Tren pariwisata global disebut mengalami pergeseran seiring meningkatnya kebutuhan wisatawan akan pengalaman yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membantu pemulihan tubuh dan mental. Dalam perkembangan ini, wisata kesehatan atau wellness tourism menjadi salah satu bentuk perjalanan yang kian diminati karena menawarkan tujuan pulang dengan kondisi lebih bugar, pikiran lebih jernih, dan energi yang kembali pulih.
Indonesia dinilai memiliki modal alam dan budaya yang mendukung pengembangan sektor tersebut, mulai dari hutan tropis, tradisi penyembuhan, hingga praktik spiritual yang beragam. Potensi ini kemudian dirangkum dalam sebuah konsep bernama Wellness Etnaprana, yang mulai diterapkan di kawasan hutan Perhutani melalui anak usahanya, Econique. Konsep tersebut menempatkan hutan bukan semata sebagai lokasi rekreasi, tetapi juga sebagai ruang terapi yang disebut memiliki manfaat kesehatan yang dapat dibuktikan secara ilmiah.
Data Global Wellness Institute mencatat ekonomi wellness global mencapai 6,3 triliun dolar pada 2023 dan diproyeksikan mendekati 9 triliun dolar pada 2028. Di dalamnya, sektor wellness tourism disebut sebagai yang tumbuh paling cepat dan diperkirakan menyentuh 2,05 triliun dolar pada 2034. Dengan proyeksi tersebut, Indonesia dipandang perlu mengambil peran agar tidak sekadar menjadi pasar, melainkan ikut merebut peluang ekonomi melalui model pariwisata yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Salah satu aspek yang disorot adalah potensi terapi dari hutan tropis, termasuk keberadaan phytoncides, senyawa volatil yang dilepaskan pohon untuk melindungi diri dari patogen. Ketika terhirup manusia, senyawa ini disebut memicu respons positif. Riset medis yang dirujuk dalam konsep tersebut menyebut phytoncides dapat menurunkan hormon stres, memperkuat sistem kekebalan tubuh, memperbaiki kualitas tidur, dan meningkatkan suasana hati. Fenomena ini ikut mendorong popularitas praktik mandi hutan atau forest bathing sebagai terapi alami.
Keunggulan lain yang dikemukakan adalah biodiversitas hutan Indonesia yang lebih kaya dibanding hutan subtropis, sehingga potensi manfaat kesehatannya diyakini lebih besar. Di luar aspek alam, Indonesia juga memiliki tradisi pengobatan berbasis herbal yang telah dipraktikkan sejak lama melalui jamu. Herbal Nusantara disebut telah mendapat pengakuan internasional sebagai warisan budaya UNESCO.
Selain itu, terdapat pula ritual spiritual seperti melukat di Bali serta praktik pemurnian energi di sejumlah wilayah Nusantara. Ragam praktik ini dinilai menawarkan pengalaman penyembuhan yang tidak hanya menyasar aspek fisik, tetapi juga psikologis. Ketika jamu, ritual tertentu, dan mandi hutan dipadukan dalam program terapi yang terstruktur, nilai wisata dan ekonominya disebut berpotensi menjadi lebih kuat dan kompetitif.
Dalam pengembangannya, Perhutani sebagai pemegang mandat pengelolaan hutan di Jawa dan Madura melihat peluang pada sektor ini. Bersama Econique, destinasi Etnaprana dikembangkan dengan standar pelayanan internasional dengan tetap menekankan kelestarian alam. Keterlibatan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) juga menjadi salah satu elemen yang ditekankan, karena masyarakat sekitar hutan diposisikan sebagai pelaku langsung, mulai dari pemandu wisata, praktisi jamu, hingga penyedia layanan budaya.
Melalui skema tersebut, manfaat ekonomi diharapkan mengalir ke desa-desa hutan yang selama ini berada di garis depan perlindungan lingkungan. Pengembangan wisata kesehatan juga dipandang sejalan dengan kebutuhan masyarakat modern yang menghadapi tekanan hidup semakin tinggi dan mencari cara pemulihan tanpa bergantung pada obat kimia atau perawatan medis invasif.
Konsep Wellness Etnaprana digambarkan sebagai contoh transformasi pariwisata yang lebih berorientasi pada pemulihan, keberlanjutan, dan keterlibatan masyarakat. Dalam kerangka itu, wisata tidak lagi hanya dipahami sebagai aktivitas datang, berfoto, lalu pulang, melainkan sebagai pengalaman yang menargetkan pemulihan fisik dan penguatan mental, sekaligus mendorong ekonomi hijau berbasis kawasan hutan.

