BERITA TERKINI
Retret Membaca Jadi Tren di Inggris, Gabungkan Klub Buku dan Liburan Bertema Sastra

Retret Membaca Jadi Tren di Inggris, Gabungkan Klub Buku dan Liburan Bertema Sastra

Tren liburan bertema buku tengah berkembang di Inggris. Aktivitas ini dikenal sebagai retret membaca, yakni perjalanan yang memadukan waktu membaca dengan pengalaman berada di lokasi tertentu yang berkaitan dengan buku atau suasana yang mendukung kegiatan membaca.

Konsep tersebut pertama kali digagas oleh Books in Places, sebuah klub buku yang mempertemukan pencinta buku di berbagai wilayah Inggris untuk berkumpul dan membaca. Dalam praktiknya, retret membaca tidak sekadar menghabiskan waktu dengan buku, tetapi juga menawarkan pengalaman yang memadukan unsur liburan, kegiatan klub buku, dan pendalaman budaya.

Salah satu peserta, Lyn Margerison, mengaku tertarik setelah melihat iklan yang menampilkan sampul buku favoritnya di atas meja dengan segelas anggur, berlatar sebuah piazza di Florence. Iklan itu menanyakan apakah seseorang suka membaca buku di tempat-tempat yang terkait dengan cerita atau latar buku tersebut.

Sejak itu, Margerison mengikuti sejumlah retret membaca, termasuk perjalanan dari Dorset ke Florence, Budapest, dan beberapa lokasi lain. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai kombinasi antara buku dan perjalanan. Margerison juga mengaku senang membaca buku yang berkisah tentang tempat yang ia kunjungi. Baginya, berada di lokasi yang menjadi latar cerita membuat pengalaman membaca terasa lebih hidup, seolah ia ikut masuk ke dalam kisah selama beberapa hari.

Selain pengalaman membaca di tempat yang relevan, ia menilai retret membaca memberi kesempatan bertemu orang-orang dengan minat serupa. Ia mengatakan biasanya pulang dengan semangat baru untuk membaca dan bepergian, sekaligus daftar bacaan yang bertambah panjang.

Ide perjalanan sastra melalui Books in Places disebut mulai digagas Paul Wright pada 2023. Komunitas ini awalnya dibentuk sebagai sarana bersantai bersama anggota kelompok bukunya yang berbasis di Inggris. Seiring berkembangnya minat, program yang ditawarkan meluas menjadi perjalanan akhir pekan di Inggris serta retret yang lebih panjang ke sejumlah negara, seperti Portugal, Kreta, Mesir, dan Italia.

Wright menekankan bahwa lokasi menjadi inti dari pengalaman tersebut. Menurutnya, menjelajahi tempat tertentu dapat memperdalam pemahaman atas sebuah cerita dan membuat adegan di dalam buku terasa lebih nyata ketika pembaca berjalan di gang yang sama, mencicipi makanan yang sama, atau merasakan suasana yang serupa dengan yang digambarkan dalam kisah.

Dalam sejumlah perjalanan, Wright mengajak peserta mengunjungi lokasi yang terkait dengan karya sastra, seperti To Kill a Mockingbird karya Harper Lee di Monroeville, Alabama, atau tempat-tempat di Jamaika yang dikaitkan dengan Ian Fleming saat menulis Dr. No. Ia juga pernah mengadakan retret untuk menjelajahi reruntuhan Spinalonga di Kreta yang menginspirasi novel The Island karya Victoria Hislop.

Sepanjang 2024, Wright disebut telah menggelar tujuh perjalanan retret membaca. Pada tahun ini, ia menawarkan sekitar 25 perjalanan yang disebut habis terjual dalam waktu 24 jam setelah diumumkan.

Di sisi lain, tren ini juga dipandang memiliki potensi ekonomi bagi sektor perjalanan. Mesin pencari perjalanan KAYAK, melalui survei pada 2025, melaporkan hampir separuh wisatawan di Inggris memilih destinasi berdasarkan kecocokannya dengan buku yang sedang dibaca. Angka itu disebut meningkat menjadi 60 persen di kalangan milenial, yang memandang liburan bukan hanya untuk beristirahat, tetapi juga sebagai bentuk investasi pada diri sendiri.

Perusahaan riset pasar Future Market melaporkan nilai sektor pariwisata sastra secara keseluruhan mencapai 2,4 miliar dollar AS pada 2024. Mengutip Travel and Tour, jika tren berlanjut, nilainya diproyeksikan meningkat menjadi 3,3 miliar dollar AS pada 2034.

Retret membaca dipandang sebagai bagian dari kebangkitan tren sastra yang ditopang oleh meningkatnya popularitas kelompok buku, rekomendasi di BookTok, serta menjamurnya festival sastra. Pembaca disebut tidak lagi puas membaca di tepi kolam renang semata, melainkan menginginkan ritual membaca yang membuka cara pandang baru terhadap dunia.

Beberapa agenda retret buku bahkan mengajak pelancong mengarungi Sungai Nil sambil membaca Death on the Nile karya Agatha Christie, menyusuri jalanan St Malo sambil membahas All the Light We Cannot See karya Anthony Doerr, hingga menelusuri jejak perburuan fosil Mary Anning di Lyme Regis melalui Remarkable Creatures karya Tracy Chevalier.

Gagasan ini sejalan dengan kutipan penulis Jeanette Winterson yang menyebut buku seperti pintu; ketika pintu itu terbuka, dunia baru menanti. Dalam pengertian tersebut, retret membaca dimaknai sebagai langkah memasuki “pintu” menuju pengalaman baru, termasuk pertemuan dengan orang-orang baru dan perspektif yang berbeda.