BERITA TERKINI
Studi Menilai Pura-pura Bahagia Tak Selalu Buruk, Bisa Memicu Rasa Bahagia

Studi Menilai Pura-pura Bahagia Tak Selalu Buruk, Bisa Memicu Rasa Bahagia

Berpura-pura bahagia saat sebenarnya sedang tidak baik-baik saja kerap dianggap melelahkan dan tidak tulus. Namun, sejumlah kajian menilai kebiasaan ini tidak selalu sia-sia. Dalam kondisi tertentu, tindakan menampilkan ekspresi bahagia justru berpotensi membantu mendorong munculnya perasaan bahagia yang nyata.

Gagasan ini pernah dibahas sejak lama. Mengutip laporan Science Alert, naturalis Charles Darwin termasuk tokoh yang menaruh perhatian pada hubungan antara ekspresi emosi dan perasaan yang dialami seseorang. Pada 1872, Darwin mempertanyakan apakah ekspresi yang ditunjukkan seseorang benar-benar mewakili kondisi emosionalnya.

Dalam teorinya, Darwin menyatakan bahwa mengekspresikan emosi dapat memperkuat emosi itu sendiri. Ia juga menilai simulasi emosi berpotensi membangkitkan emosi tersebut ketika hadir dalam pikiran manusia.

Umpan balik wajah dan emosi

Penelitian setelah Darwin turut menyoroti mekanisme serupa. Sejumlah peneliti menuliskan bahwa ketika seseorang tersenyum, tindakan itu dapat mengaktifkan proses biologis yang berkaitan dengan kondisi emosi secara otomatis.

Menurut mereka, efek “umpan balik wajah” (facial feedback) yang relatif kecil bisa terakumulasi menjadi perubahan yang lebih berarti terhadap kesejahteraan bila terjadi dari waktu ke waktu.

Eksperimen pena tahun 1988

Salah satu studi yang kerap dirujuk dilakukan pada 1988. Dalam penelitian tersebut, sejumlah ahli diminta memegang pena menggunakan gigi untuk mensimulasikan senyum. Pada percobaan lain dalam studi yang sama, pena dipegang dengan bibir untuk mensimulasikan ekspresi netral.

Meski demikian, para peneliti juga mencatat adanya keraguan apakah intervensi berbasis umpan balik wajah dapat menjadi langkah serius untuk meningkatkan kesejahteraan. Mereka menuliskan bahwa efek serupa dari paparan gambar positif terhadap kebahagiaan belum muncul sebagai intervensi kesejahteraan yang dianggap serius, sehingga sebagian (meski tidak semuanya) menilai kecil kemungkinan intervensi umpan balik wajah akan benar-benar terjadi.

Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa berpura-pura bahagia tidak selalu bermakna negatif. Namun, efektivitasnya sebagai cara meningkatkan kesejahteraan masih menjadi perdebatan dan terus diteliti.