BERITA TERKINI
Musik dan Soal Martabat: Ketika yang Dipersoalkan Bukan Nadanya, Melainkan Sikap Kita

Musik dan Soal Martabat: Ketika yang Dipersoalkan Bukan Nadanya, Melainkan Sikap Kita

Perdebatan soal musik kerap berujung pada pertanyaan lama: apakah musik haram atau tidak. Namun, pengalaman seorang pengajar di program Pendidikan Musik menunjukkan persoalan yang lebih mendasar—bukan pada musiknya, melainkan pada cara manusia membingkai dan memperlakukannya.

Ia mengisahkan masa ketika masih menjadi mahasiswa, datang ke kampus dengan celana pendek dan sandal jepit sambil membawa gitar. Saat itu, ia merasa penampilan tersebut adalah bentuk kebebasan berekspresi sebagai seniman. Musik dianggap ruang yang sepenuhnya bebas dan tidak perlu banyak aturan.

Seiring waktu, posisinya berubah. Kini sebagai dosen, ia melihat mahasiswa melakukan hal serupa. Dari situ muncul kesadaran baru: yang membentuk kesan bahwa dunia musik tidak perlu dihormati bukanlah musik itu sendiri, melainkan perilaku para pelakunya yang turut membangun citra tersebut.

Dalam konteks keagamaan, ia merujuk pada penjelasan Gus Baha mengenai asbabun nuzul Surah Al-Jumu’ah ayat 11. Diceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad sedang berkhutbah Jumat, datang kafilah dagang dari Syam yang membawa musik dan penyanyi. Sejumlah sahabat yang hadir meninggalkan masjid untuk menyaksikannya, hingga hanya dua belas orang yang tersisa. Peristiwa itu kemudian diikuti turunnya ayat teguran.

Menurut penjelasan tersebut, yang ditegur bukanlah musiknya, melainkan tindakan meninggalkan sesuatu yang lebih penting demi hiburan. Nabi tidak kemudian melarang musik, dan dalam kesempatan lain bahkan membiarkan rebana dimainkan dalam pernikahan. Kesimpulan yang ditarik Gus Baha adalah bahwa persoalan utamanya bukan pada “dzat” musik, melainkan pada manfaat dan mudaratnya sesuai konteks.

Pandangan serupa, disebutkan, juga muncul jauh sebelum Islam. Filsuf Yunani Plato menilai bahwa musik perlu dilihat dari konteks sosialnya dan emosi yang dibangkitkannya. Ia menolak instrumen aulos dari negara idealnya karena instrumen itu dikaitkan dengan pesta minum dan ritual yang tak terkendali—bukan semata karena bunyinya, melainkan karena lingkungan yang menyertainya kerap memicu kekacauan sosial.

Dari dua contoh lintas zaman tersebut, muncul benang merah: kekhawatiran terhadap musik sering kali bukan soal instrumen atau nadanya, melainkan tentang di mana musik ditempatkan dan apa yang diwakilinya.

Di titik ini, pengajar tersebut melihat ironi yang menurutnya kerap terjadi di lingkungan pendidikan musik. Di satu sisi, para pelaku pendidikan musik berupaya keras menjelaskan bahwa musik bukan sesuatu yang hina, bahkan bisa mendidik dan membangun karakter. Di sisi lain, sebagian mahasiswa justru hadir ke kampus dengan penampilan yang dianggap tidak mencerminkan penghormatan terhadap ruang akademik—celana pendek, sandal jepit, dan rambut acak-acakan, seolah kampus disamakan dengan ruang latihan informal.

Ia menegaskan, kritik itu bukan soal konservatisme, melainkan soal konsistensi. Jika musik ingin dipandang sebagai bidang yang bermartabat dan layak dihormati, maka sikap dan etos para pelakunya juga perlu mencerminkan penghormatan yang sama.