Film Ride On menandai kembalinya Jackie Chan ke layar lebar setelah vakum selama dua tahun. Meski tetap menyajikan aksi yang lekat dengan namanya, film ini menghadirkan nuansa berbeda dibandingkan kebanyakan karya Jackie Chan yang identik dengan komedi-aksi. Ride On justru menempatkan drama sebagai fokus utama, dengan aksi sebagai penguat cerita.
Dalam film ini, Jackie Chan memerankan Master Luo, seorang pemeran pengganti yang pernah dikenal legendaris. Namun seiring waktu, kariernya meredup dan rumah produksi besar yang dahulu menyewanya bangkrut. Situasi itu membuat properti yang ia gunakan, termasuk kuda bernama Red Hare, terancam dilelang karena keduanya merupakan milik rumah produksi tersebut.
Di tengah tekanan hidupnya, Luo kembali dipertemukan dengan anak perempuannya yang sudah lama tidak berkomunikasi dengannya. Hubungan keduanya yang semula renggang perlahan diperbaiki melalui rangkaian peristiwa yang menjadi inti cerita.
Alih-alih terjebak dalam drama yang bertele-tele, film ini digambarkan meramu konflik ayah dan anak secara ringkas dan tepat sasaran. Jarak emosional antara Luo dan putrinya ditunjukkan melalui sikap sang anak yang enggan membantu pada awalnya, serta kilasan masa lalu yang memperlihatkan luka keluarga. Adegan-adegan tersebut dipakai untuk membangun pemahaman penonton tanpa menyita waktu terlalu panjang.
Selain relasi ayah dan anak, Ride On juga menyoroti hubungan antara Luo dan kudanya, Red Hare. Isu ini hadir berdampingan dengan konflik keluarga tanpa saling menutupi, dan menjadi lapisan emosional tambahan di dalam cerita.
Film ini turut mengeksplorasi profesi stuntman yang berisiko tinggi. Bahaya kerja dan tuntutan profesional ditampilkan sebagai bagian dari realitas di balik aksi yang terlihat di layar. Dalam konteks tersebut, Ride On juga memunculkan pertanyaan tentang kerja keras yang berlebihan dan pengorbanan yang menyertainya, tidak hanya bagi pemeran pengganti, tetapi juga bagi siapa pun yang terlalu larut dalam pekerjaan.
Dari sisi karakter, Master Luo digambarkan sebagai sosok yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: piawai bertarung, tetapi rapuh dalam urusan hati dan kesulitan secara finansial. Jackie Chan disebut mampu menampilkan kompleksitas itu melalui akting, riasan, dialog, dan ekspresi yang menekankan dilema serta kesedihan tokohnya.
Tokoh anak Luo, Xiao Bao, diperankan Haocun Liu yang menampilkan karakter perempuan yang rapuh sekaligus keras kepala dalam memandang masa depan dan komitmen. Sejumlah karakter pendukung—termasuk Mickey, pacar Bao, dan paman Bao—dihadirkan untuk mempertegas perbedaan kelas sosial yang ikut memengaruhi jarak antara Luo dan putrinya, meski Luo berusaha menyenangkan sang anak.
Ride On juga digambarkan sebagai ruang untuk memperlihatkan lanskap industri perfilman Tiongkok. Lokasi distrik perfilman dieksplorasi dengan beragam set, dari tradisional hingga modern, serta penggunaan warna dan pengambilan gambar yang menonjolkan dinamika dunia film sebagai latar kehidupan Master Luo. Sejumlah lokasi seperti pujasera, kafe, dan pengadilan turut muncul sebagai bagian dari gambaran keseharian.
Dari aspek audio-visual, sinematografi disebut menawan dan didukung musik pengiring yang memadukan unsur instrumen seperti kecapi dengan melodi bernuansa Barat, sehingga menciptakan suasana yang sesuai dengan kebutuhan adegan.
Film ini juga memuat kilasan proses syuting dan cuplikan dari film-film lama Jackie Chan, termasuk momen aksi ekstrem yang menjadi ciri khasnya. Di sisi lain, ada gambaran tentang beratnya pekerjaan di balik layar dan bagaimana produksi film aksi menuntut pengorbanan waktu, energi, serta risiko fisik dan mental.
Meski disebut memiliki beberapa bagian yang terasa melompat serta humor yang dinilai kurang tepat penempatannya, Ride On tetap diposisikan sebagai comeback yang layak disimak. Dengan identitas sebagai drama-aksi, film ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari formula komedi-aksi Jackie Chan, sekaligus menjadi semacam selebrasi yang manis atas kiprah sang bintang dan dunia film aksi Tiongkok.

