Penyelenggaraan Southeast Asia Ministerial Meeting on Youth and Sports (SEAMMYS) 2026 di Bali dinilai menjadi salah satu langkah paling terstruktur yang pernah dilakukan Indonesia untuk membangun kerja sama kawasan melalui sektor pemuda dan olahraga. Pertemuan tingkat menteri yang berlangsung pada 3–5 Mei itu memperlihatkan arah baru diplomasi regional yang menempatkan olahraga dan pengembangan generasi muda sebagai bagian dari strategi pembangunan kawasan.
Indonesia melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga di bawah Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengambil peran sebagai penggagas agenda bersama sekaligus tuan rumah. Selama ini, kerja sama olahraga di Asia Tenggara kerap terpusat pada penyelenggaraan kompetisi rutin seperti SEA Games, tanpa pembahasan yang lebih luas mengenai tata kelola olahraga, industri olahraga, pembinaan atlet, hingga pengembangan kapasitas generasi muda.
SEAMMYS 2026 menjadi penanda perubahan pendekatan tersebut. Tema “Penguatan Kolaborasi Pemuda Asia Tenggara dan Diplomasi Olahraga demi Membangun Masa Depan Kawasan yang Tangguh” menegaskan upaya menempatkan olahraga dalam kerangka diplomasi serta pembangunan sosial dan ekonomi, sekaligus penguatan ketahanan kawasan.
Rangkaian pertemuan diawali melalui Senior Official Meeting yang dipimpin delegasi Indonesia dengan pembahasan ketahanan pemuda, pembinaan bakat olahraga, dan penguatan kemitraan regional. Pembahasan kemudian berlanjut pada tingkat menteri dan berkembang menjadi forum yang membicarakan arah masa depan olahraga Asia Tenggara secara lebih luas.
Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Asia Tenggara menghadapi tantangan yang relatif serupa di sektor kepemudaan, mulai dari bonus demografi, perkembangan teknologi digital, perubahan pola kerja, isu kesehatan mental, hingga ketimpangan kesempatan ekonomi. Pada saat yang sama, fungsi olahraga juga mengalami pergeseran dari semata arena kompetisi prestasi menjadi bagian dari industri, pariwisata, diplomasi, hingga pembangunan ekonomi kreatif.
Melalui SEAMMYS, Indonesia berupaya membangun kesamaan perspektif bahwa penguatan sektor pemuda dan olahraga perlu dilakukan secara kolektif, bukan berjalan sendiri-sendiri di masing-masing negara.
Dorongan transformasi SEA Games
Salah satu agenda yang menonjol dalam forum tersebut adalah dorongan transformasi SEA Games. Indonesia membawa gagasan agar SEA Games diarahkan menjadi ajang yang lebih kompetitif dengan standar yang lebih konsisten. Selama ini, SEA Games kerap dipandang terlalu bergantung pada kepentingan tuan rumah, termasuk perubahan cabang olahraga yang dipertandingkan sesuai kekuatan negara penyelenggara.
Situasi tersebut dinilai membuat kualitas kompetisi sulit memiliki ukuran yang stabil sebagai bagian dari jalur pembinaan atlet menuju level yang lebih tinggi seperti Asian Games atau Olimpiade. Dalam SEAMMYS, Indonesia mendorong SEA Games lebih banyak mempertandingkan cabang dan nomor Olimpiade agar perannya bergeser dari ajang perebutan medali regional menjadi bagian dari sistem pembinaan olahraga Asia Tenggara.
Usulan itu dilaporkan mendapat dukungan dari sejumlah negara peserta, seperti Filipina, Singapura, Vietnam, dan Laos. Filipina melihat transformasi SEA Games sebagai peluang memperbesar nilai ekonomi olahraga regional, sejalan dengan pandangan bahwa investasi olahraga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sport tourism, sponsor, penyiaran, industri olahraga, dan penciptaan lapangan kerja.
Deklarasi Bali dan kerja sama bilateral
Hasil konkret pertemuan tersebut adalah lahirnya Deklarasi Bali yang disepakati seluruh delegasi negara peserta. Deklarasi itu memuat enam poin utama, yakni penguatan kerja sama olahraga regional, pengembangan sistem olahraga prestasi tinggi, peningkatan kolaborasi penyelenggaraan ajang internasional, penguatan partisipasi olahraga untuk kesehatan masyarakat dan integrasi sosial, pemberdayaan pemuda, serta pembangunan ketahanan generasi muda di era digital.
Deklarasi Bali menempatkan olahraga dan kepemudaan sebagai isu strategis kawasan, sekaligus menjadi dasar pembentukan kerangka kerja regional yang lebih terarah dibanding pola kerja sama sebelumnya yang dinilai cenderung sporadis.
Dari sisi diplomasi, Indonesia juga memanfaatkan forum ini untuk memperkuat hubungan bilateral. Salah satu hasil yang disebut menonjol adalah penandatanganan nota kesepahaman antara Indonesia dan Singapura di bidang kepemudaan dan olahraga. Kerja sama tersebut mencakup pemberdayaan pemuda, kewirausahaan, kepemimpinan, penguatan organisasi kepemudaan, pengembangan ekosistem digital yang aman, hingga kolaborasi sport science dan teknologi olahraga.
Selain itu, Indonesia turut memperkuat hubungan olahraga dengan Timor Leste dan Brunei Darussalam melalui pencak silat. Kepada Timor Leste, Indonesia menawarkan dukungan pembinaan dan penguatan ekosistem olahraga, termasuk kepelatihan dan perwasitan pencak silat. Sementara dengan Brunei Darussalam, pembahasan mencakup peluang pengembangan pelatih, penyelenggaraan kejuaraan, hingga kemungkinan kolaborasi menjadi tuan rumah ajang pencak silat.
Pencak silat disebut menjadi salah satu instrumen diplomasi budaya yang menonjol dalam rangkaian SEAMMYS 2026. Indonesia, yang tengah berupaya membawa pencak silat ke level Olimpiade, menggunakan cabang tersebut sebagai medium penguatan hubungan antarnegara sekaligus memperluas pengaruh budaya Indonesia di kawasan.
Menuju forum dua tahunan
SEAMMYS juga diproyeksikan sebagai bagian dari upaya Indonesia membangun kepemimpinan regional dalam isu olahraga dan kepemudaan, yang selama ini belum terlalu menonjol dalam agenda strategis ASEAN. Kesepakatan untuk menjadikan SEAMMYS sebagai agenda rutin dua tahunan menandakan forum ini diarahkan menjadi mekanisme kerja sama jangka panjang. Filipina bahkan menyatakan minat menjadi tuan rumah berikutnya.
Secara keseluruhan, SEAMMYS 2026 menandai perubahan orientasi kerja sama olahraga Asia Tenggara. Pembahasan tidak lagi terbatas pada pertandingan dan perebutan medali, tetapi meluas ke isu pembinaan atlet, tata kelola olahraga, ekonomi olahraga, ketahanan generasi muda, teknologi digital, hingga diplomasi budaya. Bagi Indonesia, forum ini menjadi instrumen untuk membuka ruang kolaborasi regional baru di luar isu ekonomi dan politik.