Netflix akan merilis serial terbaru berjudul Aema pada Jumat (23/8). Drama ini menghadirkan kisah berlatar Korea Selatan era awal 1980-an, periode ketika industri film erotis berkembang pesat di tengah kebijakan pemerintah yang dikenal sebagai ‘3S Policy’—screen, sports, dan sex—pada masa rezim militer Chun Doo-hwan. Kebijakan tersebut disebut bertujuan menenangkan publik dan mengalihkan perhatian dari politik, sekaligus menciptakan kondisi yang mendorong ledakan produksi film erotis.
Serial Aema mereimajinasi film Madame Aema (1982), yang dikenal luas sebagai salah satu titik awal ledakan sinema erotis Korea pada dekade itu. Meski pernah dipuji sebagai fenomena box office, film tersebut juga menuai kritik karena dianggap mengobjektifikasi karakter perempuan.
Sutradara Lee Hae-young mengatakan, ironi pada era itu terletak pada dorongan produksi film erotis yang berjalan beriringan dengan sensor ketat. Menurutnya, kebebasan berekspresi nyaris tidak ada karena pemotongan berlebihan, meski genre tersebut sedang marak diproduksi.
Alih-alih hanya memusatkan perhatian pada proses pembuatan filmnya, Aema menyoroti semangat zaman yang penuh gejolak akibat kontrol otoriter, sekaligus menggambarkan solidaritas lembut antara dua perempuan yang menjadi pusat cerita. Hae-young juga menafsirkan kata ‘Aema’ sebagai sesuatu yang melampaui tokoh utama semata, yakni ikon yang mencerminkan hasrat masyarakat pada era 1980-an, termasuk prasangka, kesalahpahaman, kekerasan, dan perjuangan untuk bertahan.
Dalam serial ini, Lee Ha-nee memerankan Hee-ran, bintang top yang digambarkan bangga dan percaya diri, serta menyatakan tidak akan lagi melakukan adegan telanjang dan ingin mendefinisikan ulang dirinya di era tersebut. Namun, setelah memerankan Erika, tokoh pendukung dalam film erotis, ia disebut dipaksa tampil telanjang dan terseret dalam situasi penuh kekerasan, sehingga harus berjuang menemukan kembali jati dirinya sebagai aktris dan pribadi.
Lee Ha-nee menyatakan ia tidak mengalami sepenuhnya sistem lama itu, tetapi sempat menyaksikan fase akhirnya. Ia juga menyoroti bagaimana perempuan kerap dikonsumsi sebagai objek hasrat dalam industri tersebut, dan menyebut hal itu membuatnya berani mendekati proyek ini. Menurutnya, proyek ini memberi ruang untuk menafsirkan masa lalu dengan lebih bebas, sekaligus melihat perubahan zaman dari perspektif baru.
Sementara itu, Bang Hyo-rin berperan sebagai Joo-ae, penari tap di klub malam yang mengagumi Hee-ran. Joo-ae mengikuti audisi untuk Madame Aema dan akhirnya mendapatkan peran utama, tetapi kemudian menjalani perjalanan yang menyakitkan sekaligus transformatif dalam pertumbuhannya sebagai aktris.
Untuk menghadirkan nuansa era 1980-an, Lee Hae-young menyebut tantangan utama produksi adalah merekonstruksi Chungmuro, pusat industri film Korea pada masa itu. Ia menilai, semakin gemerlap suara dan gambar yang tampak di permukaan, semakin jelas pula kekerasan dari zaman tersebut tersampaikan sebagai pesan.
Meski berlatar beberapa dekade lalu, Hae-young mengatakan penonton dapat menemukan kesamaan dengan masa kini. Ia menilai sebagian “penyakit sosial” masih bertahan, namun kekerasan dan kekejaman yang digambarkan dalam Aema kini lebih diakui dan ditantang oleh masyarakat. Menurutnya, proses kesadaran dan upaya memperbaiki kesalahan itu menghadirkan visi yang lebih penuh harapan.

