BERITA TERKINI
Doodle Mandala dan Art Therapy: Mengapa Lokakarya di Bandung Mendadak Jadi Tren, dan Apa Artinya bagi Kesehatan Mental Indonesia

Doodle Mandala dan Art Therapy: Mengapa Lokakarya di Bandung Mendadak Jadi Tren, dan Apa Artinya bagi Kesehatan Mental Indonesia

Isu yang Membuatnya Jadi Tren

Dalam beberapa hari terakhir, pencarian tentang “art therapy” dan “doodle mandala” ikut menguat, seiring kabar lokakarya di Bandung yang ramai dibicarakan.

Beritanya sederhana, tetapi resonansinya besar: sebuah workshop doodle mandala digelar di Dothub Space, Summarecon Bandung, dan diikuti anak muda hingga orang dewasa.

Di tengah dunia yang makin kompleks, seni kembali dipahami bukan semata hiburan, melainkan ruang bercerita dan cara aman menyalurkan beban pikiran.

Lokakarya itu dibuka dengan penjelasan singkat tentang doodle mandala, lalu ditutup dengan peninjauan karya peserta, seolah menegaskan proses lebih penting daripada hasil.

Yang membuatnya menonjol bukan hanya aktivitas menggambar, melainkan janji yang tersirat: emosi negatif dapat diolah menjadi karya seni, bukan dibiarkan mengendap.

-000-

Tren ini muncul karena banyak orang merasa lelah, tetapi tidak selalu punya bahasa untuk menjelaskan lelahnya.

Ketika kata-kata macet, garis dan pola menjadi pengganti, memberi bentuk pada sesuatu yang sulit diucapkan.

Di titik itu, doodle mandala tampak seperti jalan masuk yang ramah, tanpa syarat bakat, tanpa tuntutan estetika yang mengintimidasi.

Orang cukup hadir, menggores, mengulang pola, dan membiarkan tangan bergerak mengikuti napas.

Di ruang-ruang kota, kebutuhan akan jeda seperti ini terasa semakin mendesak, bahkan bagi mereka yang tampak baik-baik saja.

-000-

Ada pula faktor sosial: aktivitas kreatif yang bisa dibagikan, difoto, dan diceritakan ulang mudah mengundang rasa ingin mencoba.

Namun, bukan semata soal unggahan. Ada kerinduan pada komunitas yang aman, tempat orang boleh rapuh tanpa harus menjelaskan segalanya.

Lokakarya menghadirkan format itu: bertemu, duduk bersama, mengerjakan sesuatu yang pelan, lalu melihat karya sebagai cermin suasana batin.

Di saat banyak pertemuan sosial terasa bising, aktivitas repetitif seperti mandala menawarkan ketenangan yang jarang.

Dan justru ketenangan itulah yang kini dicari.

-000-

Alasan ketiga mengapa isu ini menjadi tren adalah meningkatnya kesadaran publik tentang kesehatan mental, termasuk cara-cara praktis mengelola stres.

Art therapy terdengar ilmiah sekaligus membumi, karena memadukan pengalaman personal dengan pendekatan yang kerap dibahas dalam psikologi.

Di sisi lain, orang juga makin kritis terhadap cara “mengatasi stres” yang hanya menyuruh kuat, sabar, atau bersyukur.

Mereka mencari metode yang memberi ruang proses, bukan sekadar tuntutan hasil.

Mandala, dengan pola berulangnya, menawarkan proses itu.

-000-

Apa yang Terjadi di Bandung

Di Bandung, lokakarya doodle mandala berlangsung di Dothub Space, Summarecon Bandung, pada Sabtu (7/3/2024).

Pesertanya beragam, dari anak muda hingga orang dewasa, menunjukkan bahwa kebutuhan mengelola emosi tidak mengenal usia.

Agenda dibuka dengan pengenalan doodle mandala, lalu peserta berlatih membuat pola, sebelum akhirnya karya mereka ditinjau bersama.

Format ini penting karena menempatkan pengalaman sebagai pusat, bukan kompetisi.

Peserta tidak diminta menjadi seniman, melainkan menjadi manusia yang mau mendengar dirinya sendiri.

-000-

Berita itu juga menegaskan gagasan dasar: seni dapat menjadi medium untuk mengeluarkan pikiran negatif.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung keberanian, karena mengakui bahwa pikiran negatif ada dan perlu tempat.

Sering kali, pikiran negatif dipaksa hilang, padahal ia justru butuh dipahami.

Ketika ia diberi bentuk, ia menjadi lebih mudah dihadapi.

Di situlah seni bekerja, bukan sebagai pelarian, melainkan sebagai pengolahan.

-000-

Dari Garis ke Makna: Mengapa Mandala Menenangkan

Mandala dikenal sebagai pola yang terstruktur, simetris, dan berulang, sehingga proses menggambarnya sering terasa seperti ritme.

Ritme memberi tubuh sinyal aman, karena ada keteraturan yang bisa dipegang ketika pikiran terasa kacau.

Dalam konteks doodle, keteraturan itu tidak harus sempurna.

Justru ketidaksempurnaan menjadi bagian dari narasi personal.

Satu garis yang melenceng bisa menjadi penanda emosi yang sedang bergejolak.

-000-

Secara psikologis, aktivitas kreatif sering dikaitkan dengan regulasi emosi.

Riset di bidang psikologi dan terapi seni kerap membahas bahwa proses membuat karya dapat membantu menamai perasaan dan menurunkan ketegangan.

Yang ditekankan biasanya adalah proses, bukan kualitas artistik.

Ketika proses diprioritaskan, orang lebih mudah jujur pada dirinya.

Kejujuran itulah yang sering menjadi awal pemulihan.

-000-

Selain itu, menggambar pola berulang dapat memusatkan perhatian pada “saat ini”.

Dalam bahasa populer, ini mirip latihan mindfulness, meski tidak semua orang nyaman dengan istilah itu.

Mandala memberi mindfulness versi praktis: fokus pada garis, jarak, dan pengulangan.

Ketika fokus terkumpul, pikiran yang berlari-lari cenderung melambat.

Melambat bukan berarti menyerah, melainkan memberi ruang bernapas.

-000-

Kaitan dengan Isu Besar Indonesia

Tren art therapy tidak bisa dilepaskan dari percakapan besar tentang kesehatan mental di Indonesia, terutama di kota-kota yang ritmenya semakin cepat.

Tekanan akademik, kerja, dan tuntutan sosial sering hadir bersamaan, sementara ruang pemulihan tidak selalu tersedia.

Ketika layanan profesional belum merata, masyarakat mencari strategi yang lebih mudah diakses.

Lokakarya seperti ini tampil sebagai alternatif, meski bukan pengganti bantuan klinis.

Ia menutup sebagian celah, bukan menyelesaikan seluruh masalah.

-000-

Ada pula isu literasi kesehatan mental.

Banyak orang masih bingung membedakan stres, cemas, burnout, dan gangguan yang membutuhkan pertolongan lebih serius.

Aktivitas kreatif bisa menjadi pintu masuk literasi, karena orang mulai mengenali sinyal tubuh dan emosinya.

Namun pintu masuk harus diikuti rambu-rambu yang jelas.

Agar publik paham kapan cukup dengan self-care, dan kapan perlu bantuan profesional.

-000-

Isu berikutnya adalah akses ruang publik yang sehat.

Kota sering menyediakan pusat belanja dan hiburan, tetapi tidak selalu menyediakan ruang hening untuk memulihkan diri.

Ketika sebuah ruang kreatif mengundang warga untuk duduk, menggambar, dan pelan-pelan, itu seperti mengembalikan fungsi kota sebagai tempat hidup.

Bukan sekadar tempat berlari mengejar target.

Bandung, dengan tradisi kreatifnya, menjadi panggung yang masuk akal untuk percakapan ini.

-000-

Analisis: Mengapa Publik Meresponsnya dengan Emosional

Publik merespons karena banyak orang diam-diam memikul beban yang tidak terlihat.

Di rumah, di kantor, di kampus, orang dituntut tampil stabil, padahal batin sering berantakan.

Berita tentang workshop mandala memberi harapan kecil: ada cara untuk menata ulang diri tanpa harus menjelaskan semuanya.

Harapan kecil sering terasa sangat besar ketika hidup sedang berat.

Dan itulah yang membuatnya mudah menyebar.

-000-

Ada juga unsur “keterjangkauan psikologis”.

Terapi formal bagi sebagian orang masih terasa menakutkan, mahal, atau dianggap hanya untuk mereka yang “parah”.

Art therapy terdengar lebih ramah, karena dibungkus kegiatan kreatif.

Orang bisa datang tanpa label, tanpa stigma yang menempel di dahi.

Ini penting dalam budaya yang masih sering menghakimi kerentanan.

-000-

Namun, di sinilah tantangannya.

Ketika istilah “art therapy” makin populer, publik perlu memahami batasnya.

Art therapy dalam pengertian klinis biasanya dilakukan oleh terapis terlatih, dengan tujuan dan kerangka kerja yang jelas.

Sementara lokakarya kreatif bisa bersifat edukatif dan suportif.

Keduanya berharga, tetapi tidak identik.

-000-

Riset yang Relevan untuk Memahami Fenomena Ini

Di ranah akademik, terapi seni dan aktivitas kreatif telah lama diteliti sebagai cara mendukung kesehatan mental.

Sejumlah studi dan tinjauan ilmiah membahas manfaatnya terhadap stres, kecemasan, dan kualitas hidup, terutama sebagai pelengkap intervensi lain.

Temuan yang sering muncul adalah peran ekspresi nonverbal.

Ketika emosi sulit diucapkan, medium visual membantu proses eksternalisasi.

Eksternalisasi membuat masalah terasa “di luar diri”, sehingga lebih mudah diolah.

-000-

Riset juga menyoroti pentingnya rasa kendali.

Dalam menggambar mandala, peserta memutuskan garis, pola, dan ritme.

Keputusan kecil yang berulang dapat memulihkan rasa agensi, terutama ketika hidup terasa ditentukan oleh tuntutan eksternal.

Agensi tidak menyelesaikan semua hal, tetapi mengurangi rasa tak berdaya.

Dan rasa tak berdaya sering menjadi akar kelelahan emosional.

-000-

Literatur tentang komunitas suportif juga relevan.

Aktivitas kelompok yang aman dapat menurunkan rasa isolasi, karena orang melihat bahwa pergulatan batin bukan milik mereka seorang.

Meski tidak semua peserta akan bercerita, kebersamaan yang sunyi pun bisa menenangkan.

Di Indonesia, di mana banyak orang menyimpan masalah demi menjaga harmoni, kebersamaan yang tidak memaksa bicara terasa membantu.

Ia memberi dukungan tanpa interogasi.

-000-

Referensi Kasus Serupa di Luar Negeri

Di berbagai negara, praktik terapi seni dan workshop kreatif telah berkembang sebagai bagian dari dukungan kesehatan mental komunitas.

Di Inggris, misalnya, layanan kesehatan dan organisasi sosial mengenal pendekatan “social prescribing”, yang dapat mengarahkan warga ke aktivitas seni dan komunitas.

Tujuannya bukan menggantikan layanan medis, melainkan melengkapi, terutama untuk kesepian, stres, dan masalah kesejahteraan.

Fenomena ini menunjukkan pola yang mirip: ketika hidup modern menekan, komunitas mencari obat yang tidak selalu berupa obat.

Seni menjadi salah satu jawabannya.

-000-

Di Amerika Serikat, program art therapy juga dikenal di berbagai konteks, termasuk komunitas dan layanan pendampingan tertentu.

Yang menarik, diskusinya sering berkisar pada standar kompetensi, etika, dan batas praktik.

Ini relevan bagi Indonesia yang sedang menyaksikan istilah “healing” dan “therapy” melebar ke mana-mana.

Ketika istilah melebar, edukasi publik harus ikut menguat.

Agar manfaat tetap besar dan risiko salah paham bisa ditekan.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, sambut tren ini sebagai sinyal kebutuhan publik, bukan sekadar gaya hidup.

Jika banyak orang mencari art therapy, itu berarti banyak orang membutuhkan ruang aman untuk mengolah stres.

Pemerintah daerah, sekolah, kampus, dan tempat kerja bisa melihatnya sebagai masukan.

Ruang kreatif dan program kesejahteraan bukan kemewahan, melainkan investasi sosial.

Investasi itu mengurangi biaya yang lebih besar di kemudian hari.

-000-

Kedua, perjelas literasi: bedakan workshop kreatif, edukasi kesehatan mental, dan terapi klinis.

Penyelenggara kegiatan sebaiknya menyampaikan tujuan kegiatan secara jujur, termasuk batasan yang tidak bisa digantikan oleh sesi menggambar.

Peserta juga perlu diberi informasi rujukan, jika merasa membutuhkan bantuan profesional.

Transparansi melindungi semua pihak.

Dan membuat tren ini bertumbuh secara sehat.

-000-

Ketiga, dorong akses yang inklusif.

Jika kegiatan seperti ini hanya hadir di ruang tertentu, ia berisiko menjadi milik segelintir orang.

Padahal stres dan tekanan hidup dialami lintas kelas sosial.

Kolaborasi dengan perpustakaan, balai warga, sekolah, atau ruang komunitas bisa memperluas jangkauan.

Semakin dekat ke warga, semakin besar dampaknya.

-000-

Keempat, rawat etika dalam ruang kreatif.

Ketika orang datang membawa emosi, fasilitator perlu memastikan suasana aman, tidak menghakimi, dan tidak memaksa peserta membuka cerita pribadi.

Keamanan psikologis adalah fondasi.

Tanpa itu, kegiatan kreatif bisa berubah menjadi tekanan baru.

Dengan itu, kegiatan menjadi tempat pulang yang lembut.

-000-

Penutup

Lokakarya doodle mandala di Bandung menjadi tren karena ia menyentuh kebutuhan yang luas: kebutuhan untuk menata emosi di dunia yang bergerak terlalu cepat.

Berita ini mengingatkan bahwa kesehatan mental tidak selalu dimulai dari ruang klinik.

Kadang ia dimulai dari meja sederhana, selembar kertas, dan keberanian membuat garis pertama.

Jika tren ini dijaga dengan literasi, etika, dan akses yang adil, ia bisa menjadi bagian dari ekosistem dukungan yang lebih manusiawi.

Dan mungkin, dari pola-pola kecil itu, kita belajar mengulang harapan.

-000-

“Kita tidak selalu bisa mengendalikan hidup, tetapi kita bisa memilih cara merawat diri saat hidup terasa berat.”