Rofiqoh Darto Wahab, yang kerap disebut sebagai generasi pertama kasidah modern, menegaskan pandangannya bahwa musik gambus dan kasidah tidak semestinya dilekatkan sebagai “musik Islam”. Menurutnya, gambus adalah musik umum seperti pop, dangdut, maupun jenis musik lain, tanpa afiliasi pada satu agama tertentu.
Pernyataan itu ia sampaikan saat berbincang dengan Majalah HAI menjelang akhir 1983, dalam laporan yang terbit pada edisi 25 Oktober–1 November 1983. Saat itu, Rofiqoh dikenal luas sebagai penyanyi gambus dan kasidah yang populer, di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga dan pengajar mengaji.
Rofiqoh lahir di Pekalongan pada 10 April 1956 dan tumbuh di lingkungan yang agamis di Kranji, Kedungwuni. Ia berasal dari keluarga yang taat beragama. Ayahnya, Kiai Haji Munawir, sempat melarangnya bernyanyi ketika kecil karena kekhawatiran terhadap pandangan masyarakat. Namun, seiring waktu, ia tetap meniti karier hingga namanya dikenal sebagai salah satu penyanyi gambus yang menonjol di Indonesia.
Kariernya disebut berangkat dari prestasi sebagai juara provinsi MTQ di Jawa Tengah. Setelah diboyong suaminya, Darto Wahab, ke Jakarta, ia mulai lebih serius bernyanyi. Dalam sejumlah kesempatan ketika pulang ke Pekalongan dan mendapat undangan tampil, ia memilih muncul sebagai penyanyi kasidah, bukan penyanyi gambus, sebagai bentuk menjaga nama baik keluarga.
Di Jakarta, Rofiqoh bertemu A. Rahmat, pimpinan Orkes Gambus (OG) Al-Fata, saat proses rekaman lagu-lagu kasidah. Kerja sama itu berlanjut hingga ia kerap tampil diiringi OG Al-Fata. Ia juga menceritakan pembagian honor saat itu yang sudah ditentukan oleh label: 5 persen untuk penyanyi dan 10 persen untuk orkes pengiring.
Salah satu lagu yang lekat dengannya adalah “Hamawi Ya Mismis”. Menurut Darto Wahab, lagu itu sejak direkam pada 1966 tetap digemari dan penjualannya disebut mencapai 2 juta kaset melalui rekaman ulang yang terus dilakukan. Dalam hal pengelolaan pekerjaan dan bisnis, Rofiqoh menyebut urusannya ditangani oleh sang suami.
Rofiqoh juga menggambarkan masa tersibuknya banyak terjadi pada hari-hari besar Islam. Undangan tampil datang dari berbagai daerah. Ia mengaku berusaha memenuhi panggilan, terutama jika sudah terikat janji. Dalam satu pengalaman, ia pernah menghadapi kendala ketika jembatan menuju lokasi pertunjukan di wilayah Tasikmalaya putus, sehingga instrumen musik harus diangkut berjalan kaki, sementara rombongan masih harus melanjutkan perjalanan ke Serang untuk undangan berikutnya.
Aktivitas rekamannya tercatat sangat padat pada penghujung 1982 hingga sekitar April 1983. Dalam periode itu, bersama OG Al-Fata ia menghasilkan sedikitnya 11 kaset rekaman, kali ini bukan berbahasa Arab melainkan bahasa Indonesia dengan warna musik yang ia sebut “semi dangdut”. Deretan judul yang disebut meliputi Waspada I sampai V, Perdamaian I sampai IV, serta Galunggung II, IV, dan V. Dua kaset di antaranya bahkan dibuat seminggu sebelum ia melahirkan anak ketiganya pada awal 1983.
Rofiqoh mengungkap proses rekaman yang berjalan cepat karena sistem kerja yang praktis. Ia biasanya menerima kaset berisi iringan lagu dan teks syair tanpa notasi, lalu menghafal dan menyelaraskan vokalnya dengan mengandalkan improvisasi. Ia mengaku tidak dapat membaca notasi dan tidak menguasai alat musik. Karena itu, ia merasa kerepotan jika ada tambahan lagu mendadak yang baru diberikan saat sesi studio.
Ia juga menyebut bahwa dalam pembuatan lagu, nada-nada kerap diambil dari lagu gambus luar negeri—terutama dari Mesir—lalu dikombinasikan dan disesuaikan dengan musik gambus Indonesia. Ia membandingkannya dengan praktik di musik dangdut yang menurutnya banyak mengambil dari lagu-lagu India, sehingga proses produksi bisa lebih cepat.
Di antara lagu-lagu yang dibawakannya, “Galunggung” disebut sebagai yang memberinya keuntungan terbesar. Rekaman Galunggung II, yang disebut meledak di pasaran, dikatakan cepat kembali modal, meski ia tidak menyebut angka penjualan.
Di luar panggung, Rofiqoh juga aktif mengajar mengaji, kasidah, dan pengetahuan agama. Ia menyebut murid pengajiannya terdiri dari sekitar 50 anak-anak dan 50 remaja, serta mengajar Al-Qur’an dan ilmu agama untuk ibu-ibu rumah tangga. Dalam perannya itu, ia juga kerap menjadi tempat curhat berbagai persoalan keluarga dan berupaya memberi nasihat maupun solusi.
Dalam pandangannya tentang gambus, Rofiqoh menolak anggapan bahwa jenis musik tersebut identik dengan Islam. Ia menilai label “musik Islam” muncul karena beberapa hal, seperti penggunaan bahasa Arab dan mayoritas pendengarnya yang banyak berasal dari kalangan muslim. Namun, ia menekankan bahwa bahasa Arab tidak otomatis menunjukkan agama tertentu, dan ia menyebut gambus berasal dari Timur Tengah serta telah ada sejak sebelum Islam berkembang pesat. Ia juga menyoroti minimnya data dan literatur di Indonesia mengenai sejarah, perkembangan, dan prospek musik gambus.
Rofiqoh mulai mengalami sakit-sakitan sejak 2019 dan beberapa kali dirawat di rumah sakit. Setelah menjalani masa panjang melawan sakit, ia meninggal dunia pada 12 Juli 2023 di RS Haji Pondok Gede, Bekasi. Jenazahnya dimakamkan di Kranji, Kedungwuni, Pekalongan, sehari kemudian. Kontribusinya disebut mendapat pengakuan dari komunitas keagamaan dan budaya lokal atas perannya sebagai pelopor kasidah, serta tercatat dalam liputan ensiklopedis mengenai musik religi Indonesia dan sejarah kebudayaan Islam populer di Tanah Air.