Jevin Julian membentuk proyek musik baru dengan menggandeng Vanesha Prescilla dan Aldrienko Pakusadewo dalam sebuah trio bernama The Midnight Darlings. Unit pop alternatif ini menandai langkah awal mereka dengan merilis single debut berjudul “Am I Loving You Alone?”.
The Midnight Darlings lahir dari kesamaan ketertarikan para personelnya terhadap eksplorasi musik dan estetika sinematik. Melalui lagu perdana tersebut, mereka mengajak pendengar memasuki ruang musikal yang dreamy dan emosional, namun tetap terasa mentah serta intim.
Secara tematik, “Am I Loving You Alone?” merekam melankolia perasaan jatuh cinta yang begitu dalam hingga perlahan berubah menjadi fantasi di dalam kepala. Cerita tentang seorang pengagum rahasia yang menyimpan rasa sendirian itu dibalut atmosfer melankolis.
Dalam keterangannya pada Selasa, 9 Juni, Jevin Julian mengungkapkan keyakinannya terhadap perjalanan proyek ini. “Kadang rasanya kayak cuma kita sendiri yang terlalu berharap punya band ini. Tapi di saat yang sama, gue percaya kalau memang sesuatu belum terjadi, mungkin memang belum waktunya aja. Semakin kita percaya dan membayangkan itu dengan baik, sooner or later it will happen. And here we are, The Midnight Darlings,” kata Jevin.
Single ini juga menjadi panggung debut bagi Vanesha Prescilla sebagai vokalis utama dalam format grup musik. Bagi aktris berusia 26 tahun tersebut, The Midnight Darlings menjadi ruang eksplorasi musikal yang belum pernah ia jalani sebelumnya.
“Gua enggak pernah kebayang bakal menyanyikan lagu seperti ini. Tapi ternyata menyenangkan banget karena ini sesuatu yang baru buat gue. Gue jadi belajar banyak hal tentang musik, terutama produksi lagu yang ternyata kompleks banget, tapi exciting. Rasanya kayak terus ditantang buat semakin dekat sama The Midnight Darlings,” ujar Vanesha.
Jevin menambahkan, proses penulisan dan produksi lagu banyak dipengaruhi memori masa lalunya. Ia mengaku kembali menengok pengalaman dan referensi musik semasa sekolah untuk menemukan formula aransemen yang tepat.
“Produksi lagu ini seru banget. Gua pas nulis dan produksi lagunya ngebawa perasaan era gue sekolah dulu. Gua juga lagi balik dengerin playlist zaman sekolah dari harddisk gua yang udah lama banget enggak gua buka. Terus gua juga lagi suka banget sama gitar, lagi belajar gitar dan sound designing pakai gitar, jadi banyak banget hal-hal baru yang gua dapetin,” tutur Jevin.
Secara musikalitas dan visual, The Midnight Darlings mengusung konsep “rough yet dreamy” yang berakar pada estetika sinematik, vintage, dan sentimental. Kiblat visual serta audio mereka disebut dipengaruhi aura magis pergerakan band-band era 1990-an hingga awal 2000-an, dengan keseluruhan konsep yang menyerupai potongan memori lama—samar, namun hangat.