Pemerintah Swedia memutuskan mengubah arah kebijakan pendidikan dengan kembali memperkenalkan buku-buku cetak sebagai media pembelajaran di sekolah. Langkah ini diambil setelah sekitar 15 tahun sistem pendidikan di negara tersebut banyak mengandalkan perangkat digital seperti komputer dan tablet.
Swedia sebelumnya optimistis digitalisasi dapat membuat pendidikan lebih mudah diakses sekaligus mempersiapkan siswa menghadapi tuntutan abad ke-21. Pada 2009, negara itu memutuskan mengganti buku cetak dengan perangkat digital sebagai media pembelajaran. Namun, dalam perkembangannya, transisi tersebut dinilai tidak memberikan hasil sebagaimana diharapkan.
Sejumlah orangtua menyampaikan adanya tantangan yang muncul, termasuk kekhawatiran terhadap menurunnya keterampilan dasar membaca dan menulis. Para pendidik juga menilai siswa lebih sulit berkonsentrasi dan mengingat informasi ketika belajar melalui layar digital dibandingkan dengan metode berbasis buku cetak.
Meski Swedia masih mempertahankan peringkat tinggi dalam standar pendidikan global, sejumlah indikator menunjukkan penurunan keterampilan jika dibandingkan dengan negara lain. Data Studi Kemajuan dalam Literasi Membaca Internasional (PIRLS) mencatat skor rata-rata siswa kelas 4 di Swedia turun dari 555 pada 2016 menjadi 544 pada 2021. Pada tahun yang sama, Singapura berada di peringkat teratas dengan skor 587, naik dari 576 pada 2016.
Penurunan tersebut tidak sepenuhnya dikaitkan dengan pembelajaran berbasis teknologi karena pandemi Covid-19 juga disebut sebagai faktor yang memengaruhi. Namun, penelitian Dewan Riset Swedia untuk Kesehatan, Kehidupan Kerja, dan Kesejahteraan (Forte) menyebut pembelajaran dengan teknologi digital yang menuntut siswa menatap layar berjam-jam dapat menghambat kemampuan fokus dalam memproses informasi yang kompleks.
Pakar pendidikan di Institut Pendidikan Nasional Swedia, Anna Lindstrom, menyatakan dampak layar dengan lampu latar terhadap konsentrasi dan pemahaman dinilai lebih besar dari perkiraan. Ia juga menyoroti kebiasaan siswa yang kerap menggunakan perangkat untuk bermain gim atau menjelajahi internet selama jam sekolah, yang dinilai mengurangi keterlibatan di kelas.
Kekhawatiran serupa disampaikan orangtua. Seorang ibu bernama Maria Svensson mengatakan ia melihat anaknya terdistraksi oleh gim dan media sosial selama jam sekolah, yang berdampak pada prestasi akademis.
Wacana mengembalikan buku cetak sebenarnya telah mencuat sejak 2022. Saat itu, Menteri Sekolah Swedia Lotta Edholm menyatakan siswa membutuhkan lebih banyak buku pelajaran dan menegaskan pentingnya buku fisik untuk pembelajaran. Ia juga mengumumkan keinginan pemerintah membatalkan keputusan badan pendidikan nasional yang mewajibkan penggunaan perangkat digital di prasekolah pada Agustus 2023.
Pemerintah bahkan berencana melangkah lebih jauh dengan mengakhiri pembelajaran digital untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun. Sejalan dengan itu, Institut Karolinska Swedia menyampaikan bukti ilmiah yang menyimpulkan perangkat digital dapat merusak pembelajaran, serta mendukung pengembalian buku cetak untuk memperkuat keterampilan dasar siswa.
Untuk mendukung perubahan kebijakan tersebut, Pemerintah Swedia mengalokasikan investasi 104 juta euro atau sekitar Rp 1.748.167.200.000 pada periode 2022 hingga 2025. Dana ini ditujukan untuk menyediakan buku cetak bagi setiap siswa untuk setiap mata pelajaran, sekaligus mendukung kampanye kesadaran dan membantu sekolah selama masa transisi.
Menteri Pendidikan Lena Johansson menyatakan kebijakan ini bertujuan mencari keseimbangan. Ia menegaskan Swedia tidak meninggalkan perangkat digital sepenuhnya, tetapi memastikan teknologi berfungsi melengkapi, bukan menggantikan, aspek dasar pembelajaran. Dengan kembali menggunakan buku cetak, pemerintah berharap dapat membangun kembali keterampilan belajar fundamental sembari tetap memanfaatkan alat digital sebagai nilai tambah.

