Kisah-kisah tentang “anak bulu” (anabul) kerap menghadirkan kehangatan. Tingkah anjing dan kucing yang ramai beredar di media sosial membuat sebagian orang terdorong untuk ikut memelihara hewan di rumah, terutama ketika pandemi membatasi aktivitas di luar.
Salah satu cerita yang kerap dikenang adalah Marley, anak anjing labrador yang sangat aktif dan dikenal mampu mengunyah apa pun di sekelilingnya. Marley menemani perjalanan keluarga John dan Jen Grogan hingga akhir hidupnya. Cerita itu berasal dari memoar yang kemudian diangkat menjadi film komedi romantis Marley & Me, yang disebut menjadi film nomor satu pada Natal 2008.
Seiring waktu, kisah semacam itu dinilai tak pernah usang. Apalagi, pandemi ikut mendorong masyarakat mempertimbangkan memelihara anabul untuk menemani kegiatan di rumah. Media sosial pun memperlihatkan meningkatnya anekdot dan ragam cerita tentang kehidupan bersama anjing atau kucing.
Tren kepemilikan hewan peliharaan meningkat
Data The Humane Society mencatat peningkatan jumlah rumah tangga di Amerika Serikat yang memelihara anjing atau kucing. Pada 2020, diperkirakan ada 84,9 juta rumah tangga atau 67 persen dari total rumah tangga di AS yang memiliki hewan peliharaan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan 2016, yakni 79,7 juta rumah tangga atau 65 persen.
Di Indonesia, keputusan memelihara anjing atau kucing juga menguat pada masa pandemi. Disebutkan, Frits Josef Roland Siwy di Tangerang Selatan, Banten, mengadopsi anak anjing jenis husky pada Agustus 2020. Sena El Rumi memperoleh izin orangtuanya untuk memelihara kucing pada Juli 2020. Sementara Yolenta Natania menerima hadiah ulang tahun berupa anjing shih tzu pada Juni 2020.
Para orangtua menyebut keputusan memelihara anabul terdorong situasi pandemi yang membatasi ruang gerak anak. Kehadiran hewan peliharaan diharapkan menjadi teman selama masa pandemi dan membuat suasana rumah lebih ramai.
Adopsi dinilai membawa dampak positif
Di tengah tren mengasuh hewan peliharaan, pilihan untuk mengadopsi anjing atau kucing diharapkan ikut meningkat. Meski setiap orang memiliki preferensi, adopsi dinilai dapat berdampak baik bagi kesejahteraan hewan secara umum.
Adopsi disebut memberi dampak positif berganda, antara lain menebalkan nilai empati melalui pengasuhan hewan telantar. Selain itu, adopsi juga dinilai membantu mengontrol populasi hewan yang masih belum terkendali, salah satunya karena rendahnya tingkat sterilisasi.
The Humane Society merekam perubahan proporsi hewan peliharaan yang berasal dari adopsi dan pembelian. Pada 2016, enam dari sepuluh (63 persen) anjing berasal dari adopsi. Angka itu naik menjadi 73 persen pada 2017, namun kembali menurun menjadi 63 persen pada 2020.
Dalam catatan tersebut, hewan adopsi mencakup hewan dari penampungan, keturunan dari hewan peliharaan kerabat, atau hewan liar dan telantar. Sementara hewan yang dibeli berasal dari toko peliharaan atau peternak.
Penurunan tingkat adopsi juga dipantau oleh 24PetWatch. Dari 1.191 penampungan di AS sepanjang Maret 2020–Maret 2021, tercatat penurunan adopsi sebesar 24 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode itu, jumlah anjing dan kucing yang diadopsi tercatat 977.202 ekor.
Di sisi lain, terdapat kenaikan pengasuhan sementara (foster) sebesar 19 persen. Disebutkan, saat ini ada 34.753 hewan peliharaan yang diasuh sementara oleh keluarga atau individu. Pengasuhan ini umumnya dilakukan untuk membantu hewan pulih dari sakit atau trauma sebelum mendapatkan keluarga permanen.
Urgensi adopsi di Indonesia
Di Indonesia, pilihan adopsi disebut memiliki urgensi tinggi. Keterbatasan dana perawatan bagi anjing, kucing, atau hewan telantar di penampungan membuat pemenuhan kualitas hidup yang memadai menjadi tantangan.
Hewan telantar juga kerap berada dalam kondisi tidak prima sehingga membutuhkan perawatan ekstra. Pejaten Shelter disebut menampung lebih dari seribu anjing yang kebanyakan dalam kondisi tidak sehat. Selain itu, Animal Defenders juga disebut mencurahkan perhatian pada hewan-hewan korban banjir.
Komitmen sebelum memelihara
Mengasuh hewan peliharaan membutuhkan komitmen kuat. Keputusan yang diambil secara spontan, bukan berdasarkan empati, dinilai dapat memperburuk ekosistem. Tidak jarang, hewan di penampungan atau yang berkeliaran liar merupakan hewan rumahan yang dibuang pemiliknya karena tak diinginkan lagi.
Untuk menghindari tindakan yang bertentangan dengan semangat empati, keinginan memiliki anabul dapat disalurkan melalui langkah lain sebelum benar-benar berkomitmen merawat. Beberapa pilihan yang disebutkan antara lain:
- Memberikan donasi kepada organisasi pemerhati hewan telantar, seperti Animal Friends Jogja, Jakarta Animal Aid Network, atau penampungan lain yang dapat dijangkau melalui media sosial.
- Melakukan kerja sukarela, misalnya mengikuti program penyelamatan hewan terdampak bencana atau program sterilisasi kucing dan anjing liar untuk mengontrol populasi.
- Melakukan langkah sederhana secara mandiri, seperti memberi makan hewan telantar di lingkungan sekitar.
- Menjadi keluarga asuh (foster) untuk mengenal tanggung jawab merawat hewan yang membutuhkan perawatan sebelum mendapatkan keluarga permanen.
Langkah-langkah tersebut dipandang dapat memperkaya pengalaman sekaligus menebalkan empati sebelum seseorang mengambil keputusan jangka panjang untuk memelihara anabul.

