BERITA TERKINI
Sirisihin di Madiun: Ketika Diskusi Seni Rupa Menjadi Cara Merawat Ekosistem dan Kejujuran Berkarya

Sirisihin di Madiun: Ketika Diskusi Seni Rupa Menjadi Cara Merawat Ekosistem dan Kejujuran Berkarya

Isu yang Membuatnya Tren

Nama “Sirisihin” mendadak ramai dicari karena ia menawarkan sesuatu yang langka: ruang diskusi seni rupa yang cair, jujur, dan tidak menggurui, dari sebuah kota yang kerap luput.

Di tengah linimasa yang bergerak cepat, forum kecil di Art Tangsen Wahyudi, Saradan, Madiun, justru mengundang orang berhenti sejenak, lalu mendengarkan proses kreatif.

Ia bukan sekadar agenda pameran, melainkan pertemuan gagasan. Pertanyaan yang lahir tidak menuntut jawaban cepat, tetapi mengajak publik merawat kebiasaan berpikir.

Di situlah letak daya tariknya. Ketika banyak peristiwa tampil sebagai “hasil akhir”, Sirisihin menyorot “cara menjadi”, yaitu proses, keraguan, dan keberanian menafsir.

Forum ini juga membawa pesan sosial yang lebih luas. Diskusi seni menjadi cermin ekosistem: siapa berbicara, siapa didengar, dan bagaimana sebuah kota memuliakan pengetahuan.

-000-

Ada tiga alasan mengapa isu ini menjadi tren. Pertama, publik rindu ruang dialog yang tidak bising, tetapi tetap tajam, terutama setelah wacana kebudayaan sering kalah oleh sensasi.

Kedua, Sirisihin menampilkan format yang membumi. Ia memplesetkan “sarasehan”, seolah menolak kesan elitis, sekaligus membuktikan keseriusan bisa lahir dari kehangatan.

Ketiga, ia menyentuh tema yang dekat dengan kegelisahan banyak orang: ekosistem berkesenian yang rapuh, minim kritik, dan kebutuhan akan kejujuran dalam berkarya.

Ketika kata “kejujuran” muncul dalam pembacaan karya, ia langsung melampaui seni rupa. Ia menjadi pertanyaan etika publik: bagaimana kita berdiri di hadapan kebenaran.

-000-

Malam di Saradan: Forum Kecil, Pertanyaan Besar

Sabtu malam, 31 Januari 2026, pukul 19.00 WIB, Sirisihin berlangsung di Art Tangsen Wahyudi, Kampung Baru, Saradan, Kabupaten Madiun.

Forum ini diinisiasi Asosiasi Seniman Madiun, lahir dari kegelisahan: minimnya intensitas pembahasan karya seni di Madiun, terutama diskusi yang menguliti gagasan dan proses.

Selama ini, pameran bisa datang dan pergi. Namun, tradisi membahas karya, menyusun bahasa kritik, dan membangun arsip pemikiran, belum menjadi kebiasaan yang mapan.

Padahal, seni yang hidup jarang bertahan tanpa percakapan. Ketika karya dibiarkan sendirian, ia bukan sedang kontemplatif, melainkan berisiko diabaikan.

Di Sirisihin, seniman Madiun Utara dipertemukan dengan seniman dan budayawan dari Madiun Kota atau wilayah tengah, dalam suasana setara dan cair.

Nama-nama yang hadir disebutkan jelas. Dari Asosiasi Seniman Madiun ada Wahyudi, Hadi Sisanto, Samsun, Sujiatno, dan Johan Wahyudi.

Dari Jaringan Kebudayaan Madiun hadir Titus Tri Wibowo, Nugroho Budi, dan Apung Purwanto. Mereka selama ini bergerak di lingkar masing-masing.

Seniman Madiun Selatan belum turut hadir malam itu. Namun komunikasi Madiun Utara dan Selatan disebut sudah terjalin cukup baik.

-000-

Diskusi sebagai Indikator Peradaban

Di balik forum ini ada klaim yang berani: diskusi karya adalah indikator peradaban yang sehat. Klaim itu terdengar besar, tetapi sebenarnya sederhana.

Peradaban tidak hanya diukur dari gedung, jalan, atau angka ekonomi. Ia juga tampak dari kebiasaan warga merawat makna, membangun argumen, dan menguji tafsir.

Hannah Arendt pernah menulis bahwa berpikir adalah dialog sunyi antara aku dengan diriku sendiri. Sirisihin memperluas dialog sunyi itu ke ruang publik.

Di ruang publik, pikiran tidak dibiarkan mandek. Ia bertemu bantahan, pengalaman orang lain, dan kerendahan hati untuk merevisi diri.

Dalam seni rupa, diskusi mengajarkan bahwa karya bukan hanya objek. Ia adalah peristiwa sosial yang terus berubah makna, tergantung bagaimana ia dibaca.

Karena itu, forum kritik bukan aksesori. Ia adalah infrastruktur kebudayaan, seperti perpustakaan bagi kota, atau laboratorium bagi sekolah.

-000-

Riset kebudayaan dan pendidikan seni kerap menekankan pentingnya literasi visual dan budaya kritik. Keduanya tumbuh melalui pembiasaan dialog, bukan lewat konsumsi pasif.

Dalam kerangka “ekosistem kreatif”, diskusi berperan sebagai penghubung. Ia mempertemukan pencipta, penikmat, pengelola ruang, dan pengarsip pengetahuan.

Ketika penghubung itu lemah, karya mudah terperangkap repetisi. Seniman bisa terus memproduksi, tetapi tanpa refleksi yang memperbarui cara pandang.

Forum seperti Sirisihin, jika rutin, dapat menjadi mekanisme umpan balik. Ia membuat seniman tidak hanya berlatih teknik, tetapi juga melatih nalar estetik.

-000-

Dua Karya, Dua Jalan Membaca Dunia

Salah satu karya yang dibahas adalah patung berjudul “The Gar” karya Hadi Sisanto, 42 tahun. Patung kuda itu dibuat dari akar kayu jati.

Pengerjaannya manual selama lima hari. Material akar jati memberi kesan tubuh yang lahir dari tanah, seolah memanggul memori waktu dan luka alam.

Di sini, kuda tidak hadir sebagai simbol keperkasaan yang banal. Ia terasa sebagai makhluk peralihan, di antara domestikasi dan kebebasan.

Ketegangan itu membuat pembacaan menjadi kaya. Kuda menjadi metafora manusia yang bernegosiasi dengan asal-usul, nasib, dan batas-batas yang dibangun sendiri.

Martin Heidegger pernah mengatakan seni adalah cara kebenaran menyingkapkan dirinya. Dalam patung ini, kebenaran hadir sebagai ketegangan bentuk dan material.

-000-

Karya lain adalah patung ikan kayu berjudul “Sumbut” karya Wahyudi, 52 tahun. Sang perupa menyebutnya berbicara tentang kejujuran.

Kejujuran direpresentasikan melalui pilihan warna mata hitam dan putih. Mulutnya terbuka, seolah sedang bersuara, seolah sedang mengaku.

Pembacaan itu menarik karena kejujuran tidak diperlakukan sebagai slogan. Ia tampil sebagai pengalaman rapuh yang selalu mengandung risiko.

Dikotomi hitam putih mengingatkan betapa sering manusia bersembunyi di wilayah abu-abu kepentingan. Namun karya ini meminta keberanian memilih terang.

Søren Kierkegaard menulis, kejujuran adalah keberanian berdiri sendiri di hadapan kebenaran. Patung itu memvisualkan keberanian dalam bahasa kayu.

-000-

Ekosistem Seni: Mengapa Madiun Membutuhkannya

Inti Sirisihin bukan kesepakatan instan. Ia adalah upaya merajut sinergi kesenian di Madiun Raya, agar seniman tidak berjalan dalam pulau-pulau kecil.

Harapannya jelas: mempertemukan seniman, kurator, penikmat seni, kolektor, galeri, serta lintas disiplin seperti sastra, musik, teater, dan tari.

Ekosistem yang kuat tidak lahir dari satu aktor. Ia lahir dari keberanian banyak pihak untuk saling mendengar, saling menguatkan, dan saling mengkritik.

Di titik ini, Sirisihin menantang kebiasaan lama. Ia menolak seni sebagai “produk jadi” yang hanya dipajang, lalu dilupakan setelah acara selesai.

Ia mengusulkan seni sebagai percakapan yang berkelanjutan. Percakapan itu kelak menjadi arsip, menjadi sejarah, dan menjadi penanda martabat kebudayaan daerah.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia

Apa yang terjadi di Madiun berkaitan dengan isu besar Indonesia: ketimpangan pusat dan daerah dalam produksi wacana kebudayaan.

Sering kali, kota-kota di luar pusat hanya diposisikan sebagai pemasok talenta. Tetapi ruang kritik, jaringan, dan pengakuan, lebih mudah terkonsentrasi di kota besar.

Sirisihin mengingatkan bahwa pemerataan bukan hanya soal infrastruktur fisik. Ia juga soal infrastruktur diskusi, yaitu ruang aman untuk berpikir dan berbeda.

Ini juga berkait dengan pendidikan. Ketika diskusi karya menjadi kebiasaan, ia memperkuat literasi, melatih argumentasi, dan membangun etika dialog.

Dalam iklim sosial yang mudah terpolarisasi, latihan dialog semacam ini penting. Ia mengajari orang menafsir tanpa buru-buru menghakimi.

-000-

Tema kejujuran dalam “Sumbut” juga menyentuh isu besar: krisis kepercayaan di ruang publik. Seni tidak memberi kebijakan, tetapi bisa merawat sensitivitas moral.

Sementara “The Gar” menghadirkan bahan akar jati yang membawa ingatan tentang alam. Ia membuka percakapan tentang relasi manusia, material, dan jejak ekologis.

Tanpa menambah klaim di luar forum, pembacaan ini cukup untuk melihat arah. Seni rupa dapat menjadi pintu masuk membicarakan etika, ekologi, dan kehidupan bersama.

Di Indonesia, isu-isu itu sering dibahas dalam bahasa kebijakan yang dingin. Seni memberi bahasa lain, yang lebih personal, lebih lambat, dan sering lebih mengena.

-000-

Pelajaran dari Luar Negeri: Tradisi Wacana yang Membesarkan Seni

Berita ini juga mengingatkan pada pola yang pernah terjadi di luar negeri: ekosistem seni tumbuh ketika ruang diskusi menjadi tradisi, bukan insiden.

Paris dikenal bukan hanya karena museum, tetapi karena tradisi salon, kafe intelektual, dan debat estetik sejak abad ke-19. Wacana menjadi napas harian.

Berlin berkembang sebagai kota seni kontemporer karena ruang diskusi, residensi, dan kritik yang terbuka pada eksperimentasi. Karya tidak pernah dibiarkan sendirian.

New York membesarkan perupa dunia bukan hanya lewat galeri. Ia juga melalui wacana yang diproduksi kritikus, kurator, dan akademisi yang terus memperdebatkan makna.

Rujukan ini bukan untuk membandingkan secara timpang. Ia menjadi cermin bahwa diskusi adalah infrastruktur, bukan hiasan, dalam perjalanan sebuah kota seni.

-000-

Nilai Simbolik dan Kejujuran Proses

Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa nilai simbolik karya tidak lahir di ruang hampa. Ia dibentuk melalui relasi sosial dan wacana yang mengitarinya.

Ketika karya dibahas, ditafsirkan, dan diperdebatkan, nilai estetik perlahan menemukan konteks. Publik yang semula tidak tahu menjadi tahu, lalu belajar peduli.

Namun diskusi juga menuntut etika. Kritik yang sehat bukan penghukuman, melainkan upaya memahami struktur gagasan, pilihan material, dan konsekuensi estetik.

Di sinilah “kejujuran berkarya” menemukan bentuk sosialnya. Kejujuran bukan hanya niat personal, tetapi kesediaan membuka proses pada pembacaan orang lain.

Kejujuran juga berarti menerima bahwa karya bisa ditafsir berbeda. Dalam perbedaan tafsir, seniman diuji: apakah ia defensif, atau justru bertumbuh.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, Sirisihin perlu dijaga sebagai forum rutin. Konsistensi lebih penting daripada kemegahan, karena tradisi lahir dari pengulangan yang sabar.

Kedua, pertemuan lintas wilayah di Madiun Raya perlu diperluas, termasuk melibatkan Madiun Selatan. Keterhubungan mengurangi isolasi, dan memperkaya perspektif.

Ketiga, dokumentasi diskusi perlu dirawat. Catatan, foto karya, dan ringkasan pembacaan bisa menjadi arsip pengetahuan kolektif, tanpa harus mengubah forum menjadi formal.

Keempat, kritik harus dijaga tetap sehat. Ruang aman bukan berarti tanpa ketegangan, tetapi tanpa perendahan, agar seniman muda berani belajar dan tidak takut salah.

Kelima, publik perlu diajak masuk perlahan. Diskusi karya tidak harus eksklusif, tetapi perlu bahasa yang ramah, agar warga merasa seni adalah milik bersama.

-000-

Penutup: Dari Pinggir, Peradaban Sering Bergerak

Sirisihin mungkin tampak kecil di peta seni nasional. Namun sejarah sering bergerak dari pinggir, dari ruang-ruang yang berani mempertanyakan kebiasaan.

Pertanyaannya bukan lagi apakah Madiun punya potensi. Pertanyaannya apakah potensi itu dirawat melalui percakapan yang jujur dan berkelanjutan.

Forum seperti ini mengajarkan bahwa seni tidak hanya tentang karya yang selesai. Seni juga tentang manusia yang bersedia berpikir, mendengar, dan berubah.

Pada akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu tidak menuntut jawaban cepat. Ia menuntut kesediaan kita untuk terus berdialog dan bertumbuh bersama dalam berkesenian.

Seperti pengingat Hannah Arendt tentang dialog sunyi, ruang publik yang sehat adalah ruang yang membuat dialog itu tidak padam. Dari sana, martabat kebudayaan dijaga.

“Berpikir adalah dialog sunyi antara aku dengan diriku sendiri.”