BERITA TERKINI
Selama Pandemi, Novel dan Buku Pengembangan Diri Mendominasi Penjualan Daring

Selama Pandemi, Novel dan Buku Pengembangan Diri Mendominasi Penjualan Daring

Minat masyarakat untuk membaca buku tetap tinggi selama pandemi. Di tengah pembatasan aktivitas dan lebih banyak waktu di rumah, buku fiksi seperti novel serta buku pengembangan diri menjadi jenis bacaan yang paling banyak dicari.

Penjualan buku bergeser ke kanal daring

Tren ini tercermin dari data penjualan di PT Gramedia Asri Media. Perusahaan mencatat penjualan buku di toko ritel Gramedia turun drastis akibat pandemi Covid-19. Namun, penjualan buku cetak melalui kanal daring justru meningkat hingga 200 persen sepanjang 2020.

Selain itu, penjualan paket berlangganan buku digital (e-book) dilaporkan naik sampai 55 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata kenaikan 20–30 persen pada periode sebelum pandemi.

Corporate Secretary PT Gramedia Asri Media Yosef Adityo menyebut, kategori yang paling diminati dan berkontribusi besar pada penjualan adalah novel dan psikologi populer. Buku pengembangan diri, menurutnya, banyak dicari karena terkait upaya masyarakat mengelola stres selama pandemi. Setelah itu, buku masakan juga ikut meningkat peminatnya, meski sebelumnya tidak terlalu besar.

Tokopedia mencatat lonjakan transaksi buku

Platform e-dagang Tokopedia juga menemukan peningkatan hobi membaca sepanjang 2020. Membaca buku masuk dalam lima hobi yang terkait dengan kenaikan transaksi belanja di platform tersebut, bersanding dengan olahraga, berkebun, melukis, dan memasak.

External Communications Senior Lead Tokopedia Ekhel Chandra Wijaya menyatakan, transaksi pada kategori buku meningkat hampir 200 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ia menambahkan, buku religi, pengembangan diri, novel dan sastra, serta buku remaja dan anak masih menjadi beberapa kategori yang paling populer di Tokopedia.

Tokopedia juga mencatat kenaikan jumlah penjual buku sejak awal pandemi pada 2020. Jumlah penjual buku dilaporkan meningkat hampir dua kali lipat.

Membaca sebagai hiburan dan cara mengisi waktu

Sejumlah pembaca mengakui, lebih banyak waktu di rumah mendorong mereka mengonsumsi lebih banyak buku. Bacaan ringan atau buku yang memberi inspirasi untuk mencoba hal baru menjadi pilihan untuk mengisi hari.

Kartika Sari (30), perempuan karier di Jakarta, mengatakan pandemi membuatnya kembali membeli buku untuk menghibur dirinya dan keluarga saat lebih banyak berada di rumah. Ia juga mengembangkan hobi baru, seperti menjahit pakaian dan mendongeng untuk anak-anaknya.

Menurut Kartika, pada awal pandemi ia menjadi impulsif membeli buku. Ia banyak memanfaatkan saluran penjualan daring, termasuk jasa titip buku melalui aplikasi pesan. Belakangan, ia juga mencoba membeli buku digital untuk menambah referensi bacaan.

Sementara itu, Narendra (25), pekerja swasta di Bandung yang bekerja dari rumah, mengaku memiliki lebih banyak waktu luang untuk membaca. Dalam kurang dari setahun pandemi, ia mengatakan telah menuntaskan hampir 20 novel, yang mayoritas dibaca dalam format digital.

Ia menilai akses perpustakaan digital membuatnya tidak perlu bepergian dan dapat menghemat pengeluaran. Melalui salah satu layanan perpustakaan buku digital, ia menyebut biaya kurang dari Rp 100.000 per bulan sudah cukup untuk mengakses ribuan buku. Narendra juga mulai mengakses audiobook dan menyebut pengalaman menikmati bacaan dalam bentuk suara menjadi terapi tersendiri ketika ketergantungan pada gawai meningkat.

Digitalisasi buku dan pengembangan audiobook

Perubahan perilaku membaca turut mendorong inovasi di industri buku. Gramedia, misalnya, telah mengembangkan buku digital sejak beberapa tahun lalu. Saat ini perusahaan tersebut memiliki 20.000 koleksi buku digital dan akan terus menambah koleksinya. Buku digital juga dipasarkan secara business to business (B2B) ke pemerintahan hingga lembaga pendidikan.

Selain buku digital, Gramedia juga mengembangkan audiobook. Yosef menyampaikan pengembangan inovasi tersebut dilakukan tanpa riset pasar karena perusahaan menilai berinovasi sebelum tren muncul merupakan hal penting. Ia mencontohkan pengembangan buku digital yang dilakukan sebelum pandemi, yang kemudian terbukti bermanfaat saat situasi berubah.

Meski demikian, pengalihan buku cetak ke format digital dan audio memerlukan izin dari penulis, sehingga proses alih wahana membutuhkan waktu.

Pasar buku digital global diproyeksikan tumbuh

Di tingkat global, laporan perusahaan analisis data asal Perancis, Report Linker, pada Juli 2020 memperkirakan pasar buku digital dunia akan terus bertumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan (CAGR) 2 persen pada 2020–2027. Nilai pasar buku digital global pada 2020 disebut sebesar 24,1 miliar dollar AS dan diproyeksikan mencapai 27,7 miliar dollar AS pada 2027.

Forbes pada September 2020 juga melaporkan nilai pasar buku digital global sebesar 18,13 miliar dollar AS pada 2019. Dalam laporan itu, Amazon disebut menguasai 83 persen pangsa pasar di Amerika Serikat, sementara sisanya diisi oleh Apple Books, Barnes & Noble, Kobo, dan Google.

  • Penjualan buku cetak daring Gramedia naik hingga 200 persen sepanjang 2020, meski penjualan ritel turun drastis.
  • Paket berlangganan e-book di Gramedia meningkat sampai 55 persen.
  • Tokopedia mencatat transaksi kategori buku naik hampir 200 persen dan jumlah penjual buku meningkat hampir dua kali lipat.
  • Novel dan buku pengembangan diri menjadi kategori yang paling banyak dicari selama pandemi.