Jakarta — Grup musik Rombongan Bodonk Koplo (RoBoKop) mengkritik tren pembuatan lagu menggunakan akal imitasi atau Artificial Intelligence (AI). Mereka menilai karya musik seharusnya lahir dari proses kreatif manusia, bukan sepenuhnya dihasilkan oleh teknologi.
Personel RoBoKop, Clarisya Putri Maula (Acica), mempertanyakan alasan penggunaan AI untuk membuat lagu ketika musisi dan pencipta lagu masih banyak. “Kenapa enggak pakai suara sendiri dan karya sendiri. Manusianya kan banyak,” ujar Acica saat ditemui di kawasan Rawasari, Jakarta, Rabu.
Menurut Acica, teknologi AI lebih tepat digunakan sebagai alat bantu, misalnya untuk membuat demo lagu atau memendekkan materi sebagai referensi melodi dan lirik yang akan ditunjukkan kepada produser. Namun, ia menegaskan AI sebaiknya tidak dijadikan karya akhir. “Menurut aku, AI itu bagusnya sebagai pembantu aja misalkan untuk bikin demo lagu, tapi jangan dijadikan sebuah karya,” katanya.
Pandangan itu diamini Galih Fajar (Galgadun). Ia secara tegas menolak tren lagu yang dibuat dengan AI, terutama jika digunakan untuk kepentingan komersial. “Untuk komersil apalagi ya, enggak ya,” ujarnya.
Galgadun menilai karya AI saat ini masih cenderung bersifat “template” dan belum mampu berinovasi untuk menyaingi lagu yang dibuat musisi. Ia menyebut AI baru sebatas meniru pola lirik sederhana. “AI itu sudah ‘template’ banget sekarang,” katanya.
RoBoKop pun memilih mempertahankan karakter lirik yang ringan dan sederhana, tetapi tetap ditulis sendiri. Menurut Galgadun, lirik yang sederhana dapat menghadirkan kesan mendalam ketika dibangun dari perasaan yang murni. “Ya walaupun kita juga liriknya yang ringan-ringan ya, tapi ya ‘feel’-nya beda lah,” ujarnya.
Dalam proses kreatif, seluruh personel—Acica, Erika Putri, Galih Fajar (Galgadun), dan Alfriki Azhari (Bang Bodonk)—terlibat penuh menyusun lagu secara manual. Proses itu dilakukan saat mereka berkumpul di satu tempat, menulis lirik bersama-sama, sekaligus menentukan beat musik sejak awal. Produser baru dilibatkan setelah konsep musik disepakati bersama, sehingga mereka merasa memiliki kendali lebih besar atas arah musikal lagu.
Cerita yang diangkat dalam lagu-lagu RoBoKop juga bersumber dari peristiwa nyata di sekitar mereka hingga pengalaman hidup para anggota. Dari situ, lagu yang dihasilkan memuat beragam perspektif, baik sebagai pihak yang terdampak maupun sebagai pelaku dalam situasi sosial percintaan. “Karena ini adalah experience masing-masing ya. Ada yang menjadi korban, ada yang menjadi pelaku ternyata di sini,” ujar Bang Bodonk.
Selain itu, RoBoKop menyesuaikan diksi lirik dengan istilah sehari-hari yang akrab lintas generasi dan kerap muncul di media sosial. Galgadun mengatakan lirik mereka tidak dibuat baku karena ada kebutuhan mengekspresikan kata-kata slang dan sisipan bahasa Inggris untuk memperkaya nuansa. “Jadi, lirik kita tuh enggak baku. Ya, karena ada kata-kata ‘slang’ yang perlu diekspresikan, terus di liriknya juga kita ada bahasa Inggris yang ‘fine sh*t’ untuk memperkaya instrumen dan nuansa musik yang dihasilkan terasa lebih segar bagi pendengar,” ujarnya.