ANKARA — Direktorat Komunikasi Turki pada Senin merilis buku berjudul Kontribusi Turki untuk Stabilitas: Diplomasi Multidimensi untuk Perdamaian. Buku ini diterbitkan dalam bahasa Turki dan Inggris.
Publikasi tersebut memaparkan langkah-langkah yang diklaim Turki telah ditempuh untuk membantu mengakhiri perang antara Rusia dan Ukraina serta menjaga stabilitas regional.
Empat bagian utama
Buku ini disusun dalam empat bagian, yaitu:
Kepemimpinan Global dalam Membangun Dunia yang Damai
Sikap Turki anti-Perang
Menjaga Saluran Dialog Terbuka
Diplomasi Kemanusiaan dan Kerjasama Saling Menguntungkan
Pada bagian pertama, buku tersebut menguraikan intensitas lalu lintas diplomasi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dengan Ukraina dan Rusia, serta dengan organisasi internasional seperti NATO dan Uni Eropa.
Bagian kedua membahas upaya Turki untuk mencegah perang, termasuk inisiatif diplomatik yang disebut mendukung integritas teritorial Ukraina dan seruan untuk gencatan senjata.
Bagian ketiga menggambarkan peran Turki dalam menjaga saluran dialog tetap terbuka di tengah krisis Rusia-Ukraina. Pada bagian ini juga disoroti posisi Turki sebagai faktor penyeimbang antara kedua negara.
Sementara itu, bagian terakhir menekankan pendekatan diplomasi yang menempatkan rakyat sebagai fokus, termasuk perhatian terhadap perlindungan warga sipil. Buku ini juga memuat peran Turki dalam upaya memastikan keamanan di Laut Hitam serta pembukaan koridor gandum.
Pernyataan Erdogan dalam pendahuluan
Dalam bagian pendahuluan, Erdogan menyatakan Turki melakukan upaya diplomasi secara intens untuk mendorong terbentuknya perdamaian antara Rusia dan Ukraina.
“Setiap orang harus bertindak dengan rasa tanggung jawab yang sama untuk mencegah tragedi kemanusiaan baru, terutama hilangnya nyawa dan migrasi secara paksa,” kata Erdogan.
Erdogan juga menilai NATO telah menjalankan peran “sangat penting” dalam keamanan dan stabilitas sejak didirikan. Ia menyebut aliansi itu turut bertanggung jawab menyelesaikan persoalan dalam arsitektur keamanan global “tanpa penundaan”.
Selain itu, ia menyerukan solidaritas penuh di antara negara-negara anggota NATO, baik dalam kerangka aliansi maupun hubungan bilateral.
“Kami memenuhi tanggung jawab kami sebagai sekutu yang dapat diandalkan dalam menghadapi tantangan yang dihadapi oleh aliansi NATO. Kami akan terus berkontribusi pada pembentukan perdamaian, kemakmuran, dan stabilitas global dalam kerangka kebijakan luar negeri dan misi kemanusiaan kami, seperti yang telah kami lakukan sejauh ini,” ujar Erdogan.

