Anggapan bahwa kritik sastra Indonesia mengalami kemunduran—bahkan seolah “mati suri”—dipatahkan oleh penyelenggaraan Sayembara Kritik Sastra 2020 oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa). Sayembara ini memunculkan kembali kesadaran bahwa kritik sastra masih hidup, berkembang, dan mampu merespons dinamika karya sastra yang terus bergerak.
Kualitas naskah terpilih yang kemudian dibukukan dalam Teks, Pengarang, dan Masyarakat (2020) turut menguatkan penilaian tersebut. Sejumlah juri, termasuk Seno Gumira Ajidarma, menilai kritik sastra yang hadir lewat sayembara itu menunjukkan bahwa kerja pembacaan kritis bukan sesuatu yang asing. Dalam pandangan Maneke Budiman, teks-teks kritik yang terpilih dinilai “berbobot isinya, membuka wawasan, dan mencerahkan”.
Kritik Sastra Bergeser, tetapi Tidak Hilang
Dalam beberapa tahun terakhir, ruang kritik sastra banyak bergeser ke media sosial, seperti Facebook. Di saat yang sama, gagasan polemik sastra disebut menyurut setelah berbagai perdebatan, seperti sastra kontekstual, revitalisasi sastra pedalaman, dan sastra “wangi”. Namun, pergeseran medium itu tidak serta-merta menghapus praktik kritik sastra.
Seno Gumira Ajidarma memandang kritik sastra tetap berfungsi membongkar teks untuk menunjukkan bagaimana gejala kesusastraan dapat menjadi sumber pengetahuan atas gejala kebudayaan dalam pengertian luas, termasuk sosial, politik, dan agama. Dalam konteks ini, sayembara yang digelar Badan Bahasa dianggap menyerap energi kreativitas berbagai kalangan yang selama ini aktif berpolemik di media sosial, meski kerap berlangsung dalam kelompok-kelompok kecil dan isu yang terbatas.
Target: Kebaruan Pemikiran dan Ketajaman Analisis
Sayembara ini diarahkan untuk menemukan “kebaruan pemikiran, kekuatan argumentasi, ketajaman analisis, dan kreativitas penyajian”. Di antara tuntutan tersebut, “kebaruan pemikiran” menjadi tantangan utama bagi peserta. Karena itu, pemilihan teks sastra yang dikaji menjadi pertaruhan penting, selain teori yang digunakan dan ketajaman pembacaan.
Lima juri menetapkan tiga naskah terbaik sebagai pemenang:
- Terbaik pertama: “Puisi-puisi Afrizal Malna: Bahasa yang Diam-diam Meninggalkan Tubuh” karya Dwi Pranoto.
- Terbaik kedua: “Forgulos, Kambing dan Hujan: Ketika Pemabuk Cinta Menabok Pemabuk Teks Agama” karya Wahyu Kris.
- Terbaik ketiga: “Poetika Pelenyapan Diri ala Zhang Daqian dan Lompatan Puitik Puji Pistols” karya Dwi Cipta.
Pilihan Teks dan Cara Baca Para Pemenang
Ketiga pemenang dinilai tepat dalam memilih teks sastra sebagai bahan kajian, yakni karya-karya dari Afrizal Malna, Aveus Har, dan Puji Pistols (Pujianto).
Afrizal Malna dikenal sebagai penyair yang melakukan dekonstruksi diksi dan logika, sekaligus menyingkap kehidupan postmodern yang paradoks, hedonis, dan materialis. Dwi Pranoto, melalui naskah pemenangnya, menyebut bahasa yang diekspresikan Afrizal Malna dalam puisi-puisinya “meninggalkan tubuh”.
Sementara itu, Aveus Har menulis novel Forgulos (Basabasi, 2019), yang juga disebut sebagai juara pertama Sayembara Novel Basabasi 2019. Novel tersebut menyingkap fantasi-fantasi tak terduga yang menyerupai dongeng, mengisahkan anomali hidup dan eksotisme, serta memuat ide-ide tentang perubahan tradisi yang dibawa tokoh Arthur. Wahyu Kris menilai terdapat kekuatan “kebaruan pikiran” pada novel itu, khususnya pada “kebaruan cara pandang” dalam menyingkap tabir kehidupan, termasuk satire atas fenomena sosial dan religiositas.
Adapun Dwi Cipta menyoroti lompatan puitik Puji Pistols sebagai ekspresi pemahaman sang penyair terhadap teks-teks yang dibaca, sesuai ekosistem pengetahuan dan orientasi puitiknya. Puji Pistols digambarkan menyadari cekaman “warna kelabu” dan riwayat dirinya sendiri, yang disebut hanya bisa dibebaskan lewat pengembaraan intelektual. Sebagai otodidak dalam penulisan puisi, ia mempertaruhkan pilihan pada dunia Timur, yang kemudian dianalisis dalam naskah kritik tersebut.
Keberagaman Objek, Teori, dan Latar Penulis
Buku Teks, Pengarang, dan Masyarakat memuat 20 tulisan kritik yang menandai keberagaman bahan kajian: dongeng, serat, novel, puisi, cerpen, hingga esai. Keragaman itu juga tampak pada teori yang digunakan, ketajaman analisis, pengembangan ide, struktur, dan gaya penulisan yang digeluti para penulis, yang mengarah pada ragam “kritik-esai”.
Isu sosial-politik, agama, dan gender ikut menantang para kritikus untuk beradaptasi dengan tanggapan terhadap genre baru dan objek sastra yang kian beragam. Dalam proses itu, mereka tidak lagi terpaku pada oposisi biner seperti “pusat” dan “pinggiran”, atau sastra “lama” dan “mutakhir”.
Dua puluh penulis kritik dalam buku tersebut disebut berasal dari latar profesi, pendidikan, usia, dan lapisan sosial yang beragam, sehingga penerapan teori pun menyesuaikan teks yang dibaca dan cakrawala pengetahuan masing-masing.
Sejumlah Nama yang Tercatat dalam Buku
Di antara penulis yang dibukukan, terdapat sejumlah tokoh yang dikenal dalam penciptaan sastra, kritik, esai, maupun pemikiran kebudayaan. Enam nama yang dicatat adalah Dwi Cipta, Nirwan Ahmad Arsuka, Bandung Mawardi, Heru Joni Putra, Niduparas Erlang, dan Yusri Fajar.
- Dwi Cipta dikenal menulis cerita dan esai, menerjemahkan karya sastra, menulis esai budaya dan politik, serta menulis novel, dan disebut sebagai pegiat literasi.
- Nirwan Ahmad Arsuka dikenal sebagai penulis esai berbasis budaya dan sejarah yang diterbitkan di International Journal of Asian Studies dan Inter-Asia Cultural Studies Journal.
- Bandung Mawardi disebut produktif menulis esai dan menjadi pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi.
- Heru Joni Putra disebut aktif menulis esai, puisi, dan kritik sastra di forum nasional dan internasional.
- Niduparas Erlang menulis novel Burung Kayu (Teroka Press, 2020) yang meraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2020.
- Yusri Fajar dikenal sebagai dosen, kritikus, sastrawan, serta pemenang pertama Lomba Kritik Sastra HISKI dan Balai Bahasa Bali 2020.
Ruang Publikasi dan Tantangan Pembaca
Pembukuan 20 naskah terpilih pada Desember 2020 dan peredarannya di kalangan pembaca dipandang sebagai penanda berakhirnya keterpasungan kritik sastra dari masyarakat pembacanya. Namun, persoalan berikutnya adalah seberapa luas lapisan masyarakat dapat menikmati buku kritik sastra yang ditulis dengan ragam latar dan membawa tuntutan “kebaruan pemikiran”, sekaligus memetakan beragam teks sastra dengan argumentasi yang luwes.
Jika sebelumnya dunia sastra Indonesia kerap mengikuti patron kritikus seperti HB Jassin dan Korrie Layun Rampan, kini muncul gambaran bahwa kritik sastra dapat dihidupi oleh beragam profesi dengan teori yang beragam pula. Kritik sastra juga dinilai mengisi ruang ekspresi yang kurang maksimal seiring hilangnya ruang publikasi di media massa dan majalah sastra.
Harapan yang mengemuka, buku kritik sastra hasil sayembara ini dapat dinikmati lebih luas. Sebab, akan disayangkan apabila penerbitannya terbatas dan hanya beredar di kalangan yang terbatas pula.

