Senny Suzanna Alwasilah dikenal sebagai sosok yang berkarya di bidang pendidikan, seni, dan sastra. Lahir di Bandung pada 11 Oktober 1962, ia saat ini menjabat sebagai Ketua Kantor Urusan Internasional Universitas Pasundan (Unpas). Dalam perannya, ia menjalankan tugas yang berkaitan dengan penguatan jejaring dan kerja sama lintas negara di lingkungan kampus.
Dalam kehidupan pribadi, Senny merupakan istri almarhum Prof. Adeng Chaedar Alwasilah, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki lima anak: Indiana Ayu, Autumn Windy, Mentari Qorina, Yuzaki Adam, dan Fabil Haq. Ia juga disebut memiliki sembilan cucu: Semesta, Kelanabumi, Alineasenja, Labiqa, Sabdalangit, Jenggala, Layyina, Aksara, dan Kisah Rembulan.
Di bidang akademik, Senny menempuh pendidikan doktor dalam Pengembangan Kurikulum di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung. Sebelumnya, ia meraih gelar magister Pendidikan Bahasa Inggris, juga dari UPI Bandung. Ia telah memublikasikan sejumlah tulisan ilmiah di jurnal nasional maupun internasional, termasuk yang terindeks Sinta dan Scopus.
Selain kegiatan mengajar, Senny beberapa kali mengikuti program akademik di luar negeri. Di antaranya, ia tercatat sebagai peserta Fulbright Visiting Scholar di Indiana University, Amerika Serikat (2021), mengikuti program Sandwich-like di University of Sydney, Australia (2011), serta program Teaching Best Practice di East West Center, University of Hawaii, Amerika Serikat (2005).
Di tengah peran sebagai dosen dan ibu di rumah, Senny tetap aktif menulis. Karyanya mencakup tulisan ilmiah maupun sastra. Beberapa buku yang disebutkan antara lain Studi Kasus 2.0: Qualitative Research (2025), Reading-Writing Connections: Menulis Kolaborasi (2024), Merangkul Dua Takdir yang Saling Berpapasan: Antologi Puisi Indonesia-Korea (2024), Rhyme of Tears (irama Air Mata): Antologi Haiku Indonesia-Inggris (2023), dan Ziarah Rindu: The Pilgrimage of Longing. Antologi Puisi Indonesia-Inggris (2021).
Dalam pandangannya, menulis berkaitan erat dengan kebiasaan membaca. Ia menekankan gagasan bahwa penulis yang baik adalah pembaca yang baik (“A good writer is a good reader”). Menurutnya, menulis perlu dilatih secara berulang agar menjadi kebiasaan, sebagaimana membaca yang dapat dilakukan tidak hanya melalui buku, tetapi juga dengan mengamati lingkungan sekitar.
Senny juga menjabat sebagai President Asian Women Writers Association (AWWA), sebuah perkumpulan perempuan penulis se-Asia. Saat menjadi visiting scholar di Indiana University, Amerika Serikat, ia sempat berkolaborasi menulis haiku dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia, bersama Dr. Sharon Pugh. Dr. Sharon Pugh disebut sebagai pembimbing disertasi suaminya ketika menempuh studi doktoral di Indiana University, Bloomington.
Kecintaannya pada budaya Jepang turut memengaruhi minatnya menulis haiku, puisi Jepang yang singkat namun sarat makna. Ia menyebut Daisaku Ikeda Sensei sebagai salah satu tokoh yang menginspirasinya. Dalam catatan tersebut, Ikeda Sensei juga disebut semasa hidupnya kerap berkabar, termasuk mengirim buku dan kartu ucapan selamat pada hari-hari besar di Indonesia.
Di lingkungan kampus, Senny disebut pernah mengemban sejumlah posisi, mulai dari ketua laboratorium bahasa, sekretaris jurusan, hingga dekan Fakultas Ilmu Seni dan Sastra. Ia juga mengajar mata kuliah seperti Imaginative Writing, Cross Cultural Understanding, dan Feature Writing, serta menulis tentang kreativitas, strategi pengajaran, dan praktik pembelajaran menulis.
Melalui peran akademik dan karya-karyanya, Senny Suzanna Alwasilah digambarkan sebagai figur yang konsisten berkegiatan di ranah pendidikan dan kepenulisan, baik ilmiah maupun sastra, serta aktif dalam jejaring penulis perempuan di tingkat Asia.

