Pertanyaan tentang pada usia berapa seseorang merasa paling bahagia kerap memunculkan beragam jawaban. Sejumlah penelitian pun mencoba memetakan kebahagiaan secara lebih terukur, termasuk studi komprehensif yang dilakukan peneliti dari Jerman dan Swiss.
Dalam studi tersebut, peneliti menganalisis lebih dari 400 sampel dengan total lebih dari 460.000 peserta. Mereka menelusuri bagaimana kebahagiaan berubah sepanjang rentang kehidupan dengan menyoroti tiga komponen utama kesejahteraan subjektif: kepuasan hidup, keadaan emosi positif, dan keadaan emosi negatif.
“Kami fokus pada perubahan dalam tiga komponen utama kesejahteraan subjektif yaitu kepuasan hidup, keadaan emosi positif, dan keadaan emosi negatif,” kata Profesor Susanne Bücker, salah satu peneliti, seperti dikutip IFL Science (22/9/2023).
Selama ini, salah satu gagasan yang cukup populer adalah teori kebahagiaan berbentuk U, yang menyebut kesejahteraan cenderung tinggi pada usia 20-an dan saat lanjut usia, lalu menurun pada masa paruh baya. Namun, studi terbaru ini memasukkan data dari berbagai negara dan budaya serta memeriksa beberapa aspek kesejahteraan sekaligus, sehingga memberikan gambaran yang lebih luas.
Hasilnya menunjukkan pola yang berbeda untuk tiap komponen. Kepuasan hidup tercatat menurun pada rentang usia 9 hingga 16 tahun, kemudian meningkat perlahan sampai sekitar usia 70 tahun, sebelum kembali menurun hingga usia 96 tahun.
Sementara itu, keadaan emosi positif cenderung mengalami penurunan secara umum sepanjang hidup, dari usia 9 hingga 94 tahun. Adapun keadaan emosi negatif terlihat berfluktuasi pada usia 9 sampai 22 tahun, lalu menurun selama masa dewasa hingga sekitar usia 60 tahun, sebelum meningkat lagi.
Secara keseluruhan, peneliti menilai perubahan pada emosi positif dan negatif berlangsung lebih dinamis dibanding kepuasan hidup. Temuan ini juga dianggap sejalan dengan pengalaman banyak orang: masa pubertas dan remaja kerap penuh tekanan, perubahan, serta tuntutan sosial, sehingga kepuasan hidup dapat menurun pada periode tersebut. Di usia lanjut, penurunan kesehatan serta kehilangan teman dan orang terdekat dapat ikut memengaruhi turunnya kesejahteraan.
Meski demikian, studi ini menyimpulkan tidak ada jawaban tunggal yang sederhana untuk menentukan usia paling bahagia. Pasalnya, tiap komponen kesejahteraan subjektif menunjukkan pola yang tidak selalu sama sepanjang kehidupan.
Peneliti berharap pemetaan pola ini dapat membantu menyesuaikan upaya peningkatan kesejahteraan bagi kelompok usia berbeda, terutama pada usia di atas 70 tahun yang secara umum menunjukkan kecenderungan penurunan kesejahteraan. Mereka juga menekankan perlunya riset lanjutan, mengingat bukti mengenai efektivitas intervensi kesejahteraan masih terbatas.
Studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Psychological Bulletin.

