BERITA TERKINI
FOMO Wellness Fisik: Cara Gen Z Mengubah Tren Media Sosial Menjadi Gaya Hidup Sehat

FOMO Wellness Fisik: Cara Gen Z Mengubah Tren Media Sosial Menjadi Gaya Hidup Sehat

Generasi Z kerap disebut sebagai generasi yang memiliki akses luas terhadap teknologi, informasi, dan berbagai peluang. Namun di sisi lain, tidak sedikit dari mereka yang justru merasa kehabisan energi untuk menjalani hidup sehat. Kebiasaan menatap layar gawai dalam waktu lama membuat aktivitas fisik tersisih, sementara waktu bergerak tergantikan oleh rutinitas menggulir media sosial. Dampaknya, tubuh lebih cepat lelah, emosi mudah berubah, dan rasa bahagia terasa semakin jauh.

Kondisi ini tidak semata-mata dipandang sebagai kesalahan individu. Gen Z tumbuh di tengah kesibukan orang tua dan derasnya arus digital. Media sosial menawarkan hiburan dan koneksi, tetapi juga dapat menimbulkan rasa terasing. Dalam situasi tersebut, kesadaran terhadap wellness fisik—gaya hidup aktif dan sehat sebagai fondasi kebahagiaan—menjadi semakin penting untuk dibangun kembali.

Menariknya, dorongan untuk hidup sehat tidak selalu harus datang dari nasihat panjang atau kampanye formal. Salah satu pendekatan yang dinilai dekat dengan keseharian Gen Z adalah FOMO (fear of missing out). Selama ini FOMO sering dikaitkan dengan sisi negatif, seperti kecemasan karena takut tertinggal tren. Namun, ketika diarahkan pada kebiasaan baik, FOMO dapat menjadi pemicu yang efektif.

Bayangkan bila rasa “takut ketinggalan” bukan lagi tentang gosip viral, melainkan tentang teman yang sudah bergabung dengan komunitas lari, mulai memilih makanan sehat, atau rutin mengikuti kelas yoga. Dorongan untuk ikut serta dapat mendorong lebih banyak anak muda bergerak dan mencoba kebiasaan baru yang lebih sehat.

Media sosial kerap menjadi pintu masuknya. Konten video singkat tentang olahraga ringan, tantangan minum air putih, atau dokumentasi gaya hidup sehat dapat menyebar cepat dan memengaruhi kebiasaan. Di sejumlah kota, tren serupa mulai terlihat melalui kemunculan komunitas lari pagi, pesepeda, hingga pendaki gunung muda. Dalam konteks ini, wellness tidak lagi dipandang sebagai kewajiban, melainkan gaya hidup yang dianggap relevan dan menarik.

Meski demikian, perubahan perilaku tidak dapat dilepaskan dari dukungan lingkungan sosial. Peran orang tua, keluarga, dan teman sebaya dinilai besar dalam menanamkan kebiasaan wellness fisik. Langkahnya dapat dimulai dari hal sederhana, seperti makan bergizi, beraktivitas fisik, dan menjaga kebersihan diri.

Orang tua dapat menjadi teladan melalui kebiasaan kecil, misalnya mengajak anak bangun pagi, berolahraga ringan, lalu sarapan sehat tanpa gawai di meja makan. Akhir pekan bisa diisi dengan kegiatan luar ruang seperti bersepeda, berjalan kaki, atau membersihkan taman. Selain berdampak pada kesehatan tubuh, aktivitas bersama juga dapat memperkuat hubungan emosional yang kerap tergeser oleh interaksi melalui layar.

Seiring waktu, kebiasaan-kebiasaan sederhana ini dapat membentuk budaya baru. Ketika menjaga tubuh menjadi rutinitas yang menyenangkan, dorongan untuk hidup sehat tidak lagi terasa sebagai paksaan. Bahkan, FOMO bisa berubah menjadi dorongan positif—rasa enggan tertinggal dari kebiasaan baik yang dilakukan orang-orang di sekitar.

Pada akhirnya, wellness fisik bukan sesuatu yang terbentuk dalam semalam. Ia tumbuh dari kesadaran, keteladanan, dan konsistensi. Ketika manfaatnya mulai dirasakan—tidur lebih nyenyak, pikiran lebih jernih, dan energi meningkat—kebiasaan itu berpeluang bertahan. Di tengah era digital yang kerap mengukur kebahagiaan lewat jumlah “like” atau “view”, keseimbangan tubuh dan pikiran kembali diingatkan sebagai sumber bahagia yang lebih mendasar, dengan wellness fisik sebagai salah satu pintunya.