Sudirman Said memanfaatkan momentum wisuda perdana Universitas Harkat Negeri (UHN) di Tegal untuk menyampaikan sikap tentang arah pendidikan tinggi di Indonesia. Di hadapan para lulusan, ia menekankan perlunya kampus kembali pada peran substantifnya: tidak terjebak menjadi institusi elitis yang jauh dari persoalan masyarakat, tetapi juga tidak sepenuhnya tunduk pada logika pasar yang membuat identitas intelektual memudar.
Dalam pidatonya, Sudirman mengajukan gagasan agar perguruan tinggi bergerak dari sekadar center of excellence menuju center of solution. Jika selama ini ukuran keunggulan kampus kerap dilekatkan pada publikasi ilmiah, akreditasi, dan peringkat, ia menilai ukuran itu belum cukup. Menurutnya, kampus perlu menghasilkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat.
Gagasan tersebut menggarisbawahi dimensi etika ilmu pengetahuan. Sudirman menekankan bahwa ilmu bukan komoditas pribadi, melainkan amanah yang menuntut tanggung jawab. Ia mengingatkan bahwa pendidikan tinggi kerap direduksi menjadi sarana mobilitas sosial-ekonomi—gelar sebagai tiket kerja—alih-alih instrumen perubahan sosial. Karena itu, ia mendorong agar lulusan tidak hanya kompeten, tetapi juga memikul tanggung jawab moral.
Namun, pesan normatif itu berhadapan dengan tantangan yang nyata. Sejumlah persoalan yang mengemuka antara lain tingginya pengangguran terdidik, kesenjangan antara kurikulum dan kebutuhan industri, serta minimnya riset yang benar-benar aplikatif. Dalam konteks ini, seruan moral dinilai berisiko berhenti sebagai retorika jika tidak dibarengi pembenahan struktural.
Di UHN, Sudirman menyebut upaya menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam langkah konkret melalui kerja sama dan program lintas bidang. Salah satu yang disorot adalah kolaborasi dengan Harvard Medical School melalui program Primary Healthcare Impact Lab (PHIL) yang diarahkan untuk menghubungkan pendidikan dengan isu kesehatan publik. Keterlibatan Diah Saminarsih, yang memiliki pengalaman di World Health Organization, turut disebut sebagai bagian dari penguatan proyek tersebut.
Di bidang urban dan keberlanjutan, UHN juga menggandeng Rujak Center for Urban Studies dan Marco Kusumawijaya, serta Global Alliance for Sustainability yang dipimpin William Sabandar. Pendekatan lintas disiplin ini diarahkan pada problem konkret seperti kesehatan primer, urbanisasi pesisir, dan keberlanjutan lingkungan.
Meski demikian, terdapat catatan kritis mengenai keberlanjutan inisiatif tersebut: apakah program-program itu dapat bertahan dalam jangka panjang atau hanya berhenti pada fase awal sebagai proyek reputasi.
UHN juga memperkenalkan Program Beasiswa Nusantara dan rencana Beasiswa ASEAN sebagai bagian dari komitmen memperluas akses pendidikan. Langkah ini relevan mengingat akses pendidikan tinggi di Indonesia masih dipengaruhi faktor ekonomi dan geografis. Namun, sejumlah pertanyaan mengiringi rencana tersebut, mulai dari kapasitas pembiayaan jangka panjang, cara menjaga kualitas di tengah perluasan akses, hingga kemungkinan lulusan kembali berkontribusi di daerah asalnya. Tanpa desain kebijakan yang matang, program beasiswa dinilai berpotensi tidak menghasilkan dampak struktural yang diharapkan.
Di hadapan wisudawan, Sudirman juga menegaskan bahwa wisuda bukan akhir, melainkan awal tanggung jawab. Pesan semacam itu bukan hal baru, tetapi menjadi relevan di tengah krisis kepemimpinan dan kepercayaan publik. Indonesia, menurut sorotan yang mengemuka, tidak kekurangan sarjana; yang kerap dipersoalkan adalah kualitas kepemimpinan, integritas, dan keberanian mengambil tanggung jawab.
Pada akhirnya, gagasan center of solution dibaca sebagai harapan agar kampus menjadi jantung perubahan. Namun, transformasi pendidikan tinggi dinilai tidak mudah dan membutuhkan reformasi tata kelola, pendanaan berkelanjutan, kebebasan akademik, serta ekosistem riset yang sehat. Tanpa prasyarat itu, konsep tersebut berisiko menjadi slogan yang menarik tetapi tidak berisi.
Melalui UHN, langkah yang ditawarkan Sudirman disebut sebagai eksperimen sekaligus taruhan intelektual. Jika berhasil, ia dapat menjadi model perguruan tinggi yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga menghasilkan solusi. Jika tidak, ia berpotensi menambah daftar panjang idealisme yang kandas di hadapan realitas struktural.