Akhir tahun kerap menjadi momen yang dinanti, bukan hanya oleh mereka yang merayakan Natal, tetapi juga pelajar dan para pekerja. Masa libur memberi kesempatan untuk beristirahat, berkumpul dengan keluarga, dan kembali mengunjungi kampung halaman.
Di balik rasa bahagia itu, psikologi menjelaskan bahwa manusia bukan hanya membangun ikatan dengan sesama, tetapi juga dengan tempat. Keterikatan emosional terhadap suatu tempat dikenal sebagai topofilia.
Apa itu topofilia?
Topofilia adalah istilah untuk menggambarkan ikatan perasaan nyaman dan aman pada suatu tempat. Tempat yang dimaksud tidak selalu kampung halaman; bisa berupa rumah, hutan, pantai, hingga kantor. Para psikolog menyebut keterikatan ini mirip dengan kasih sayang yang diberikan kepada orang lain.
Sejumlah studi menunjukkan, pindah dari kota yang dicintai dapat menimbulkan perasaan yang mirip dengan patah hati ketika kehilangan orang terdekat. Bahkan, ketika seseorang memiliki ikatan kuat dengan sebuah kota, ia cenderung merasa lebih puas dan nyaman berada di rumah. Hal ini berkaitan dengan peran lingkungan fisik dalam membentuk makna hidup dan pengalaman seseorang.
Profesor arsitektur Kim Dovey, yang mempelajari konsep rumah dan pengalaman tunawisma, menyatakan bahwa tempat tinggal umumnya memiliki ikatan yang sangat erat dengan perasaan dan diri seseorang.
Kampung halaman: satu istilah, banyak makna
Meski terdengar sederhana, definisi “kampung halaman” atau “asal” kerap membingungkan. Pertanyaan tentang asal bisa merujuk pada tempat tinggal saat ini, tempat lahir, atau tempat dibesarkan.
Penelitian Pew Research Center yang terbit pada 29 Desember 2008 mengidentifikasi bagaimana orang memaknai “rumah”. Hasilnya menunjukkan beragam jawaban:
- 26% menyebut rumah sebagai tempat dilahirkan dan dibesarkan
- 22% menyebut rumah sebagai tempat tinggal saat ini
- 18% mengidentifikasi rumah sebagai tempat tinggal paling lama
- 15% menyebut rumah sebagai daerah asal keluarga besar
Di luar perbedaan definisi itu, psikolog mencatat bahwa banyak orang memikirkan rumah sebagai tempat sentral yang mewakili kenyamanan sekaligus kekacauan. Hal ini juga dipakai untuk menjelaskan mengapa, ketika diminta menggambar rumah, orang di berbagai belahan dunia cenderung menggambarnya tepat di tengah kertas.
Rumah sebagai pusat identitas dan ritual
Makna rumah juga tercermin dalam cara sejumlah komunitas memandang tempat tinggalnya. Antropolog Charles Hart dan Arnold Pilling, yang tinggal bersama orang Tiwi di Pulau Bathurst lepas pantai Australia Utara pada 1920-an, mencatat bahwa orang Tiwi menganggap pulau mereka sebagai tempat paling layak huni di dunia, sementara wilayah lain disebut sebagai “tanah orang mati”.
Sementara itu, orang Zuni di Barat Daya Amerika memandang rumah sebagai makhluk hidup—tempat membesarkan anak dan berkomunikasi dengan roh. Mereka memiliki ritual tahunan bernama Shalako untuk memberkati rumah, yang menjadi bagian dari perayaan solstice musim dingin di akhir tahun.
Dalam kerangka itu, pulang kampung di masa liburan dapat dipahami sebagai bentuk ritual modern: makan bersama keluarga, bertukar hadiah, bertemu teman lama, atau mengunjungi tempat yang menyimpan kenangan masa muda.
Mengapa pulang kampung terasa membahagiakan?
Ritual pulang kampung membantu menegaskan dan memperbarui posisi seseorang di dalam keluarga. Pertemuan langsung juga menjadi kunci untuk memperkuat relasi keluarga.
Pada akhirnya, rumah dipandang sebagai tempat di mana seseorang merasa lebih terkendali dan terarah dalam ruang dan waktu—sebuah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, sekaligus ikatan yang bertahan antara keluarga dan sahabat.

