BERITA TERKINI
Studi: Ketidaksetaraan Ekonomi Berpotensi Menurunkan Kebahagiaan Warga

Studi: Ketidaksetaraan Ekonomi Berpotensi Menurunkan Kebahagiaan Warga

Membiarkan ketidaksetaraan ekonomi berkembang di suatu negara dapat membuat warganya kurang bahagia, menurut sebuah studi terbaru. Penelitian ini dilakukan oleh Dr David Bartram dari Universitas Leicester dan dijadwalkan dipresentasikan dalam konferensi tahunan daring Asosiasi Sosiologi Inggris pada 21 April 2022.

Studi tersebut menganalisis data dari 78 negara selama sekitar empat dekade, sehingga disebut sebagai penelitian longitudinal terbesar untuk topik sejenis. Bartram menjelaskan bahwa kenaikan ketidaksetaraan tidak hanya berdampak pada kelompok berpendapatan rendah, tetapi juga tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan subjektif kelompok berpendapatan tinggi.

Temuan utama penelitian

Bartram menilai, ketika ketidaksetaraan meningkat, kelompok berpendapatan tinggi tidak selalu merasakan manfaat besar dari keunggulan pendapatan mereka. Sebagian dari mereka cenderung membandingkan diri dengan orang yang lebih kaya sehingga merasa tidak pernah cukup. Sementara itu, kelompok berpendapatan rendah disebut paling merasakan dampaknya karena semakin tertinggal, merasa dikucilkan, dan frustrasi ketika tidak mampu mengejar standar hidup kelompok berpendapatan rata-rata.

Metode: survei kepuasan hidup dan koefisien Gini

Penelitian ini mengkaji data survei kepuasan hidup, di mana responden diminta memberi peringkat kepuasan hidup pada skala 1 hingga 10. Data tersebut kemudian dihubungkan dengan angka koefisien Gini—ukuran statistik yang menggambarkan distribusi pengeluaran per kapita penduduk suatu wilayah—sebagai indikator ketidaksetaraan, untuk periode 1981 hingga 2020.

Contoh dari Inggris

Dalam data yang dikutip dari Inggris, tingkat kepuasan hidup pada 1981 tercatat 7,7 saat negara itu mengalami resesi. Setelah terjadi ledakan ekonomi yang disertai meningkatnya ketimpangan, angka kepuasan hidup turun menjadi 7,4 pada 1999.

Menurut Bartram, pola dari Inggris tersebut mencerminkan temuan yang lebih umum: di negara-negara yang mengalami peningkatan ketidaksetaraan, terdapat dampak negatif yang substansial terhadap kepuasan hidup. Ia juga mencatat ketidaksetaraan telah meningkat di sebagian besar negara kaya dalam beberapa dekade terakhir.