cukup lama setelah membaca beberapa esai untuk merenungi gagasan yang terselip di baliknya. Bahkan ketika mencoba berpindah cepat dari bagian-bagian yang sedih, ia mengaku justru kian hanyut dalam bayang-bayang kesedihan.
Penutup tentang bom bunuh diri dan makna hidup
Ulasan juga menyinggung esai terakhir buku ini yang membahas orangtua yang mengikutsertakan anak-anaknya dalam aksi bom bunuh diri. Dalam bagian itu, Dea disebut menegaskan bahwa seseorang seharusnya “menyadari bahwa hidup begitu indah dan hanya itu yang dia punya,” alih-alih meledakkan diri dan berharap iming-iming surga dengan membuat banyak orang terluka dan sedih karena kehilangan.

