BERITA TERKINI
Seniman Muda Vietnam Manfaatkan AI untuk Menghidupkan Warisan Budaya dalam Musik

Seniman Muda Vietnam Manfaatkan AI untuk Menghidupkan Warisan Budaya dalam Musik

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengubah cara musisi muda berkarya. Proses yang sebelumnya identik dengan biaya studio tinggi dan waktu produksi panjang kini bergeser ke ruang kreatif yang lebih fleksibel, memungkinkan ide diwujudkan lebih cepat. Di sisi lain, AI juga membuka kemungkinan baru dalam mengolah gambar, suara, dan emosi, sehingga produksi musik—termasuk video musik—dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih berani.

Di Vietnam, sebagian seniman muda memanfaatkan teknologi ini untuk menceritakan kembali kisah budaya nasional melalui bahasa visual dan musikal yang lebih modern. Melodi tradisional dan motif seni rakyat diolah ulang dan disebarkan di ruang digital, dengan tujuan memperkuat identitas Vietnam di panggung global. Langkah ini disebut sebagai respons terhadap Resolusi 80 Politbiro tentang pengembangan budaya.

Salah satu contoh yang menarik perhatian adalah video musik “Considering a Long Life Together” karya penyanyi AnhHI Thanh Cường dan komposer Nguyễn Quang Long. Karya ini menggunakan AI untuk membangun suasana pedesaan Vietnam Utara. Video tersebut terinspirasi dari citra dan cerita “Pernikahan Tikus” dalam lukisan rakyat Dong Ho, dengan pendekatan yang menegaskan bahwa budaya rakyat tidak harus berhenti di masa lalu, tetapi dapat diciptakan kembali melalui bahasa visual kontemporer.

Sebelumnya, keduanya juga berkolaborasi dalam video musik “Thuong Cau Dan Ca”, yang juga dibuat dengan teknologi AI dan mengambil inspirasi dari lukisan Dong Ho. Ceritanya menampilkan seorang pemuda yang seolah “berpindah alam” ke dunia lukisan rakyat Dong Ho dan bertemu sosok kekasih impiannya. Selain menghadirkan visual Dong Ho, video musik ini merekonstruksi ruang budaya nyanyian rakyat Quan Ho, khususnya Festival Lim yang berakar di wilayah Kinh Bac. Adegan penyanyi pria dan wanita menyanyikan lagu-lagu cinta di atas perahu di bawah cahaya bulan digambarkan romantis dan memberi dampak artistik yang kuat.

Kepada reporter VietnamPlus, AnhHI Thanh Cường menyampaikan harapannya agar video musiknya dapat membantu menyebarkan keindahan lukisan rakyat Dong Ho. Ia juga menilai kemajuan AI memberinya peluang untuk lebih mudah membuat video musik bertema budaya, sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan karena keterbatasan ekonomi, termasuk untuk produksi animasi atau penggunaan efek khusus.

Dalam “Considering a Long Life Together”, salah satu bagian yang paling menonjol adalah adegan prosesi pernikahan: keluarga mempelai pria datang ke rumah mempelai wanita, menjalankan upacara, lalu mengantar mempelai wanita kembali ke lanskap pedesaan dengan jalan desa, ladang, dan sungai. Saat prosesi melewati gerbang “Desa Bahagia”, sosok tikus perlahan berubah menjadi manusia. Mempelai pria yang semula berwujud tikus berubah menjadi AnhHI Thanh Cường, lalu bersama mempelai wanita turun dari tandu dan memimpin prosesi dalam suasana meriah. Bagian ini menjadi simbol peralihan dari dunia seni rakyat ke kehidupan nyata, sekaligus mencerminkan semangat melestarikan tradisi dalam konteks masa kini.

Sutradara dan pakar AI Xuan Manh, yang terlibat dalam sejumlah proyek musik berbasis AI, mengatakan ia merasa bersemangat ketika “menyentuh warisan budaya” melalui teknologi. Pada proyek “Merencanakan Seumur Hidup”, ia menyebut tim memilih jalur yang menantang: menggunakan AI generasi berikutnya untuk mengisahkan cerita yang dianggap sangat Vietnam—“pernikahan tikus”, simbol kebahagiaan yang telah hidup ratusan tahun dalam ingatan masyarakat.

Bagi Xuan Manh, ketika adegan prosesi melintasi jembatan bambu, melewati sawah menguning, atau cahaya lilin di altar leluhur dihasilkan oleh AI, ia melihatnya bukan semata cerita tentang teknologi, melainkan tentang bagaimana warisan budaya menemukan bentuk lain di era digital. Meski demikian, ia menekankan AI bukan “kunci ajaib”. Tim kreatif tetap menghabiskan banyak waktu untuk merenungkan dan meneliti budaya Vietnam Utara, terutama lukisan Dong Ho. Setiap adegan—mulai dari detail jejak kaki kuda di jalan desa, asap dupa dalam ritual pemujaan leluhur, hingga senyum anak-anak yang menyambut prosesi—dibangun melalui perancangan, pemberian instruksi, dan kendali manual, melewati puluhan bahkan ratusan putaran penyuntingan.

Xuan Manh menilai proyek-proyek semacam ini menjadi cara untuk menunjukkan bahwa AI tidak hanya berguna menciptakan visual yang indah, tetapi juga dapat menjadi sarana melestarikan dan menyebarkan identitas budaya dengan cara yang lebih dinamis dan relevan bagi generasi muda. Ia juga menyebut produk musik kreatif sebagai pernyataan bahwa Vietnam mampu bersaing secara internasional dalam pembuatan konten AI dengan menceritakan kisah mereka sendiri, bukan sekadar meniru.

Komposer Nguyễn Quang Long menilai AI berperan penting sebagai pendukung yang membantu mengoptimalkan proses kreatif, dari produksi gambar animasi hingga video musik yang kompleks. Menurutnya, penerapan AI dalam produksi video musik tidak semata tren sesaat, melainkan bagian dari perubahan yang tak terelakkan di era digital. Karena itu, seniman perlu belajar beradaptasi dan “berkolaborasi” dengan teknologi.

Namun, ia juga menegaskan AI tidak dapat sepenuhnya menggantikan manusia. Untuk menghasilkan karya seni yang benar-benar mendalam, tetap dibutuhkan pemikiran profesional dan keterampilan para pelaku seni. Contoh lain adalah video musik “In the Next Life, Still a Vietnamese” yang menampilkan Quoc Thien, Quan AP, Lam Bao Ngoc, Duong Hoang Yen, dan artis Thu Huyen. Karya ini menarik perhatian penonton, meski sejumlah detail visual hasil AI memunculkan beragam pendapat.

Produser sekaligus sutradara Tran Thanh Trung menyatakan video musik tersebut dibuat dengan gaya artistik yang sugestif dan metaforis, bukan sebagai film dokumenter atau rekonstruksi sejarah. Ia mengatakan tim telah mengantisipasi potensi kontroversi sejak awal terkait penggunaan AI. Namun, dengan dorongan kebanggaan nasional dan keinginan menyebarkan budaya Vietnam, mereka berkomitmen belajar dari pengalaman dan menyempurnakan proyek berikutnya dengan semangat “belajar dan membangun”.

Secara umum, AI membuka kemajuan bagi kaum muda di bidang musik, terutama dalam efisiensi produksi dan eksplorasi kreatif. Meski begitu, para pelaku seni menilai teknologi ini perlu digunakan secara tepat, dengan unsur manusia dan nilai budaya tetap menjadi pusat. Perpaduan yang seimbang antara teknologi dan emosi dinilai akan menentukan daya hidup sebuah karya musik.