BERITA TERKINI
Thee Marloes Cerita Dampak Bergabung dengan Big Crown Records hingga Arah Album “Di Hotel Malibu”

Thee Marloes Cerita Dampak Bergabung dengan Big Crown Records hingga Arah Album “Di Hotel Malibu”

Trio asal Surabaya, Thee Marloes, membagikan cerita di balik perjalanan musik mereka setelah menjadi salah satu band Asia pertama yang bergabung dengan label independen asal New York, Big Crown Records. Dalam perbincangan, mereka mengulas pengaruh kerja sama tersebut terhadap proses kreatif, cara kerja tur di luar negeri, pilihan bahasa lirik, hingga gagasan yang membentuk album Di Hotel Malibu (2026).

Natassya menyebut dukungan Big Crown terasa menyeluruh, mulai dari pembuatan album hingga kebutuhan tur. Ia menilai pendekatan label tersebut “kekeluargaan” dan terlibat langsung pada hal-hal yang dibutuhkan band. Raka menambahkan, pengalaman itu juga membuka pemahaman tentang cara kerja industri independen di sana, terutama saat berkoordinasi dengan booking agent. Ia menceritakan bagaimana detail teknis tur harus ditangani rapi—dari penyewaan backline hingga hal-hal kecil seperti kabel yang perlu dicantumkan dalam rider. Menurutnya, apa yang tidak diminta tidak akan otomatis tersedia.

Selain sisi teknis, dorongan kreatif juga menjadi bagian dari proses. Raka mengatakan Big Crown kerap memberi sudut pandang tentang potensi lagu dan mendorong mereka untuk menulis lebih banyak materi, tanpa mengunci pilihan artistik. Bagi band, proses itu membiasakan mereka menyaring dan memilih karya yang dianggap paling tepat.

Soal penulisan lirik, Thee Marloes tidak membatasi diri pada satu bahasa. Natassya menegaskan label tidak mengharuskan mereka menulis dalam bahasa Inggris maupun Indonesia, sehingga prosesnya berjalan mengikuti kebutuhan lagu. Raka menyebut bahasa Indonesia memberinya ruang lebih luas untuk bermain rima dan tata bahasa, sementara dalam bahasa Inggris ada keterbatasan karena bukan penutur asli. Meski demikian, mereka memandang bahasa bukan lagi batas utama bagi pendengar.

Untuk album terbaru, Natassya mengungkapkan ada satu lagu yang memakai bahasa Batak, bahasa asalnya. Ia melihat bahasa sebagai “instrumen” yang dapat membawa nuansa musik, bukan sesuatu yang harus dibakukan. Sementara itu, Raka menyebut mereka tidak berencana memakai bahasa Jawa karena khawatir justru terasa “terlalu rese” dalam konteks lirik, mengingat kebiasaan bertutur mereka lebih dekat dengan dialek Surabaya.

Pembentukan selera musik Thee Marloes juga tak lepas dari ekosistem Surabaya. Raka bercerita ia tumbuh di lingkungan kolektif DJ dan band dengan ragam referensi—mulai dari jamaican sound, reggae, hingga ska—yang memengaruhi cara mereka melihat scene dan pentingnya “bentuk nyata” dalam berkarya. Ia juga terbiasa menelusuri akar referensi musik dengan bertanya siapa memengaruhi siapa, sehingga membawanya pada pemahaman yang lebih dalam atas sumber-sumber musikal.

Natassya menambahkan, pertemuan mereka terjadi di satu gig, saat obrolan mengungkap bahwa referensi dan “roots”-nya beririsan. Meski demikian, perbedaan latar tetap ada. Tommy mengakui pada awalnya ia lebih banyak mendengar hardcore dan punk, lalu mulai mengeksplor hal baru lewat referensi yang dibawa Raka. Namun Raka menilai, sejak awal mereka sudah memahami batas selera yang tidak akan dibawa ke band.

Dari sisi sikap bermusik, Natassya menyoroti budaya profesional di scene Surabaya sebagai pelajaran penting. Ia melihat banyak band berangkat dari hobi dan “senang-senang”, tetapi mempertanyakan keberlanjutan jika kesenangan itu hilang. Baginya, komitmen dan keseriusan untuk berkarya menjadi kunci. Raka menambahkan, menyatukan banyak kepala dalam band besar sering kali menyulitkan, terutama bila referensi dan upaya tiap orang tidak sejalan.

Terkait label “soul revival” yang kerap dilekatkan pada mereka, Thee Marloes menyatakan tidak ingin terkotakkan. Natassya mengatakan mereka dan Big Crown sama-sama tidak ingin band ini distereotipkan sebagai soul revival. Raka menegaskan, bagi mereka soul tidak perlu “di-revive” karena selalu ada; yang mereka adaptasi adalah pendekatan bunyi, cara rekam, dan produksi. Ia juga menekankan bahwa mereka tidak mengalami konteks sosial dan energi yang sama seperti era para musisi yang menjadi rujukan, sehingga mereka memilih mengolah pengaruh itu tanpa berusaha meniru. Menurutnya, relevansi tidak perlu dipaksakan karena mereka hidup di era ini, sehingga perbedaan akan muncul secara alami.

Dalam hal pesan optimisme, Raka mengatakan mereka menulis lirik berdasarkan apa yang sedang dirasakan, sambil tetap menghormati akar soul dari black culture tanpa mengklaim diri sebagai band soul “OG”. Ia menyebut mereka lebih nyaman dipandang sebagai band pop dengan referensi soul. Ke depan, mereka juga ingin keluar dari “kolam” bunyi tertentu karena merasa eksplorasi membuat musik lebih jujur bagi diri mereka.

Ketika ditanya kemungkinan kembali ke nuansa awal seperti pada single “Nanti” yang lebih psychedelic/funk-rock dengan elemen solo gitar menonjol, Raka mengatakan album yang sedang dibahas sudah selesai sehingga arah itu tidak ada di album ini. Tommy mengingatkan bahwa fase tersebut merupakan titik awal ketika formasi masih berempat bersama Bima, sebelum berkembang menjadi paket bunyi Thee Marloes seperti sekarang. Raka menambahkan, beberapa pilihan bunyi masih dipakai, hanya cara bernyanyinya yang berubah, dan ia membuka kemungkinan elemen itu muncul lagi suatu saat.

Nuansa nostalgik dan romantis juga kerap terasa dalam karya mereka, termasuk lirik yang mereka sebut bisa terdengar “cheesy”. Raka menjelaskan ia melihat tradisi soul sebagai gaya yang lugas: jika membicarakan cinta atau hal lain, disampaikan tanpa berputar-putar. Ia mempertanyakan perlunya menyamarkan kata-kata bila tidak benar-benar dimaknai. Natassya menimpali bahwa “ternyata enak jadi cheesy” dan mengutip lirik Stevie Wonder, “Signed, sealed, delivered, I’m yours.”

Raka menilai kesan “cheesy” juga bergantung pada cara penyampaian. Ia menyebut mereka kerap mengemas lirik yang manis dengan musik yang lebih “kotor” atau berat—misalnya lewat groove yang lebih hip-hop, gitar overdrive, atau lead saksofon—sebagai kontras agar emosi tidak jatuh menjadi satu dimensi.

Dalam proses penulisan, Raka menggambarkan beberapa lagu lahir dari bayangan adegan tertentu. “Di Hotel Malibu” ia bayangkan di ruang tunggu bandara, sementara “Under The Silver Moon” terbayang sebagai dua orang di pantai dengan suasana seperti adegan pasca-apokaliptik. Ia juga menyebut lirik “I’d Be Lost” terpicu setelah menonton film Interstellar (2014).

Soal penampilan, mereka juga menjawab pertanyaan dari sutradara beberapa video musik mereka, Sarahdiva Rinaldy, tentang inspirasi fesyen. Raka menyebut kakeknya dan desainer sekaligus penjahit Scott Fraser sebagai rujukan. Natassya menyebut era Motown seperti Diana Ross dan Aretha Franklin, serta opungnya. Tommy menambahkan, mereka memiliki penjahit masing-masing dan berusaha mengambil referensi lalu menyesuaikannya dengan era sekarang agar tidak sekadar meniru.

Menjelang Di Hotel Malibu (2026), Thee Marloes menggambarkan album ini sebagai rangkuman perjalanan dua tahun terakhir. Raka mengatakan tema liriknya banyak berupa pertanyaan untuk diri sendiri—tentang hidup, waktu, dan keputusan di usia yang terasa semakin menuntut kehati-hatian. Secara musikal, mereka ingin menerjemahkan apa yang dialami, dilihat, didengar, dan dirasakan bersama selama sesi rekaman, serta menghadirkan bunyi yang sedekat mungkin dengan apa yang mereka dengar di studio.

Bagi Natassya, album kedua ini menandai perjalanan personal untuk melihat potensi diri dan keberanian mengambil langkah, terutama ketika usia dan keputusan terasa bisa mengubah banyak hal. Ia menekankan pentingnya mengenal diri sendiri. Sementara Tommy menyebut album kedua menjadi titik balik untuk lebih serius mengeksplor referensi. Di sela pembahasan, mereka juga menyelipkan refleksi ringan tentang tubuh yang tak lagi semudah dulu saat harus mengangkat ampli atau menempuh perjalanan jauh.

Lewat cerita-cerita itu, Thee Marloes menempatkan musik sebagai ruang eksplorasi yang tidak ingin dibatasi label tertentu—baik dalam genre, bahasa, maupun cara menyampaikan emosi—sembari membawa pengalaman Surabaya dan pembelajaran dari kerja sama internasional ke dalam karya-karya mereka berikutnya.