BERITA TERKINI
Studi: Jalur Menuju Kebahagiaan Tidak Sama bagi Setiap Individu

Studi: Jalur Menuju Kebahagiaan Tidak Sama bagi Setiap Individu

Dari mana kebahagiaan berasal—dari dalam diri atau dari kondisi hidup di sekitar kita—telah lama menjadi perdebatan. Selama berabad-abad, pertanyaan ini muncul dalam pembahasan filsafat, psikologi, hingga percakapan sehari-hari: apakah kebahagiaan terutama ditentukan oleh keadaan seperti pekerjaan, hubungan, kesehatan, dan kondisi finansial, atau justru lebih dipengaruhi faktor batin seperti kepribadian dan cara memaknai hidup?

Berbagai laporan tahunan, termasuk World Happiness Report, berupaya mengukur kesejahteraan masyarakat dunia. Namun riset yang kian mendalam menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu mengikuti pola tunggal yang berlaku untuk semua orang.

Temuan terbaru dari sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Human Behaviour menambah perspektif baru. Penelitian yang dipimpin Emorie Beck, asisten profesor psikologi dari University of California, Davis, menyimpulkan bahwa jalan menuju kebahagiaan berbeda-beda bagi tiap individu. Menurut Beck, pemahaman tentang sumber kebahagiaan penting untuk merancang intervensi yang efektif.

Selama beberapa dekade, penelitian kebahagiaan kerap bertumpu pada dua model utama. Pertama, model “bottom-up” yang menilai kebahagiaan sebagai akumulasi kepuasan pada aspek-aspek spesifik kehidupan—seperti pekerjaan, pendapatan, kesehatan, tempat tinggal, dan hubungan pribadi. Semakin puas seseorang pada bagian-bagian itu, semakin tinggi pula kepuasan hidup secara keseluruhan.

Kedua, model “top-down” yang menekankan pengaruh faktor internal, seperti kepribadian, pola pikir, dan kebiasaan emosional. Dalam kerangka ini, praktik kesehatan mental—termasuk terapi atau mindfulness—dipandang dapat meningkatkan kebahagiaan dari dalam diri, bahkan ketika kondisi eksternal tidak ideal. Beck mencontohkan bahwa ada orang yang tetap merasa bahagia meski mengalami peristiwa traumatis.

Studi Beck menawarkan pendekatan yang menggabungkan pengaruh internal dan eksternal, sekaligus mengamatinya dalam jangka panjang. Pendekatan ini disebut “kebahagiaan yang dipersonalisasi”, yakni gagasan bahwa kebahagiaan bersifat unik pada tingkat individu.

Para peneliti menganalisis data 40.074 orang di lima negara—Jerman, Inggris, Swiss, Belanda, dan Australia—yang dikumpulkan melalui survei berulang hingga 33 tahun. Responden diminta menilai kepuasan hidup secara keseluruhan serta lima domain utama: pekerjaan, pendapatan, kesehatan, tempat tinggal, dan hubungan pribadi.

Hasil analisis menunjukkan pola yang beragam. Sebagian responden mengikuti pola bottom-up, ketika kepuasan hidup mereka sangat bergantung pada perubahan di domain-domain spesifik. Sebagian lainnya lebih mencerminkan pola top-down, dengan tingkat kebahagiaan yang relatif stabil meski kondisi hidup berubah. Ada pula responden yang menunjukkan pengaruh dua arah, ketika kondisi hidup dan faktor batin saling memengaruhi. Namun, sebagian lainnya tidak memperlihatkan kecenderungan yang jelas ke salah satu pola.

Secara keseluruhan, sekitar 41,4% hingga 50,8% responden menunjukkan pola satu arah antara kepuasan domain kehidupan dan kepuasan hidup, sementara sekitar 19,3% hingga 25,9% menunjukkan pengaruh dua arah. Temuan ini mengindikasikan bahwa model kebahagiaan yang disusun berdasarkan rata-rata populasi kerap tidak mencerminkan realitas individu. Dua orang dengan penghasilan atau pekerjaan serupa, misalnya, dapat memiliki tingkat kebahagiaan yang sangat berbeda.

Penelitian juga mencatat adanya individu yang tidak menunjukkan hubungan jelas antara kebahagiaan dan aspek kehidupan yang diukur. Kemungkinan, terdapat faktor struktural atau peristiwa hidup tertentu yang berpengaruh tetapi tidak tercakup dalam survei.

Implikasinya, strategi tunggal untuk meningkatkan kebahagiaan dinilai tidak memadai. Perbaikan layanan kesehatan, perumahan, atau peningkatan pendapatan bisa efektif bagi sebagian orang, tetapi belum tentu berdampak bagi yang lain. Demikian pula program kesehatan mental seperti mindfulness atau terapi—hasilnya tidak selalu universal.

Beck menekankan bahwa kebijakan yang efektif perlu disesuaikan dengan individu. Pendekatan ini menantang pemerintah, organisasi, dan profesional kesehatan mental untuk mempertimbangkan bahwa tidak ada resep kebahagiaan yang berlaku sama untuk semua orang.

Meski demikian, pendekatan kebahagiaan yang dipersonalisasi juga menghadirkan tantangan, termasuk membedakan apakah suatu pola benar-benar mencerminkan kecenderungan yang stabil atau sekadar variasi acak. Studi ini—yang didukung National Institute on Aging—dipandang sebagai pijakan menuju cara pandang yang lebih manusiawi tentang kebahagiaan: menghargai perbedaan kebutuhan dan pengalaman tiap orang, bukan semata mengandalkan angka rata-rata.

Pada akhirnya, penelitian ini mengajak publik meninjau ulang gagasan tentang kebahagiaan. Alih-alih satu tujuan dengan satu jalur, kebahagiaan digambarkan seperti peta dengan banyak rute—berbeda untuk tiap individu.