MAKASSAR — Seni dan sastra dinilai memiliki peran penting dalam menjaga eksistensi bahasa ibu yang kian terancam oleh derasnya arus globalisasi. Melalui karya sastra daerah, lagu tradisional, serta seni pertunjukan berbasis kearifan lokal, generasi muda dapat dikenalkan pada kekayaan bahasa ibu yang sarat makna, sekaligus menjadi upaya strategis agar bahasa daerah tidak hilang ditelan zaman.
Ketua Bidang SDM PPBDI Kabupaten Bone, Nirwana, S.S., M.Pd., menilai bahasa global tidak dapat dikesampingkan. Namun, menurutnya, tantangannya adalah bagaimana bahasa Bugis dapat beradaptasi di tengah penggunaan bahasa global. Ia menekankan bahwa bahasa ibu bukan hanya alat komunikasi, melainkan juga wadah nilai budaya, norma, dan filosofi hidup masyarakat. Karena itu, seni dan sastra dipandang efektif sebagai media pewarisan bagi generasi penerus.
Dalam program acara Mozaik Budaya di Programa 4 RRI Makassar pada Senin, 15 September 2025, Nirwana menyampaikan bahwa seni pertunjukan seperti teater rakyat, pantun, syair, hingga puisi daerah dapat menjadi cara menyenangkan bagi anak-anak untuk mengenal bahasa ibu. Ia juga menyebut karya sastra berfungsi sebagai dokumentasi yang mengikat identitas dan sejarah komunitas. “Bahasa ibu itu bukan sekadar kata-kata, melainkan identitas kita. Jika bahasa ini hilang, maka sebagian budaya kita pun ikut hilang,” katanya.
Ia menambahkan, teknologi seharusnya membuka peluang untuk mempopulerkan karya-karya lokal. Menurutnya, bahasa ibu dapat beradaptasi dan tidak tergerus globalisasi, antara lain terlihat dari kosakata Bugis yang semakin kaya seiring perkembangan teknologi.
Upaya pelestarian bahasa ibu melalui seni dan sastra ini diharapkan menjadi gerakan bersama. Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, komunitas seni, hingga masyarakat luas disebut dapat berkontribusi sesuai perannya. Melalui sinergi tersebut, bahasa ibu diharapkan tetap hidup, tumbuh, dan dapat diwariskan lintas generasi.

