BERITA TERKINI
Sejarah Hari Teater Dunia: Diperingati Tiap 27 Maret dan Digagas ITI Sejak 1962

Sejarah Hari Teater Dunia: Diperingati Tiap 27 Maret dan Digagas ITI Sejak 1962

Setiap 27 Maret, pegiat teater di berbagai negara memperingati Hari Teater Dunia yang kerap disingkat Hatedu. Peringatan ini menjadi momentum tahunan bagi komunitas seni pertunjukan untuk menegaskan peran teater dalam kehidupan sosial dan kemanusiaan.

Hari Teater Dunia diinisiasi oleh The International Theatre Institute (ITI) pada 27 Maret 1962. Pada tanggal tersebut, organisasi seni pertunjukan dunia yang bernaung di bawah UNESCO itu kembali memulai festival Theatre of Nations di Paris, yang telah berlangsung berulang kali sejak 1957.

Sejak penyelenggaraan pertamanya, Hari Teater Dunia terus diperingati setiap tahun. ITI menetapkan sejumlah tujuan peringatan ini, antara lain mempromosikan seni dari seluruh dunia dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap nilai-nilai seni. Peringatan tersebut juga dimaksudkan untuk memberi kesempatan bagi komunitas teater dan tari mempromosikan karya mereka secara luas, sehingga pihak-pihak yang memiliki pengaruh di masyarakat dapat memahami nilai seni yang terkandung di dalamnya dan mendukungnya. Selain itu, peringatan ini turut menekankan apresiasi seni untuk kepentingan seni itu sendiri (art for art).

Dalam tradisinya, setiap tahun ITI memilih seorang seniman teater untuk menyampaikan pesan Hari Teater Dunia yang berkaitan dengan teater dan perdamaian. Pada tahun ini, aktris asal Mesir, Samiha Ayoub, terpilih menyampaikan pesan tersebut.

Dalam pesannya, Samiha Ayoub menyoroti situasi dunia belakangan ini. Ia menggambarkan kondisi manusia saat ini seperti berada di tengah lautan berkabut yang berlayar tanpa panduan, namun tetap bergerak dengan harapan menemukan pelabuhan yang aman untuk bersandar. Ia juga menyampaikan bahwa perang, konflik, ekstremisme, dan berbagai situasi serupa membuat orang-orang melupakan esensi kemanusiaan.

Perempuan yang telah memainkan 170 lakon sepanjang kariernya itu mengajak para pegiat teater di seluruh dunia untuk bersama-sama menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, pegiat teater telah mencurahkan hidup untuk menyampaikan pesan kemanusiaan melalui panggung, sehingga memiliki dasar kuat untuk berada di garis depan dalam menolak kebrutalan, rasisme, konflik berdarah, cara pandang sempit, dan ekstremisme.

ITI sendiri merupakan organisasi yang bergerak di bidang seni pertunjukan di seluruh dunia. Lembaga ini dibentuk pada 1948 oleh Direktur Jenderal UNESCO pertama, Sir Julian Huxley, bersama John Boynton Priestley, penulis lakon drama asal Inggris. Pendirian ITI terjadi tiga tahun setelah Perang Dunia II berakhir dan pada tahun yang sama dengan dimulainya Perang Dingin.

Sejalan dengan visi dan misi UNESCO, ITI berfokus mengembangkan seni pertunjukan beserta para senimannya di berbagai negara. Organisasi ini berupaya melindungi dan mengadvokasi bentuk-bentuk ekspresi budaya tanpa membedakan usia, jenis kelamin, keyakinan, dan etnis. ITI juga menyelenggarakan pertukaran dan kolaborasi budaya, pendidikan seni pertunjukan, serta pemberdayaan pemuda di seluruh dunia.