BERITA TERKINI
Riset: Hidup Sederhana secara Sukarela Terkait dengan Kebahagiaan dan Makna Hidup yang Lebih Tinggi

Riset: Hidup Sederhana secara Sukarela Terkait dengan Kebahagiaan dan Makna Hidup yang Lebih Tinggi

Kemewahan dan kekayaan kerap dipandang sebagai simbol keberhasilan sekaligus sumber kebahagiaan. Namun, temuan riset terbaru menunjukkan arah berbeda: orang yang memilih hidup sederhana secara sukarela justru melaporkan tingkat kebahagiaan dan kebermaknaan hidup yang lebih tinggi dibanding mereka yang mengejar materialisme.

Penelitian peer-reviewed yang dipimpin Profesor Rob Aitken dari University of Otago menemukan bahwa gaya hidup sederhana berkaitan dengan dua aspek kesejahteraan. Pertama, hedonic wellbeing, yang mencakup rasa puas dan perasaan menyenangkan. Kedua, eudaimonic wellbeing, yang berkaitan dengan tujuan, pertumbuhan diri, dan hidup selaras dengan nilai-nilai pribadi.

Dalam riset tersebut, partisipan mengisi kuesioner terstandardisasi untuk menilai sikap dan perilaku terkait kesederhanaan. Kesederhanaan yang dimaksud bukan identik dengan kemiskinan, melainkan pilihan praktis seperti membeli lebih sedikit, memperbaiki barang, berbagi alat, serta memilih produk lokal ketika memungkinkan. Hasilnya, kelompok yang menjalani kesederhanaan secara sukarela cenderung mencatat skor lebih tinggi pada kebahagiaan maupun makna hidup.

Profesor Aitken menekankan bahwa kebahagiaan tidak semata muncul dari pengurangan kepemilikan material. Menurutnya, faktor pentingnya adalah terpenuhinya kebutuhan psikologis dan emosional melalui hubungan, koneksi sosial, keterlibatan komunitas, serta rasa hidup yang bermakna.

Temuan ini berseberangan dengan pesan pemasaran sehari-hari yang kerap menyamakan kebahagiaan dengan peningkatan pendapatan dan akumulasi barang. Dalam praktiknya, pergeseran dari konsumsi menuju kesederhanaan disebut dapat membebaskan waktu, perhatian, dan uang untuk hal-hal yang dinilai lebih berarti, seperti memperkuat relasi, mempelajari keterampilan baru, atau berkontribusi pada komunitas.

Riset juga menyoroti bahwa perubahan gaya hidup tersebut sering diikuti rutinitas yang meningkatkan interaksi sosial, kebiasaan saling membantu, dan keterlibatan dalam masyarakat. Pola ini dinilai memperkuat eudaimonic wellbeing—rasa bahwa hidup dijalani dengan tujuan dan arti.

Dukungan terhadap kesimpulan ini juga datang dari penelitian lain. Sebuah meta-analisis besar yang mencakup 259 sampel menemukan nilai-nilai materialistis berkorelasi dengan penurunan kesejahteraan pribadi, termasuk kepuasan hidup dan vitalitas. Sebaliknya, ketika fokus pada harta berkurang dan perhatian dialihkan pada hubungan serta kompetensi, tingkat kebahagiaan cenderung meningkat.

Para peneliti menggarisbawahi bahwa uang dapat membantu mengurangi stres ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi. Namun, pengejaran status dan kemewahan tanpa henti tidak otomatis menghasilkan kebahagiaan yang lebih dalam.

Penelitian ini tidak menawarkan resep tunggal tentang cara hidup sederhana. Setiap orang dapat menemukan bentuk yang sesuai dengan kondisi dan nilai masing-masing. Contoh yang disebut antara lain berkebun untuk memenuhi kebutuhan sendiri atau komunitas, berbagi sumber daya seperti air, serta berupaya mengandalkan barang lokal—baik pakaian maupun makanan. Aktivitas semacam ini dinilai dapat mengurangi konsumsi sekaligus meningkatkan interaksi sosial dan rasa kontribusi.

Selain aspek kesejahteraan, riset tersebut juga mengaitkan kesederhanaan dengan dampak lingkungan. Data menunjukkan bahwa pada periode 2000–2019, konsumsi material domestik global meningkat 66% menjadi 95,1 miliar ton. Proses ekstraksi, distribusi, dan pembuangan material disebut mendorong polusi, emisi, serta hilangnya keanekaragaman hayati. Dalam konteks ini, konsumsi yang lebih sedikit dapat membantu mengurangi tekanan pada ekosistem.

Meski demikian, tanggung jawab tidak hanya berada pada individu. Kebijakan dan praktik bisnis—mulai dari desain produk, akses perbaikan, hingga model layanan—juga memengaruhi pilihan konsumen dan peluang untuk menjalani gaya hidup yang lebih sederhana.

Para peneliti mencatat bahwa temuan ini masih perlu diperluas melalui data lintas negara dan pengamatan jangka panjang. Namun, arah utamanya dinilai jelas: kebahagiaan tidak semata ditentukan oleh konsumsi berlebihan, melainkan oleh koneksi sosial, kompetensi, dan kehidupan yang bermakna. Dalam ringkasan yang dikutip dari Journal of Macromarketing, orang cenderung lebih bahagia ketika konsumsi berada di “kursi belakang” dan keseharian diisi oleh komunitas, kontribusi, serta tujuan yang jelas.