BERITA TERKINI
Seminar Nasional FF Unpar Bahas Proyeksi Seni, Kebudayaan, dan Filsafat Menuju 2030

Seminar Nasional FF Unpar Bahas Proyeksi Seni, Kebudayaan, dan Filsafat Menuju 2030

Kemajuan sains dan teknologi yang berlangsung cepat memunculkan tantangan baru bagi seni, kebudayaan, dan filsafat sebagai bagian dari peradaban. Perubahan itu memantik pertanyaan tentang bagaimana sains dan teknologi akan mengubah seni dan filsafat di masa mendatang.

Pertanyaan tersebut menjadi pokok bahasan Centre for Philosophy, Culture, and Religious Studies (CPCReS) Fakultas Filsafat Universitas Katolik Parahyangan (FF Unpar) dalam seri Seminar Nasional bertajuk “Arts and Culture to 2030: Navigating Uncertainty”. Kegiatan ini menghadirkan pakar filsafat, pengamat, serta budayawan untuk mendiskusikan ketidakpastian masa depan filsafat, kebudayaan, dan seni.

Dua seri diskusi dengan tema berbeda

Seri pertama seminar digelar pada Sabtu, 6 November 2020, dengan topik “Transformative Philosophy”. Dalam sesi ini, peserta membahas posisi filsafat di tengah peradaban milenium ketiga yang semakin dibentuk oleh sains dan teknologi. Filsafat yang selama ini dipandang memiliki daya membentuk dan memberi arah turut dipertanyakan relevansinya. Diskusi juga menyinggung hubungan filsafat dengan kearifan lokal di tengah dunia yang semakin terglobal.

Dalam seri pertama, sejumlah pembicara yang hadir antara lain Goenawan Mohammad, Dr. Herman Sutarto, serta Prof. Jacob Somardjo.

Seri kedua berlangsung pada Sabtu, 13 November 2020, dengan tema “Integrated Arts”. Pembahasan diarahkan pada fenomena seni yang semakin terintegrasi, ditandai oleh kontradiksi antara euforia kultur visual dan gagasan tentang “keberakhiran” seni. Di antara keduanya, muncul kecenderungan kolaborasi lintas bidang seni maupun dengan bidang ilmu lain, yang dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Pembicara pada seri kedua meliputi Prof. Bambang Sugiharto, Theo Fridz Hutabarat, dan Riar Rizaldi.

Ketidakpastian di ranah seni dan sekat yang kian terbuka

Membuka diskusi seri kedua, Guru Besar FF Unpar Prof. Dr. Ir. Bambang Sugiharto menyampaikan pandangannya bahwa ketidakpastian di bidang seni sangat kuat. Menurutnya, keterpisahan antardunia seni kini semakin bercampur dan sekat-sekat perlahan terdobrak. Ia juga menilai dunia manusia dapat dipahami sebagai proses konstruktif bersama, di mana seluruh hidup merupakan karya seni yang diciptakan sendiri maupun bersama.

Ia menambahkan bahwa dalam seni selalu terdapat aspek reflektif dan kritis, sehingga seniman yang menyeriusi bidangnya cenderung resisten terhadap status quo. Bambang juga menilai setiap cabang seni memiliki kecenderungan mempercanggih dirinya secara natural seiring bertambahnya pengikut.

AI, budaya visual, dan seni media

Berikutnya, Theo Frida M. Hutabarat, S.Sn., M.Sn. memaparkan peran Artificial Intelligence (AI) dalam budaya visual masa kini. Dosen Filsafat Seni Terpadu Unpar itu menyebut terdapat perubahan yang menuntut kesadaran dalam menentukan pilihan. Ia juga menegaskan bahwa meskipun teknologi berkembang pesat, seni akan tetap ada dan terus hadir di dunia.

Paparan terakhir disampaikan Riar Rizaldi, seniman dan peneliti yang juga kandidat doktoral di School of Creative Media, City University of Hong Kong. Ia menjelaskan pengertian umum seni media sebagai praktik artistik yang menggunakan perangkat teknologi sebagai medium. Dalam telaah kritis, menurut Riar, seni media merupakan bentuk artistik yang mempertanyakan sekaligus merespons batasan-batasan teknologi. Ia juga menyebut perkembangan dunia sains menjadi pijakan seni media untuk melihat relasi antara seni dan disiplin ilmu lain secara interdisipliner.

Format daring dengan selingan pertunjukan

Seminar nasional ini diselenggarakan secara daring. Meski demikian, rangkaian kegiatan disebut ditampilkan secara unik dan mengesankan, serta diselingi kreasi tari modern dan gubahan musik karya komunitas akademik Filsafat Unpar.

  • Seri 1 (6/11/2020): Transformative Philosophy
  • Seri 2 (13/11/2020): Integrated Arts