Banyak kenangan tentang Piala Dunia justru dipicu oleh lagu-lagu yang populer di telinga publik, meski tidak selalu berstatus sebagai lagu resmi FIFA. Fenomena ini kembali mengemuka menjelang Piala Dunia 2026, ketika melodi-melodi baru mulai bergema dari tiga negara tuan rumah: Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Setiap edisi Piala Dunia memiliki citra ikoniknya sendiri. Namun, bagi banyak penggemar, musik kerap menjadi pintu tercepat untuk kembali pada momen-momen tertentu—cukup lewat beberapa nada. Karena itulah, lagu-lagu resmi turnamen sering dianggap sebagai penanda emosional yang melekat pada ingatan kolektif tentang “musim panas sepak bola”.
Salah satu contoh paling kuat datang dari Piala Dunia 1990 di Italia. Turnamen tersebut ditandai oleh lagu “Un’estate Italiana” yang dibawakan Gianna Nannini dan Edoardo Bennato. Meski lebih dari tiga dekade telah berlalu, lagu ini masih dipandang banyak orang sebagai salah satu lagu kebangsaan Piala Dunia terbaik sepanjang masa, berkat melodi yang heroik sekaligus menyentuh.
Dalam ingatan publik, “Un’estate Italiana” bukan sekadar musik pengiring sebuah ajang olahraga. Lagu itu menjadi suara yang membangkitkan kembali kenangan tentang salah satu Piala Dunia yang dinilai sarat emosi, sekaligus menunjukkan bagaimana musik dapat melampaui fungsi promosi dan bertransformasi menjadi bagian dari sejarah turnamen.