Sebuah riset menyoroti bahwa upaya untuk selalu tampak bahagia justru dapat berdampak sebaliknya. Peneliti menjelaskan, ketika seseorang memberi tekanan besar pada diri sendiri untuk merasa bahagia—atau meyakini orang lain di sekitarnya tampak lebih emosional dalam menghadapi pengalaman negatif—mereka cenderung lebih sering mengirim “sinyal kegagalan” kepada diri sendiri. Kondisi ini dapat berujung pada sikap depresif.
Temuan tersebut tidak dimaknai sebagai “kutukan” bagi orang yang berusaha bahagia. Sebaliknya, riset ini menekankan pentingnya memahami dan menerima bahwa perasaan tidak bahagia terkadang merupakan hal yang normal, bahkan sehat.
Menurut Brock Bastian, manusia berevolusi untuk mengalami rangkaian emosi yang kompleks, dan sekitar setengahnya bersifat tidak menyenangkan. Ia menekankan bahwa emosi negatif bukan berarti kurang berharga atau mengurangi kualitas hidup.
Emosi negatif dan situasi stres bisa berperan
Studi terbaru juga menunjukkan bahwa mengalami emosi negatif pada akhirnya dapat meningkatkan kebahagiaan. Studi tersebut turut menemukan bahwa situasi yang membuat stres dapat membantu seseorang memproses kabar buruk.
Kegagalan sebagai bagian dari pembelajaran
Bastian menambahkan bahwa kegagalan dapat bernilai penting untuk pembelajaran dan pertumbuhan. Ia menyebut kegagalan sebagai faktor yang diperlukan dalam inovasi, pembelajaran, dan kemajuan.
Ia juga menegaskan, organisasi yang sukses memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari perjalanan menuju kesuksesan. Karena itu, yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk merespons kegagalan dengan baik.

