BERITA TERKINI
Tari Topeng Sampulur Dipentaskan di Sukamantri, Angkat Warisan Bebegig dalam Garapan Kontemporer

Tari Topeng Sampulur Dipentaskan di Sukamantri, Angkat Warisan Bebegig dalam Garapan Kontemporer

Alunan tetabuhan khas Sunda menggema dari beranda Desa Sukamantri pada Senin, 13 Januari 2025, setelah azan Isya dan hujan mereda. Suasana itu mengundang warga berkumpul untuk menyaksikan sebuah pagelaran tari yang sarat makna.

Pementasan tersebut merupakan bagian dari tugas akhir Agus Mubarok, mahasiswa Jurusan Sendratasik FKIP Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS). Melalui Tari Topeng Sampulur, Agus menghadirkan karya yang ia sebut sebagai wujud cinta dan bakti kepada tanah kelahirannya.

Tari Topeng Sampulur Sukamantri dikenal sebagai salah satu warisan budaya Sunda dari Kabupaten Ciamis. Kesenian ini berakar dari tradisi Bebegig Sukamantri yang pada awalnya berfungsi untuk menakut-nakuti hama di sawah.

Seiring perkembangan waktu, Bebegig bertransformasi menjadi seni pertunjukan dengan muatan filosofi. Topeng yang menyeramkan dan rambut dari ijuk kawung menjadi ciri visual yang menonjol, sekaligus menghadirkan simbol pelindung serta narasi perjuangan melawan ancaman terhadap harmoni lingkungan.

Dalam garapannya, Agus memadukan gerak tradisional Sunda dengan sentuhan kontemporer. Tari ini dibawakan oleh 11 penari, dengan delapan penari utama terdiri dari empat perempuan dan empat laki-laki, sementara penari lainnya berperan mendukung narasi. Pementasan tersebut menggambarkan perjuangan Prabu Sampulur dalam menjaga tanah Sukamantri.

Penata musik Ahmad Greg menjelaskan bahwa iringan menggunakan instrumen khas Bebegig, seperti dulag dan kolotik. “Kami juga menambahkan elemen musik situasional yang menciptakan kendaraan imajinasi,” kata Ahmad Greg. Pada garapan helaran, perpaduan berbagai elemen bunyi turut memperkaya pengalaman audiens.