Sebuah kabar tentang buku puisi sempat menghebohkan pada Selasa, 28 Juli 2015. Sejumlah media memberitakan bahwa buku puisi esai Denny JA berjudul Fang Yin’s Handkerchief (Sapu Tangan Fang Yin) menjadi best seller di Amazon.com dan berada di peringkat pertama kategori puisi dunia di Kindle Store. Berita itu menyorot satu hal yang dianggap tidak lazim: buku yang menempati posisi tersebut disebut sebagai “puisi esai”.
Pada masa itu, istilah “puisi esai” belum tercatat di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun situasinya berubah. Dalam KBBI, “Puisi Esai” kini dicantumkan dengan definisi: ragam sastra berisi pesan sosial dan moral melalui kata sederhana dan pola tertulis berbait-bait, berupa fakta, fiksi, dan catatan kaki.
Menurut uraian dalam naskah yang ditulis Agus R Sarjono, istilah tersebut mulai dikenal sejak 2012, ketika Denny JA menerbitkan buku Atas Nama Cinta dan memberi label “puisi esai” pada karya-karyanya. Dalam rentang sekitar delapan tahun sejak kemunculannya, istilah itu kemudian mendapat pengakuan resmi melalui pencantuman di KBBI.
Genre baru, penyebaran luas, dan alih wahana
Puisi esai, terutama karya Denny JA, digambarkan sebagai salah satu bentuk puisi yang paling banyak dialihwahanakan di Indonesia. Alih wahana itu berlangsung sejak awal kemunculannya, tidak lama setelah terbitnya Atas Nama Cinta (2012), melalui pembacaan dramatik yang melibatkan unsur multimedia, perekaman video, dan penyebaran daring.
Sejumlah tokoh dikenal ikut terlibat dalam pembacaan dramatik karya-karya dari Atas Nama Cinta, antara lain:
- Putu Wijaya dan Teater Mandiri membawakan “Sapu Tangan Fang Yin”.
- Putu Wijaya dan Niniek L Karim membawakan “Bunga Kering Perpisahan”.
- Putu Wijaya dan Sutardji Calzoum Bachri membawakan “Minah Tetap Digantung”.
- Fatin Hamama dan Sujiwo Tejo membawakan “Romi dan Yuli dari Cikeusik”.
Selain itu, “Cinta Terlarang Batman dan Robin” dibuat film pendek dengan sutradara Qurrota ‘Ayun. Sejumlah puisi esai lain dari buku tersebut juga difilmkan oleh sutradara berbeda-beda, di antaranya:
- “Sapu Tangan Fang Yin” (sutradara Karin Bintaro).
- “Romi dan Yuli dari Cikeusik” (sutradara Indra Kobutz).
- “Minah Tetap Dipancung” (sutradara Indra Kobutz).
- “Cinta Terlarang Batman dan Robin” difilmkan dengan judul “Cinta yang Dirahasiakan” (sutradara Rahabi MA).
- “Bunga Kering Perpisahan” (sutradara Emil Heradi).
Naskah tersebut juga menyebut bahwa karya-karya yang telah difilmkan dan dibuat video klipnya digunakan dalam berbagai kegiatan, termasuk pertemuan korban tragedi kekerasan Mei 1998, peringatan Hari Lahir Pancasila di Taman Ismail Marzuki, serta momen Hari Buruh yang memperingati kematian Ruyati, TKI yang dipancung di Arab Saudi. Di luar film dan pembacaan dramatik, Atas Nama Cinta juga dialihwahanakan ke bentuk lain seperti lukisan, foto, dan musikalisasi.
Kolaborasi film dan tema antidiskriminasi
Puisi esai juga disebut diangkat menjadi film oleh sutradara Hanung Bramantyo. Lima film bertema antidiskriminasi hasil kolaborasi tersebut diputar dalam Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) VIII di Yogyakarta, pada sesi Spesial Program: Film for Social Movement di Teater Budaya Yogyakarta, Kamis (5/12) pukul 15.00–18.00 WIB.
Kelima film itu menggarap puisi esai dalam buku Atas Nama Cinta:
- “Sapu Tangan Fang Yin”
- “Romi dan Juli dari Cikeusik”
- “Cinta Terlarang Batman dan Robin”
- “Bunga Kering Perpisahan”
- “Minah Tetap Dipancung”
Dalam naskah, film-film itu disebut telah diputar di sejumlah kegiatan gerakan sosial dan budaya di Jakarta serta kota-kota besar lain, dalam rangka kampanye “Indonesia Tanpa Diskriminasi” yang digagas Yayasan Denny JA untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi. Tema filmnya sejalan dengan puisi esai yang mengangkat beragam bentuk diskriminasi.
Ekspansi penulisan dan lomba puisi esai
Setelah Atas Nama Cinta, naskah tersebut menyebut terbit sejumlah buku puisi esai lain yang ditulis aktivis, cendekiawan, dan kalangan profesional. Lomba Menulis Puisi Esai turut mendorong genre ini semakin dikenal, mempertemukan sastrawan, aktivis, profesional, dan akademisi dalam satu wadah ekspresi.
Disebut pula adanya kegiatan “Penyair Kondang Menulis Puisi Esai” yang digerakkan penyair Fatin Hamama. Dalam perkembangan berikutnya, terbit 34 buku berisi 176 puisi esai karya penulis dari Aceh hingga Papua. Dari jumlah itu, 34 puisi esai disebut akan dijadikan 34 film yang memotret dunia batin Indonesia dari Aceh sampai Papua.
Naskah itu juga menggambarkan perluasan puisi esai ke negara-negara tetangga, termasuk Malaysia, Brunei, Singapura, dan Thailand, baik dalam bentuk penulisan maupun pembicaraan.
Buku-buku lanjutan dan adaptasi animasi
Denny JA, menurut naskah tersebut, menerbitkan buku puisi esai lain setelah Atas Nama Cinta, yakni Kutunggu Di Setiap Kamisan (2015), Roti Untuk Hati (2016), dan Jiwa Yang Berzikir (2018). Karya-karya ini disebut telah dialihwahanakan ke film animasi, dan sebagian juga dalam bentuk pembacaan dramatik.
Alih wahana ke bentuk komik atau graphic poem juga disebut dilakukan. Buku Kutunggu di Setiap Kamisan digambarkan tampil dengan format visual kuat: tiap halaman berisi sebait puisi esai dan gambar yang hampir memenuhi halaman. Dalam lomba vlog yang mengulas puisi esai, buku itu disebut menjadi pilihan yang paling banyak diambil peserta dibanding tiga buku lainnya.
Untuk Roti untuk Hati, naskah memuat daftar sejumlah judul puisi esai yang dibuat versi film animasi, antara lain “Burung Trilili – Bertengkar untuk Persepsi”, “Naga Seribu Wajah – Khayalan Menjadi Pegangan”, “Balada Wahab dan Wahib – Islam vs Islam”, hingga “Ustad Yang Gay – Nature vs Nurture”. Film animasi ini disebut diisi suaranya oleh Monica Anggi Puspita dan Lili Sudraba, dengan komposisi video dan editing oleh Diky Permana, ilustrasi animasi oleh Hubton Indonesia, serta musik oleh Iqbal CK.
Puisi esai dalam Jiwa yang Berdzikir juga disebut dialihwahanakan ke animasi, termasuk “Bertahanlah Sejengkal Lagi”, “Berburu Bahagia”, “Cinta Tuhan Semata”, dan judul-judul lain. Selain itu, disebut pula sejumlah puisi esai lepas yang dianimasikan, seperti “Where Did the Activists Go”, “Tears of Rohingya”, “Kakak Aku Dikarantina Di Masjid”, serta “Papua Yang Tak Henti Mencintai Indonesia”.
Gagasan membawa puisi kembali ke ruang publik
Naskah Agus R Sarjono menguraikan bahwa dorongan utama gerakan puisi esai berangkat dari kegelisahan Denny JA: mengapa ruang publik memerlukan lebih banyak puisi, dan mengapa kehidupan sosial tidak semestinya hanya didominasi oleh kekuasaan politik serta angka-angka ekonomi. Ia melihat puisi kian tersingkir dari ruang publik, lalu mencari bentuk yang dianggap lebih mudah memasyarakat dan kompatibel dengan gagasan “Indonesia Tanpa Diskriminasi”.
Tiga landasan yang disebut memengaruhi pilihan itu adalah kutipan dari John F. Kennedy mengenai peran puisi sebagai pengingat keterbatasan manusia di tengah kekuasaan; pandangan Robert Frost tentang puisi sebagai gairah yang dirumuskan menjadi pikiran lalu menemukan kata; serta ajakan Jalaluddin Rumi untuk mengekspresikan diri tanpa terlalu menghiraukan penilaian orang.
Salah satu gagasan yang ditekankan adalah pelibatan penulis dari luar kategori “penyair karier”—aktivis, pengajar, wartawan, dan profesi lain—untuk ikut menulis puisi. Dalam naskah, pendekatan ini digambarkan sebagai kebalikan dari pandangan eksklusif yang membatasi kepenulisan puisi pada kalangan tertentu.
Masuk ke panggung publik dan gelombang kontroversi
Naskah tersebut memuat sejumlah contoh puisi esai yang masuk ke ruang publik. Di antaranya, pada 10 Juni 2012, sedikitnya 50 lembaga swadaya masyarakat disebut menjadi panitia Sepekan Tribute untuk Korban Kekerasan Agama di Indonesia di Taman Ismail Marzuki, dan pada acara puncaknya diputar film yang diangkat dari puisi esai Denny JA dengan sutradara Hanung Bramantyo. Disebut pula pemutaran video puisi esai sebagai puncak acara lomba sastra antar SLTP dan SLTA se-Provinsi Banten.
Contoh lain yang dicatat adalah Panglima TNI yang membacakan kutipan puisi “Bukan Kami Punya” Denny JA di sejumlah panggung politik, termasuk Rapimnas Partai Golkar 2017, yang kemudian disebut viral dan menjadi materi pemberitaan serta talk show.
Di sisi lain, klaim puisi esai sebagai genre baru juga memicu kontroversi. Kritik dan hujatan di media sosial disebut meningkat, terutama setelah nama Denny JA termuat dalam buku 33 Tokoh Sastra paling Berpengaruh di Indonesia (2014). Naskah ini menyebut Denny JA merespons kritik-kritik tersebut melalui sejumlah tulisan yang membahas relasi puisi, fenomena sosial, dan era internet.
Penerimaan di luar Indonesia dan penghargaan di ASEAN
Naskah juga menyinggung penerimaan yang dinilai lebih positif di negara serantau. Salah satu yang dikutip adalah pernyataan sastrawan Malaysia penerima SEA Write Award 2015, Jasni Matlani, yang menilai puisi esai Denny JA menghadirkan bentuk pengucapan yang mudah dan komunikatif, serta tidak menjadikan kesusastraan sebagai ruang eksklusif.
Selain itu, tulisan Robert John di The Huffington Post tentang buku puisi esai Denny JA Roti untuk Hati turut dikutip, antara lain mengenai karakter puisi esai yang memadukan unsur esai, plot, riset, catatan kaki, hingga gagasan sosial.
Pada 11 Februari 2020, menurut naskah tersebut, Presiden Badan Bahasa dan Sastra Sabah, Datuk Jasni Matlani, melalui surat resmi mengabarkan bahwa lembaganya memberikan penghargaan kepada Denny JA berupa hadiah “Sastra Kemanusian dan Diplomasi ASEAN”. Penghargaan itu diberikan atas peran Denny JA dalam melahirkan dan mempopulerkan puisi esai hingga tingkat ASEAN, sekaligus memperluas fungsi puisi melampaui peran tradisionalnya.
Artikel ini merujuk pada naskah yang disebut sebagai prolog buku Agus R Sarjono berjudul Yang Bukan Penyair Boleh Ambil Bagian: Gerakan Puisi Esai Denny JA.

