Angklung selama ini dikenal sebagai alat musik tradisional Indonesia yang mendunia. Di balik bunyi khas bambunya, angklung juga menyimpan nilai kebersamaan yang kuat dalam kehidupan masyarakat.
Nilai tersebut kembali disorot dalam Bandung Kota Angklung Festival 2026 yang digelar di Balai Kota Bandung. Festival ini menghadirkan sekitar 500 musisi sebagai wujud kolaborasi budaya sekaligus upaya melestarikan warisan budaya dunia yang telah diakui UNESCO.
Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain, menegaskan angklung bukan sekadar alat musik tradisional. Menurutnya, angklung merupakan simbol kebersamaan yang mengandung nilai gotong royong, toleransi, dan harmoni.
Filosofi itu tercermin dari cara memainkan angklung yang membutuhkan kerja sama banyak orang. Setiap pemain biasanya memegang nada berbeda, sehingga sebuah lagu hanya dapat tercipta ketika seluruh pemain bekerja secara selaras.
Konsep tersebut mengajarkan bahwa perbedaan bukan hambatan untuk mencapai tujuan bersama. Keberagaman justru menjadi kekuatan ketika dipadukan dalam semangat persatuan dan saling menghargai.
Bandung Kota Angklung Festival 2026 juga menjadi ruang pertemuan antara seniman, komunitas, pemerintah, dan masyarakat. Melalui kegiatan ini, angklung tidak hanya dipertunjukkan sebagai kesenian, tetapi juga sebagai sarana memperkuat identitas budaya daerah.
Di tengah perkembangan teknologi dan budaya global yang semakin cepat, pelestarian angklung dinilai menghadapi tantangan tersendiri. Karena itu, berbagai festival dan kegiatan edukasi dipandang penting untuk memperkenalkan warisan budaya ini kepada generasi muda.
Dengan filosofi kebersamaan yang dimilikinya, angklung dinilai tetap relevan sebagai simbol persatuan. Nilai gotong royong, toleransi, dan harmoni yang terkandung di dalamnya disebut sebagai pesan yang terus hidup lintas generasi.