BERITA TERKINI
Review Film Pangku: Debut Reza Rahadian yang Mengandalkan Kekuatan Visual dan Cerita

Review Film Pangku: Debut Reza Rahadian yang Mengandalkan Kekuatan Visual dan Cerita

Film Pangku atau On Your Lap menandai debut Reza Rahadian sebagai sutradara sekaligus penulis naskah. Dalam durasi kurang dari dua jam, film ini menonjolkan cara bertutur yang mengandalkan kekuatan gambar dan ekspresi, sejalan dengan gagasan bahwa satu gambar dapat menyampaikan banyak makna.

Cerita Pangku disebut terinspirasi dari pengalaman pribadi Reza, termasuk pertemuannya dengan tradisi kopi pangku di Pantura Jawa dan latar sebagai anak laki-laki yang dibesarkan oleh ibu tunggal. Bersama Felix K Nesi, Reza menghadirkan kisah yang terasa dibangun melalui riset, dengan detail yang tercermin dalam adegan-adegan dan struktur babak film.

Film ini tidak hanya menyoroti perjuangan seorang perempuan membesarkan anak seorang diri. Pangku juga memuat isu gender dan ekonomi berbasis gender, tradisi seni budaya dan kuliner, dinamika sosial-kultural masyarakat pesisir dan marjinal, hingga ketimpangan. Meski memuat banyak lapisan tema, film tetap berusaha menjaga ritme agar tidak terasa berat. Durasi sekitar satu jam 40 menit disebut berjalan tanpa terasa, menjadi pembeda dari stigma film “berbobot” atau “festival” yang kerap dianggap membosankan.

Pilihan penceritaan minimal dialog menjadi salah satu ciri yang menonjol. Pesan lebih banyak disampaikan lewat komunikasi nonverbal: mulai dari set dan tata rias yang dibuat realistis, latar suara yang menguatkan ruang cerita, hingga arahan akting melalui ekspresi tubuh. Penggunaan medium shot dan close-up turut mempertegas cara film menempatkan gestur dan raut wajah sebagai perangkat utama penyampai emosi.

Di sisi lain, gaya dialog yang ekonomis itu dapat menjadi tantangan bagi sebagian penonton. Sejumlah bagian cerita berpotensi terasa mengecoh atau membingungkan, meski kemudian memperoleh jawaban di bagian akhir. Film juga meramu berbagai nuansa—drama, humor ringan, dan kejutan—sehingga menghadirkan rasa yang bergeser dari dokumenter sosial dan gender, drama keluarga, drama romansa, hingga sesekali beraroma telenovela.

Bagian penutup disebut menjadi salah satu kekuatan film, termasuk dukungan pilihan musik pengiring dari Iwan Fals. Dari sisi akting, deretan pemain seperti Christine Hakim, Fedi Nuril, Claresta Taufan, Shakeel Fauzi, serta Reza Chandika dinilai tampil meyakinkan dalam membawakan karakter masing-masing.

Aspek teknis juga mendapat sorotan melalui sinematografi yang tidak berlebihan namun tetap rapi dan estetik, tanpa banyak filter atau gaya visual yang dianggap sekadar pamer teknik. Nama-nama seperti Gay Hian Teoh (sinematografer), Ricky Lionardi (komposer), Ahmad Fesdi Anggoro (editor), serta tim musik, sound, produksi, tata rias, dan kostum disebut berkontribusi menjaga standar presentasi film.

Secara keseluruhan, Pangku diposisikan sebagai film Indonesia yang terasa nyata dan dekat, sekaligus berupaya menjadi representasi budaya masyarakat yang dipotretnya. Film ini juga mengukuhkan Reza Rahadian tidak hanya sebagai aktor, tetapi sebagai pembuat film yang dinilai memiliki potensi kuat lewat karya debutnya.